Nyala-Nyala di Tempat Ibadah

Nyala-Nyala di Tempat Ibadah

12 Maret 2025
349 dilihat
3 menits, 49 detik

Dalam tempat ibadah, selain eksistensi keberadaan dalam wujud fisik berupa bangunan, bukti historis ajaran, seringkali juga nyala api perlawanan.

Tsaqafah.id – Tempat ibadah seringkali dianggap sakral, harus diagungkan hanya untuk kebutuhan yang bersifat ukhrawi. Seolah-olah membicarakan persoalan dunia di dalam tempat ibadah haram hukumnya. 

Pada tahun 1991, Carlos Felipe Ximenes Belo, setelah diangkat menjadi uskup kembali ke Timor Leste. Saat itu masih wilayah Indonesia dengan suasana yang sedang memanas. Setelah dari Vatikan, uskup Belo merenungkan tentang Gereja sebagai titik temu antara politik dan budaya. 

Pada akhir tahun itu pembantaian Santa Cruz semakin menguji nyalinya, seorang pemuda pro kemerdekaan ditembak, seorang Timur yang bekerja dengan orang Indonesia ditikam sampai mati di Gereja San Motael. Keesokan harinya, misa berkabung diadakan, Belo memimpin misa itu. Namun berbarengan dengan itu, spanduk-spanduk kemerdekaan bermunculan.

Di sana ABRI dan polisi terus berpatroli, mereka menyamar. Kerusuhan tak bisa dibendung, provokasi disengaja. Orang-orang tak berdosa, di belakang batu nisan ikut menjadi korban, mereka dipukuli. Uskup Belo datang ke pemakaman untuk menengahi, kesal dan marah memenuhi dirinya. 

Beberapa tahun kemudian pembantaian Santa Cruz menjadi pembicaraan di Eropa dan Amerika, PBB bertindak, Soeharto membentuk Komisi Hak Asasi Manusia, dan Uskup Belo mendapat Nobel Perdamaian. Gereja menjadi muara orang Timur mendapatkan kemerdekaan. 

Baca juga : Paus Fransiskus Serukan Baca Sastra

Jauh sebelum itu, dalam zaman modern kita. Tepat di hari Jum’at di bulan Agustus 1978, di bawah terik matahari orang-orang berkumpul di alun-alun Jaleh, Tehran. Mereka memperingati penembakan di Masjid Fatemieh seminggu sebelumnya. Para mullah (pemimpin agama di Iran)  memimpin demonstrasi menentang kekuasaan Shah Reza yang semakin otoriter.

Polisi SAVAK yang ditugaskan Shah untuk memantau semua aktivitas yang terindikasi sebagai pemberontakan telah menyempitkan pergerakan sipil. Universitas bahkan tidak lagi menjadi ruang aman dalam mengemukakan pendapat tentang kebobrokan rezim Shah. Tersisa hanya masjid-masjid, satu-satunya tempat berdiskusi yang memungkinkan. 

Begitulah, dari masjid-masjid, dalam tradisi islam syiah yang kuat di Iran, telah menggerakkan budaya martyr (mati syahid) yang suci melawan kezaliman Shah. Ayatullah Khomeini, sang pahlawan revolusi, dalam umurnya yang tak lagi muda, 79 tahun, kembali dari pengasingan Neauphle-le-Chateau, Paris. Setelah sebelumnya aktif mengirimkan pidato dan ceramah-ceramahnya melalui kaset-kaset yang diselundupkan ke masjid-masjid untuk diputar.

Para mullah sukses memainkan peran. Nasir Tamara, seorang jurnalis kawakan Kompas secara langsung meliput revolusi yang digerakkan oleh semangat agama itu, bertemu dan naik pesawat bersama Khomeini. Nasir berkata api revolusi Iran bersifat murni, berasal dari tradisi Iran dan islam syiah. 

Masjid-masjid telah menjadi tempat diskusi membicarakan kebobrokan kekuasaan Shah, angin kebebasan dan hak asasi manusia yang berhembus dari pidato Carter, serta kaset-kaset Khomeini, semuanya memicu nyala itu. Hingga untuk pertama kalinya, setelah bercokol selama 2500 tahun, monarki Iran berhasil ditumbangkan. 

Benar keyakinan uskup Belo, tempat ibadah bisa menjadi titik temu antara politik dan budaya. Tempat ibadah adalah penggerak tatanan masyarakat. 

Di Nusantara, masjid-masjid juga memiliki fungsi yang signifikan. Di zaman dulu, Wali Songo membangun masjid agung di samping alun-alun kota yang biasanya tak jauh dari kantor bupati. Tempat ibadah seperti bersuara bahwa mereka menjalankan fungsinya seperti selayaknya ‘control and  balances’ dalam demokrasi. 

Baca juga : Demonstrasi 22 Agustus : Lebih dari Unjuk Rasa

Berbicara tentang tempat ibadah juga adalah berbicara tentang ruang. Leibniz, seorang filsuf relasionalis Jerman mengatakan ruang adalah hubungan spasial antara hal-hal yang bersifat fisik; Bali di ‘sebelah timur’Jawa, pohon-pohon pisang ‘berjarak’ tiga meter, itulah ruang. Ruang sebagai penghubung antar jarak antara satu entitas dengan entitas lainnya. 

Mungkin di masjid, ruang itu bisa penuh. Satu individu dengan individu lain berjarak secara personal, tapi bertaut dalam satu ruang, bisa digerakkan dalam satu tarikan, dan memiliki ghirah yang sama. Para absolut mengatakan, ruang memungkinkan kita memahami bagaimana benda bergerak dari satu tempat ke tempat lain, juga mengenai bagaimana seluruh alam semesta material kita dapat bergerak melalui ruang.

Dalam tempat ibadah, selain eksistensi keberadaan dalam wujud fisik berupa bangunan, bukti historis ajaran, seringkali juga nyala api perlawanan. 

Nabi-nabi dan utusan Tuhan itulah orang-orang yang senantiasa menyalakan nyala. Nabi Ibrahim bahkan hadir dalam mimpi Namrud, sang raja yang kejam dari Mesopotamia. Dalam mimpi Namrud Ibrahim kecil menumbangkan berhala-berhalanya. 

Nabi Musa juga melawan raja yang dzalim, melawan Fir’aun, membelah laut merah dengan mukjizat tongkatnya dan menenggelamkan pasukan Fir’aun di laut merah. 

Nabi Muhammad Saw membangun masjid Nabawi, menyuruh Bilal yang tadinya budak untuk mengumandangkan azan, mempersatukan silaturahmi antar kaum muslim anshar dan muhajirin, lalu memperluas syiar islam ke berbagai penjuru negeri. 

Nabi Muhammad tidak melawan raja yang kejam, tapi Nabi saw melawan kebiadaban yang lebih besar. Saat manusia saling menjatuhkan, kemanusiaan hilang, satu kelompok dianggap hina daripada kelompok yang lain, bayi perempuan dikutuk dengan dikuburkan hidup-hidup, dan bangunan kota mekkah digunakan untuk menyembah patung-patung mati. 

Dalam bimbingan cahaya Ilahi yang tak terkira, dalam waktu yang terbilang singkat semua tradisi Arab yang jahiliyah dan feodal dibalikkan menjadi sebuah peradaban yang tinggi; semua manusia setara, bayi perempuan dan bayi laki-laki sama-sama mulia, perempuan dan laki-laki adalah manusia utuh yang sama-sama memiliki kewajiban mencari ilmu pengetahuan. 

Hingga kini, nyala-nyala itu masih ada, seperti sengaja Tuhan pelihara. Meski kadang redup, kadang menggebu, kadang hampir mati, tapi seiring berjalannya roda sejarah manusia, nyala itu akan tetap ada. Bisa dari tempat ibadah, bisa dari tempat yang tak terkira. Dalam nyala itu sesungguhnya adalah pendar-pendar, the great and beautiful spirits dalam menegakkan kalam Tuhan.

Baca juga : Apakah Agama atau Moral, Mana lebih Dulu?

Profil Penulis
Umi Nurchayati
Umi Nurchayati
Penulis Tsaqafah.id

43 Artikel

SELENGKAPNYA