..peringatan Maulid bukan sekadar ritual, melainkan momentum bagi para pemimpin bangsa untuk menegaskan kembali pijakan moral dalam kepemimpinan mereka. Jika kekuasaan dilepaskan dari nilai agama, ia akan mudah terjerumus pada hawa nafsu, penyalahgunaan wewenang, dan kelalaian terhadap janji kepada rakyat.Rasulullah SAW telah mencontohkan kepemimpinan yang memadukan agama dan kekuasaan dengan sempurna.
Tsaqafah.id — Bulan Rabiul Awal selalu memiliki tempat istimewa dalam hati umat Islam. Di bulan inilah Rasulullah SAW dilahirkan, sosok teladan yang menghadirkan cahaya keadilan, keberanian, dan kasih sayang dalam memimpin umat. Maulid Nabi bukan hanya sekadar peringatan seremonial, melainkan juga momen untuk merenungi kembali nilai-nilai kepemimpinan beliau.
Nilai yang paling relevan saat ini adalah bagaimana seorang pemimpin seharusnya mendengar suara rakyat dan menepati janji yang telah diucapkan.
Di tengah peringatan bulan yang mulia ini, masyarakat Indonesia kembali menaruh harapan kepada pemerintah. Janji-janji yang dahulu digaungkan dari kesejahteraan ekonomi, pemerataan pembangunan, hingga pemberantasan korupsi masih banyak yang menggantung.
Sebagaimana Rasulullah SAW yang selalu memegang teguh amanah, rakyat pun berharap pemerintah tidak melupakan janji yang telah dititipkan kepadanya. Kisah Rasulullah SAW menjadi cermin penting.
Dikisahkan, beliau pernah berjanji kepada seorang sahabat untuk menemuinya di suatu tempat. Meskipun sahabat itu terlambat datang, Rasulullah tetap menunggu berjam-jam hingga ia tiba, demi menjaga kepercayaan. Kisah sederhana ini menggambarkan betapa seriusnya Rasulullah dalam menepati janji, sekecil apapun.
Bayangkan jika teladan ini dihidupkan dalam kepemimpinan bangsa: janji-janji pembangunan, janji kesejahteraan, hingga janji keadilan sosial akan menjadi kenyataan, bukan sekadar wacana politik.
Di Jakarta, suara rakyat semakin lantang terdengar. Demonstrasi mahasiswa yang menyoroti kenaikan biaya hidup, hingga aksi buruh menuntut kepastian kerja, menjadi tanda bahwa ada jurang antara janji dan realitas. Rakyat merasakan beban, sementara solusi yang ditunggu belum hadir dengan cepat.
Di saat perayaan Maulid Nabi yang meriah berlangsung, doa dan harapan masyarakat pesisir itu menggema: semoga pemimpin mendengar jeritan rakyat kecil. Nilai keteladanan Rasulullah yang mengutamakan kaum lemah seharusnya menjadi kompas moral bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan.
Baca juga Ketika Ruang Publik Menyempit: Pelajaran dari Pati
Kondisi di dua kota tersebut hanyalah potret kecil dari persoalan bangsa yang lebih luas. Dari kota besar hingga pelosok desa, rakyat selalu punya tuntutan yang sama: pemerintah menepati janji. Mereka bukan meminta lebih, hanya menagih apa yang pernah diucapkan.
Kota metropolitan ini seakan menjadi panggung besar tempat rakyat menagih janji, berharap pemimpin mencontoh Rasulullah SAW yang tidak pernah menunda kewajibannya kepada umat.
Sementara di Makassar, suara masyarakat pesisir menggaung dengan cara berbeda. Nelayan menuntut keadilan karena sulitnya memperoleh bahan bakar bersubsidi dan harga ikan yang tidak sebanding dengan jerih payah mereka.
Momentum Rabiul Awal menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali janji-janji itu, sebab umat Islam yakin bahwa kepemimpinan sejati adalah ketika amanah dijaga, sebagaimana Rasulullah menjaga amanah risalah dengan sepenuh hati.
Karena itu, Rabiul Awal bukan hanya menjadi ajang ritual memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebuah momentum spiritual dan sosial. Peringatan Maulid seharusnya mendorong kita semua khususnya para pemimpin bangsa untuk belajar menepati janji, mengutamakan kepentingan rakyat, dan menghadirkan kebijakan yang adil.
Jika Rasulullah SAW mampu menjadi pemimpin yang terpercaya dan dicintai rakyatnya, maka sudah seharusnya pemerintah menjadikan teladan itu sebagai pijakan nyata dalam memimpin Indonesia hari ini.
Pesan Imam al-Ghazali dalam kitabnya ini menegaskan kepada kita bahwa agama (الدين) dan kekuasaan (الملك) tidak bisa dipisahkan. Seperti dua saudara kembar, keduanya saling menopang: agama memberi arah moral, sementara kekuasaan memberi kekuatan untuk menegakkannya.
Baca juga Ketika Rakyat Teriak, Pejabat Sibuk Berteori
Dalam konteks Rabiul Awal, peringatan Maulid bukan sekadar ritual, melainkan momentum bagi para pemimpin bangsa untuk menegaskan kembali pijakan moral dalam kepemimpinan mereka. Jika kekuasaan dilepaskan dari nilai agama, ia akan mudah terjerumus pada hawa nafsu, penyalahgunaan wewenang, dan kelalaian terhadap janji kepada rakyat.Rasulullah SAW telah mencontohkan kepemimpinan yang memadukan agama dan kekuasaan dengan sempurna.
الدين والملك توأمان مثل أخوين ولدا من بطن واحد، فيجب أن يهتم ويجتنب الهوى، والبدعة والمنكر والشبهة، وكل ما يرجع بنقصان الشرع التير المسبوك في نصيحة الملوك. لحجة الإسلام محمد بن محمد أبي حامد الغزالي. ( المتوفى سنة ٥٠٥ ه ). طبعه مكتبة الكليات الأزهرية. ص: 56)
“Agama dan kekuasaan adalah bagaikan dua saudara kembar yang lahir dari satu rahim. Maka wajib bagi penguasa untuk memperhatikannya dan menjauhi hawa nafsu, bid‘ah, kemungkaran, syubhat, dan segala sesuatu yang dapat mengurangi kesempurnaan syariat...” )At-Tibr al-Masbuk fi Naṣiḥat al-Muluk, karya Ḥujjatul Islam Muhammad bin Muhammad Abi Ḥamid al-Ghazali (wafat 505 H). Dicetak oleh Maktabah al-Kulliyyāt al-Azharīyah, hlm. 56)
Beliau adalah figur yang menjaga amanah, menepati janji, serta melindungi umat dari segala bentuk kemungkaran. Hal ini selaras dengan pesan dalam kutipan Arab di atas: seorang pemimpin wajib menjauhi hawa nafsu, mendukung kebaikan, serta menyingkirkan keburukan. Dengan demikian, peringatan Maulid di bulan Rabiul Awal mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan duniawi, melainkan amanah ilahi yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Bila pesan tersebut ditarik dalam konteks Indonesia hari ini, rakyat yang menagih janji sesungguhnya tidak menuntut berlebihan. Mereka hanya meminta pemimpin menepati janji menegakkan keadilan, dan menghindari kebijakan yang merugikan rakyat kecil.
Sebagaimana agama dan kekuasaan adalah dua kembar yang tak terpisahkan, demikian pula janji politik seharusnya menjadi bagian dari amanah yang dijaga, bukan sekadar retorika. Maka, momentum Rabiul Awal adalah panggilan spiritual bagi para pemimpin bangsa: meneladani Rasulullah SAW, menepati janji, dan menjadikan kepemimpinan sebagai sarana menegakkan kebenaran dan kemaslahatan umat.
Baca juga Nyala-Nyala di Tempat Ibadah

