Judul : Esok Jilbab Kita Dirayakan: Muslimah yang Merdeka Tanpa Menindas yang Berbeda
Penulis : Kalis Mardiasih
Tahu Terbit : 2025
Halaman : vi + 180
Penerbit : Buku Mojok
Tsaqafah.id- Saya merasa relate saat di buku ini Kalis bilang dia bukan seorang amatir dalam berjilbab. Mungkin dua dekade lamanya, selembar kain ini sudah menempel di kepala saya tiap berada di ruang publik. Dan selama itu pulalah, saya mengalami betapa asumsi terhadap jilbab terus berubah.
Saat SMP, sebagai jilbaber satu-satunya di kelas, saya selalu dianggap paling alim, diberi tugas menjadi pembaca doa ketika upacara, diberi jabatan sebagai Seksi Agama, bahkan dipanggil ustadzah atau Bu Hajah. Padahal, saya juga hanya belajar agama dari pelajaran di kelas, sama seperti yang lain. Menginjak SMA, semakin banyak lagi teman yang berjilbab. Menariknya, jilbab di masa SMA sudah tidak saja melekat pada anak Rohis, tapi juga kelompok Paskibraka, Pecinta Alam, bahkan aktivitas pacaran. Hari ini, kalau saya ingat lagi teman-teman alumni SMA, muslimah yang tidak berjilbab bisa dihitung jari.
Jilbab kini sudah jadi mayoritas. Begitulah tulisan pembuka Kalis di buku ini ingin menyadarkan pembaca bahwa situasi hari ini sudah berubah dari beberapa dekade lalu. Jilbab yang mayoritas telah menyatu dengan berbagai realitas sosial seperti ekonomi, politik, hingga pop culture. Salah satu bab paling saya sukai di buku ini adalah ulasan Kalis ihwal film “Ipar Adalah Maut.” Sebagaimana saya menyaksikan saat SMA mereka yang berjilbab sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan relasi romantis dengan lawan jenis, di buku ini Kalis menulis, “Jilbab sudah boleh berselingkuh di layar lebar kita. Kini perempuan berjilbab tidak hanya boleh menjadi istri yang teraniaya dengan adegan banjir air mata di hamparan sajadah mengenakan mukena.” (hlm. 68)
Baca juga: Substansi Makna Menutup Aurat dan Berjilbab Menurut Syekh Ash-Shobuni
Transformasi jilbab di Indonesia memang menarik disimak dan Kalis memotretnya dengan sangat akurat. Buku ini mengurai realitas demi realitas jilbab di Indonesia. Jilbab di kepala politisi, pekerja rumah tangga, guru SD, muslimah bercadar, trendsetter fesyen, sampai konten kreator problematik. Dengan kejeliannya, Kalis ingin menunjukkan bahwa masing-masing kepala punya alasan dan konteks otentiknya untuk selembar kain penutup yang dikenakannya.
Selain mengupas keberagaman jilbab di Indonesia yang sangat kaya, buku ini juga menyoroti keresahan akan watak kelompok dominan, yaitu kecenderungan bersikap tiran. Belasan tahun lalu, tidak banyak pilihan jilbab untuk saya pakai ke sekolah. Hari ini, sekolah-sekolah negeri bahkan mewajibkan para siswi muslimah berjilbab. Kalau dua dekade lalu di kelas saya berjilbab seorang diri, hari ini muslimah tanpa jilbab jadi pilihan yang berani. Mereka kini dianggap tidak mengikuti norma umum, jadi cibiran tetangga, dan dicoret dari daftar menantu idaman.
Hari ini jilbab telah menjadi standar moral dan tanpanya, mereka rentan dianggap menyimpang. Padahal sama dengan jilbab, alasan tidak berjilbab pun sangat otentik dan khas bagi tiap-tiap individu. Tentu tidak tepat jika kemudian digeneralisasi dan diadili.
Buku ini sesuai nama penulisnya, benar-benar kalis. Ibarat adonan dia diuleni dengan baik. Padat, sebagai sebuah hasil pengamatan fenomena secara teliti, sekaligus kenyal, dengan bahasa yang tanpa tedeng aling-aling. Setiap kalimat Kalis di buku ini efektif. Ia tidak butuh banyak halaman untuk sampai pada substansi. Kita bisa merampungkan buku ini di sela waktu buka dan sahur.
Baca juga: Mengenal Seluk Beluk Jilbab
Pesan yang saya tangkap dari buku kelima Kalis ini adalah pada akhirnya, berjilbab atau tidak berjilbab mestilah berasal dari kemerdekaan pikiran. Bukan semata kepatuhan atas pendisiplinan tubuh perempuan atau bahkan stigma sumber fitnah. Pakaian seorang muslimah adalah cerminan agensi dirinya yang tidak saja sebagai makhluk seksual di mata pria yang meminjam istilah Kalis “ngacengan”, tapi juga sebagai makhluk intelektual dan spiritual.
Saya ingat, dulu ketika awal mengenakan jilbab, Bapak justru tidak terlalu mendukung. Buatnya saat itu jilbab tidak terlalu penting, yang penting sholat lima waktu. Meski ilmu dan amal tidak di atas rata-rata, saya bersikukuh. Dengan jilbab, saya sebagai remaja tetap bergaul dengan siapa saja, bolos sekolah, keluar malam untuk nonton teater, dan sebagainya.
Sampai saya lulus SMA, jilbab belum dianggap pantas ada di ijazah. Ada anjuran dari sekolah untuk memasang foto tanpa jilbab yang memperlihatkan daun telinga konon agar mudah mencari pekerjaan. Saya menolak mengikuti anjuran itu, dan Bapak mendukung saya. Jilbab barangkali bukan murni representasi kesalehan saya, Bapak pun tahu persis itu. Tapi jilbab adalah identitas yang saya pilih. Maka saya memilih memperjuangkannya. Jika jilbab pada awalnya adalah simbol perlawanan dan kemerdekaan, maka jilbab yang telah jadi dominan hari ini pun mestinya tidak menindas yang berbeda.
Merayakan jilbab berarti merayakan keberagaman muslimah.

