Melihat Syi’ah Lebih Dekat

Melihat Syi’ah Lebih Dekat

20 Juli 2025
286 dilihat
2 menits, 16 detik

Lelaki Sunni di Kota Syi’ah | Iqbal Aji Daryono | 191 halaman | Penerbit Mizan | 2024

Perang Iran-Israel beberapa waktu lalu, begitu menyedot perhatian. Di tengah headline tentang hujan rudal, identitas Syi’ah turut menarik untuk dikulik. Siapa dan bagaimanakah orang-orang Syi’ah yang berani melawan sekutu paling berdarah di zaman ini?

Agak tragis memang, kenyataan bahwa buku ini menarik dibaca lantaran meletusnya perang. Kabar baiknya, buku ini membantu kita melihat sisi samping sebuah peristiwa yang luput dari potret media.

Buku ini terbit pada 2023 jauh sebelum Tehran mengirim rudal ke Tel Aviv, dan sebaliknya. Keseluruhan buku ini berkisah tentang pengalaman seorang lelaki Sunni-Muhammadiyah melakoni Ziarah Arbain, ziarah kolosal dalam tradisi Syi’ah. Iqbal Aji Daryono menggambarkan Ziarah Arbain sebagai sebuah festival akbar, di mana jutaan orang berjalan kaki dari Najaf ke Karbala di Irak, untuk memperingati kesyahidan Sayyidina Husein bin Ali.

Buku ini memang bukan berlokus di Iran, melainkan kembarannya, Irak, yang sama-sama dihuni oleh mayoritas Muslim-Syi’ah. Meski pernah terlibat perang saudara, warga Syi’ah Iran dan Irak diceritakan kompak melangsungkan Ziarah Arbain. Kok bisa?

Baca juga: “My Garden Over Gaza”: Yang Subtil Tapi Juga Terang untuk Anak-Anak

Konsep imamah dalam Syi’ah meyakini kepemimpinan Islam pasca Nabi, diserahkan pada keturunan Nabi atau Ahlul Bait. Dan Ziarah Arbain, perjalanan menuju makam Sayyidina Husein adalah manifestasi keyakinan itu. Perjalanan puluhan kilometer ditempuh berlandaskan cinta kepada cucu Nabi. Orang-orang pun menyambut para peziarah dengan penuh cinta sebagai rombongan tamu Nabi.

Sepanjang jalan, makanan, tempat peristirahatan, dan berbagai jasa ditawarkan demi memperlancar perjalanan ziarah. Tak peduli apakah dia seorang Irak, Iran, bahkan Sunni sekalipun. Helatan ini juga disebut sebagai festival para martir. Selain memperingati kesyahidan Sayyidina Husein dan pasukannya di Hari Asyura, para peziarah juga mengenang keluarganya yang gugur dalam perjuangan melawan kezaliman.

Gambar pedang, ilustrasi panah berdarah, yang menghiasi foto para syuhada bukan hal yang tabu bahkan dipajang besar-besar sepanjang rute ziarah ini. Kesyahidan adalah kebanggaan, mungkin itulah kenapa dalam perang barusan, Iran merasa tidak perlu menutupi para martir yang gugur di medan pertempuran.

Menilik ke dalam, Syi’ah di Indonesia tak terlalu bernasib baik. Ragam persekusi bisa ditemukan di berbagai daerah. Stereotip Syi’ah bukan Islam pernah begitu lantang digaungkan. Ketika hari ini orang-orang Syi’ah dielu-elukan atas keberaniannya melawan penindasan, mungkin ini waktu yang tepat untuk kembali mempertanyakan, benarkah Islam benar-benar hanya milik Sunni?

Buku ini tidak sekadar buku perjalanan melainkan perjumpaan melihat Syi’ah dari jarak dekat melalui interaksi dan dialog. Dilengkapi dengan foto-foto di sepanjang perjalanan, dan celoteh jenaka ala Iqbal, ujung-ujungnya kita diajak menilai secara lebih jernih dan tanpa prasangka.

Dalam buku ini Iqbal memilih bertutur secara apa adanya segala hal yang ia alami sekaligus aneka pengetahuan dan sensasi baru yang ia dapat sebagai seorang Sunni-Muhammadiyah. Ia tampaknya tidak merasa perlu terlalu repot-repot melakukan penelusuran lanjutan terkait segala temuannya di Irak. Kalau pembaca mengharapkan sebuah penjelasan detil yang disokong aneka referensi, maka buku ini nampaknya kurang mampu memuaskan dahaga itu.

Ini adalah buku tentang seorang pejalan yang membagikan perjalanannya. Upayanya untuk menceritakan berbagai fragmen Ziarah Arbain dan berbagai detilnya tidak saja melalui narasi tapi juga hasil jepretan lensa, sangat patut diapresiasi. Sebab, bukankah kisah, inspirasi, dan hikmah adalah oleh-oleh terbaik yang bisa diberikan dari sebuah perjalanan?

Profil Penulis
khalimatunisa
khalimatunisa
Penulis Tsaqafah.id
Alumni CRCS UGM dan PP Al-Munawwir Krapyak, bisa dihubungi di [email protected]

26 Artikel

SELENGKAPNYA