Kita hidup dalam lingkaran tanpa ujung, di mana kata “cukup” kehilangan maknanya. Padahal di balik gemerlap itu, ada hati yang hampa, jiwa yang penat, dan batin yang kehilangan arah.
Di era yang serba cepat ini, kita hidup dalam pusaran notifikasi dan perbandingan tanpa henti. Media sosial membuat kita tahu apa yang orang lain punya, ke mana mereka pergi, dan seberapa bahagianya mereka atau setidaknya, seberapa bahagia yang mereka ingin kita lihat. Di tengah hiruk pikuk itu, muncul satu penyakit zaman yang diam-diam menggerogoti hati. Yaitu Fear of Missing Out (FOMO). Sebuah ketakutan untuk tertinggal, untuk tidak dianggap cukup, hingga perlahan kita hidup dalam kelelahan yang tak selalu tampak.
Dari sinilah lahir budaya konsumtif yang bukan sekadar dalam hal barang, tapi juga dalam perhatian, pengakuan, dan eksistensi. Kita membeli bukan karena butuh, melainkan karena takut tak terlihat. Kita memamerkan bukan karena bahagia, tetapi karena takut terlihat tidak bahagia. Kita hidup dalam lingkaran tanpa ujung, di mana kata “cukup” kehilangan maknanya. Padahal di balik gemerlap itu, ada hati yang hampa, jiwa yang penat, dan batin yang kehilangan arah.
Baca juga: Qana‘ah dan Bahaya Syuhrah: Pelajaran dari Ihya’ Ulumuddin
Islam menawarkan jalan yang menenangkan dengan tidak menolak dunia, tapi dengan menata hati di tengahnya. Dua nilai yang menjadi kunci keseimbangan itu adalah qanaah dan zuhud. Qanaah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan untuk menerima dengan lapang apa yang telah Allah tetapkan, sambil tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Sedangkan zuhud bukan menjauh dari dunia, tapi membebaskan diri dari keterikatan berlebihan pada hal-hal yang menjadikan dunia sebagai tujuan, bukan sarana.
Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah kaya itu banyak harta, tetapi kaya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari & Muslim). Dan Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash: 77). Dua pedoman ini menjadi fondasi spiritual untuk hidup di era modern tanpa kehilangan arah batin.
Ketika hati belajar qanaah, kita menemukan ruang untuk tenang di tengah hiruk pikuk perbandingan sosial. Rasa cukup membuat kita berhenti berlari dari satu keinginan ke keinginan lain, dan mulai menikmati apa yang ada di depan mata. Sementara zuhud mengajarkan kita seni berjarak secara batin: tetap bekerja, tetap berkarya, tetap menikmati hidup, namun tidak menjadikan dunia sebagai pusat nilai diri.
FOMO dan budaya konsumtif bukan hanya soal gaya hidup, tapi juga soal cara kita memaknai keberadaan. Ia memecah fokus, mengikis rasa syukur, dan membuat manusia menilai dirinya berdasarkan apa yang dimiliki, bukan siapa dirinya. Nilai qanaah dan zuhud hadir sebagai terapi sosial dan spiritual, mengajak manusia menata ulang prioritas dan mengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang merasa cukup.
Baca juga: Merasa Cukup dalam Pandangan Agama untuk Menjaga Lingkungan
Belajar qanaah berarti menata ulang definisi “cukup”. Bukan hanya pada materi, tapi juga waktu, energi, dan hubungan. Dengan berhenti membandingkan diri, berhenti mengejar pengakuan, dan menerima apa yang ada, kita menemukan ketenangan yang sesungguhnya. zuhud mengingatkan bahwa keterikatan pada dunia bukan hal yang salah, tetapi menjadi budak dunia adalah perangkap yang nyata. Dengan begitu, kita tidak hanya menyembuhkan diri, tetapi juga ikut menenangkan lingkungan sosial di sekitar kita.
FOMO dan budaya konsumtif mungkin adalah penyakit sosial zaman modern, tetapi Islam telah lebih dulu memberi obatnya. Qanaah dan zuhud mengajarkan bahwa rasa cukup dan ketenangan hati jauh lebih bernilai daripada harta sebanyak apa pun atau pengakuan sosial yang tiada henti. Mungkin yang perlu kita kejar bukanlah hal-hal yang berlimpah, melainkan ketenangan hati dan kesadaran akan cukup. Belajar qanaah dan zuhud adalah seni menemukan damai di tengah hiruk-pikuk sosial, dan menapaki hidup dengan hati yang lembut tetapi tegas dalam memilih apa yang benar-benar penting.
Apakah kita hidup karena kebutuhan sejati atau karena ketakutan akan penilaian orang lain? Apakah “cukup” hanyalah kata, ataukah ia bisa menjadi fondasi hati yang menuntun kita pada kebahagiaan yang tenang? Mungkin saja, di tengah budaya konsumtif dan FOMO, jawabannya ada dalam qanaah dan zuhud. Dalam hati yang tenang, tidak lapar akan pengakuan, dan mampu menemukan rasa cukup di dunia yang selalu menuntut lebih.
Baca juga: Desa Mawa Cara: Ketahanan Sosial yang Tak Dimiliki Kota

