Ketika Rakyat Teriak, Pejabat Sibuk Berteori

Ketika Rakyat Teriak, Pejabat Sibuk Berteori

03 September 2025
153 dilihat
1 menit, 59 detik

Rakyat tidak anti aparat. Justru rakyat ingin aparat jadi pelindung sejati. Tapi kalau rakyat sudah jatuh, jangan malah diinjak. Kalau rakyat sudah teriak, jangan malah ditutup mulutnya dengan gas air mata dan peluru karet.

Rakyat Indonesia ini luar biasa sabarnya. Sudah sabar bayar pajak, sabar antre BBM, sabar lihat harga sembako naik, sabar menanti info 19 juta loker. Tapi kesabaran itu ada batasnya—dan akhir-akhir ini, batas itu sepertinya sedang dipanjat ramai-ramai oleh para pejabat kita.

Demo besar pun pecah di mana-mana, utamanya di Jakarta. Ada yang teriak soal kebijakan ngawur, ada yang marah karena hidup makin susah. Tragisnya, sampai ada rakyat yang kehilangan nyawa. Ironi pahit: rakyat mati di jalan, pejabat sibuk rapat di ruang dingin.

Rakyat demo teriak-teriak: “Tolong dengarkan kami!”
Anggota DPR menjawab: “Tenang, kami sedang rapat membahas aspirasi rakyat.”

Kalau benar mewakili rakyat, coba sekali-sekali hidup ditengah-tengah rakyat. Biar tahu rasanya, rakyat itu bukan malas, tapi memang susah.

Baca juga: Ketika Aspirasi Rakyat Terkubur Api Anarkisme

Para menteri kita kreatif. Sayangnya, kreatifnya sering seperti mahasiswa baru eksperimen di laboratorium: coba-coba dulu, gagal, ya bikin aturan baru lagi. Yang jadi kelinci percobaan? Rakyat.

Rakyat teriak: “Pak, harga naik!”
Jawaban menteri: “Ini hanya fluktuasi biasa.”
Iya, fluktuasi… fluktuasi dompet rakyat yang makin tipis.

Di jalanan, rakyat bentrok, asap gas air mata mengudara, darah tumpah. Polisi dan TNI turun dengan tameng dan senjata. Pertanyaannya: kalian ini pelindung rakyat atau penjaga kursi pejabat?

Rakyat tidak anti aparat. Justru rakyat ingin aparat jadi pelindung sejati. Tapi kalau rakyat sudah jatuh, jangan malah diinjak. Kalau rakyat sudah teriak, jangan malah ditutup mulutnya dengan gas air mata dan peluru karet.

Yang sering lupa disadari pejabat: negara tidak akan bubar hanya karena rakyat marah. Justru negara akan bubar kalau pejabat terus-terusan tuli.

Negara kuat bukan karena gedung DPR tinggi, bukan karena istana megah, bukan karena tentara baris rapi. Negara kuat karena rakyatnya hidup layak, bisa makan tiga kali sehari, bisa sekolahin anaknya tanpa jual sawah, bisa sakit tanpa takut ditolak rumah sakit.

Kadang saya membayangkan:
Bagaimana jika pejabat itu sehari saja hidup seperti rakyat biasa? Bangun pagi bukan untuk rapat, tapi untuk mikir “hari ini bisa masak lauk apa?”. Naik motor tua kehujanan di jalan, bukan mobil dinas yang sopirnya sudah siap payung. Ngantre BLT, bukan ngantre naik pesawat bussiness class.

Mungkin baru di situ mereka akan sadar, bahwa empati itu bukan teori, tapi rasa.

Rakyat tidak ingin revolusi berdarah. Rakyat hanya ingin revolusi hati para pemimpin. Negara ini bisa besar, bisa kuat, bisa jadi rumah yang damai—asal pejabatnya berhenti main drama tanpa rasa.

Sampai hari itu tiba, rakyat akan terus berkata:“Kami mencintai negeri ini. Tapi sabar kami bukan untuk dipermainkan.”

Magelang, 03 September 2025 M.

Baca juga: Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

Profil Penulis
MS Lubaid Said
MS Lubaid Said
Penulis Tsaqafah.id
Pengajar di Pondok Pesantren Roudlotut Thullab (@pondoknosari) Tempuran Magelang

9 Artikel

SELENGKAPNYA