Perjalanan Rasa di Pasar Gede Solo

Perjalanan Rasa di Pasar Gede Solo

30 Agustus 2025
300 dilihat
4 menits, 30 detik

Hal mengesankan yang selalu saya ingat adalah spanduk-spanduk toko, yang berjejer dengan tulisan “Pasar Gede, Ora Sare”. Makna mendalam yang saya rumuskan bahwa Pasar Gede Solo memang selalu menghidupi orang-orang yang berteduh di sana untuk kelangsungan hidup mereka.

Tsaqafah.id – Pagi hari, lagu Sepasang Mata Bola jadi pengiring datang dan perginya orang-orang yang silih berganti di Stasiun Tugu Yogyakarta. Begitu juga saya yang memutuskan kabur sebentar ke Kota Solo bersama beberapa teman. Tujuan kami satu, mencicipi kuliner yang berbeda dari biasanya. Kami menyebut Solo sebagai kota penuh makanan.

Sebagai orang yang beberapa kali melancong, Solo memang menyenangkan untuk para penjelajah kuliner nikmat nan melokal, yang membuat kita ingin berlama-lama. Perjalanan menggunakan KRL Jogja – Solo dengan waktu tempuh sekitar satu jam, membuat kami tak sabar untuk segera tiba di kota kuliner itu. Tiba di Stasiun Balapan, kami mengawali hari dengan rute pertama ke Pasar Gede Solo menggunakan motor yang kami sewa.

Sebagai informasi, penyewaan motor di solo harganya hampir sama seperti Jogja. Biaya yang standar, dengan 100 ribu kita bisa mendapat variasi kendaraan yang ingin dipakai. Tidak jauh dari Stasiun Balapan, kami tiba di Pasar Gede.

Geliat kehidupan Pasar Gede sudah menyambut kami. Pukul 09.00 pagi adalah salah satu waktu yang tepat untuk melihat momen keramaian pasar, meskipun kehidupan pasar tidak pernah padam selama 24 jam. Euporia pasar yang ramai itu tetap akan berlanjut dengan orang-orang yang silih berganti. Hal mengesankan yang selalu saya ingat adalah spanduk – spanduk toko yang berjejer dengan tulisan “Pasar Gede, Ora Sare”. Makna mendalam yang saya rumuskan bahwa Pasar Gede Solo memang selalu menghidupi orang-orang yang berteduh di sana untuk kelangsungan hidup mereka.

Baca juga Esensi Pertunjukan Seni Bantengan: Tradisi, Hiburan dan Persfektif Agama

Jauh berjalan, akhirnya kami putuskan untuk sarapan di lantai dua gedung barat Pasar Gede. Para pengunjung yang pertama kali datang ke sini, tentu akan menemukan hal yang jarang ditemukan di tempat lain. Di Pasar Gede, pusat kuliner yang berada di gedung barat akan berpisah dengan pusat sayuran, daging, bumbu rempah, dan jajanan pasar yang berada di gedung timur.

Meskipun hanya terbelah oleh Jalan Jendral Urip Sumoharjo, beberapa spot jajanan kuliner juga tersedia di dalam gedung timur yang bercampur dengan aneka dagangan lain. Lantai dua gedung barat Pasar Gede ini, betul-betul akan memanjakan mata para pemburu kuliner. Spot yang penuh lalu lalang orang, bercampur dengan berbagai aroma yang mengepul dalam kuali para penjaja makanan.

Menu pertama, kami putuskan sarapan nasi ayam bakar. Hidangan ini jelas bisa ditemukan di mana saja. Namun satu hal yang beruntung adalah kios makan kami berhadapan langsung dengan arah gedung timur Pasar Gede yang hanya berseberangan jalan itu. Sungguh kami mendapat tempat dan momen terbaik untuk melihat Pasar Gede dengan segala kehidupannya dari lantai atas.

Sembari menunggu hidangan, saya ambil beberapa foto berbagai sudut. Terlihat jelas bus Trans Solo yang sesak penumpang, dua sejoli yang sedang menikmati es potong jadul, petugas parkir yang kian sibuk dengan kedatangan pengunjung, dan tentu saja pedagang yang berlalu lalang membawa dagangan dengan penuh harap berkah di pagi hari.

Sarapan selesai, kami lanjutkan menembus riuhnya gedung timur yang menjual bermacam dagangan. Sepanjang pintu masuk pasar memang spot terbaik untuk mengambil gambar dan menghidupkan momen human interest dalam kamera. Spot jajanan pasar di gedung timur, letaknya tersebar dimana saja. Fokus kami adalah mencari dua makanan yang menjadi perbincangan teman-teman di media sosial. Berbekal review dari beberapa bloger kuliner, kami jadi penasaran dengan dua menu yang sering disebut, yaitu brambang asem dan es dawet telasih.

Brambang Asem

Sangat mudah mencari dimana brambang asem berada. Di tengah keriuhan pasar yang semakin siang, kami langsung saja mengikuti arus masuk dari pintu depan dan berjalan lurus sampai ke tengah pasar. Dari jauh kami sudah melihat kerumunan yang mengelilingi kuliner satu ini. Antrian brambang asem cukup ramai dan kami harus sabar menunggu.

Banyak orang yang mungkin belum familiar dengan salah satu primadona kuliner Solo ini. Brambang Asem adalah makanan tradisional berupa daun ubi muda yang direbus dan disiram menggunakan sambal brambang asem, sebuah sambal yang menjadi kunci utama hidangan ini. Menurut saya, sambal brambang asem sekilas mirip dengan bumbu lutis yang mudah kita temukan. Tapi beberapa orang bisa saja menyebutnya serupa dengan bumbu pecel, hanya elemen bumbunya saja yang membedakan.

Brambang Asem terdiri dari brambang atau bawang merah yang dibakar, gula, asem jawa, dan terasi sesuai dengan takaran. Pelengkapnya adalah tempe gembus bacem yang nikmat. Namun uniknya, yang saya temukan di pasar pagi itu menggunakan sayur kangkung yang direbus. Awalnya saya mengira itu plecing kangkung. Mungkin saja para penjual saat ini lebih kreatif dalam menambah keberagaman menu tersebut.

Baca juga Desa Mawa Cara: Ketahanan Sosial yang Tak Dimiliki Kota

Brambang Asem sungguh memanjakan lidah para pecintanya. Dengan harga berkisar 7 ribuan, kita sudah mendapatkan empat citarasa manis, asam, pedas, dan gurih bercampur dengan bungkus daun pisang yang menambah aroma sedap. Di Pasar Gede Solo, kita bisa merasakan hidangan ini secara langsung dari racikan tangan penjual.

Es Dawet Telasih

Pemandangan siang itu benar-benar sesak. Tak kalah ramai dari penjual brambang asem, tepat di hadapannya kita bisa temukan kesegaran di tengah sesaknya para pengunjung pasar. Es Dawet Telasih Bu Hj. Sipon jika terlihat di plang papan. Es dawet telasih ini menjadi salah satu kuliner lama yang banyak diburu oleh warga lokal hingga wisatawan.

Es dawet memiliki banyak ragam di setiap daerah. Seperti yang lain, es dawet telasih juga menjadi minuman legendaris terutama di Pasar Gede Solo. Es dawet telasih Bu Hj. Sipon ini memiliki beragam varian yang menarik dan mengundang pengunjung. Selain varian original, rasa durian juga wajib dicoba jika berkunjung ke sini.

Dengan harga berkisar 15 ribuan kita akan mendapatkan kesegarannya. Soal rasa memang tidak perlu diragukan. Es dawet ini memiliki isian yang cukup penuh. Selain dawet dan telasih, mangkok kita akan diisi dengan potongan buah nangka, bubur sumsum, dan ketan hitam.

Sambil menikmati pesanan, kami mendapat tempat duduk yang berhadapan langsung dengan meja dagangan. Bonusnya, kami bisa melihat bagaimana sibuknya Bu Sipon dan beberapa pegawai yang tengah meracik dawet pesanan para antrian. Dengan situasi kios yang ada di tengah dan menjadi jalur utama pengunjung, Bu Sipon dan pegawai sudah menyiasati penuhnya pembeli. Pembeli secara teratur bergantian duduk berjajar di sana sesuai arahan para pegawainya.

Lepas selesai menikmati dua kuliner ini, kami melanjutkan perjalanan mengitari Pasar Gede dengan lebih banyak memotret momen. Kami meninggalkan Pasar Gede ke tempat selanjutnya.

Profil Penulis
NABILA
NABILA
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga dan santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Q Krapyak Yogyakarta

4 Artikel

SELENGKAPNYA