Setetes Diri di Tengah Samudra Pengetahuan

Setetes Diri di Tengah Samudra Pengetahuan

14 Februari 2026
98 dilihat
2 menits, 51 detik

Pengetahuan dapat diibaratkan sebagai lautan tanpa tepi yang bisa dijelajahi dari berbagai arah. Nama-nama besar seperti Vincent van Gogh melalui lukisan Starry Night, atau Mozart dengan komposisi Eine kleine Nachtmusik, hanyalah bagian kecil dari samudra pengetahuan di bidang seni dan musik.

Hal-hal di sekitar kita, mulai dari komponen keyboard seperti tombol, PCB, dan switch, hingga pandangan Clifford Geertz yang memaknai agama sebagai sistem simbolik, bahkan fakta sederhana seperti ibu kota Sulawesi Tengah adalah Palu, semuanya merupakan kepingan pengetahuan yang saling melengkapi.

Bahkan setiap interaksi, pengalaman, hingga kegagalan dalam keseharian sejatinya merupakan ruang belajar tanpa batas.

Belajar tidak dibatasi oleh usia maupun latar belakang. Batasan terbesar justru sering kali berasal dari cara berpikir kita sendiri. Seorang petani di sawah dapat mengajarkan makna kesabaran, sementara seorang anak kecil bisa menjadi pengingat tentang spontanitas dan kejujuran. Kuncinya terletak pada sikap mental yang terus ingin tahu, berani bertanya, dan terbuka terhadap pelajaran dari mana pun asalnya.

Internet memang menjadi sarana yang sangat membantu untuk mencari informasi. Namun, informasi yang beredar tidak selalu dapat dipercaya begitu saja. Hoaks dan informasi yang keliru masih banyak ditemukan. Karena itu, kemampuan untuk menyaring dan memverifikasi informasi menjadi hal yang sangat penting agar kita tidak terjebak pada kesimpulan yang salah.

Baca juga Rasionalitas Ketenangan dalam Filsafat Ibn Ḥazm

Seberapa pun luas pengetahuan yang kita miliki, selalu ada hal yang belum kita pahami. Inilah yang dikenal sebagai paradoks pengetahuan. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin jelas pula batas ketidaktahuan kita. Justru di titik inilah proses belajar menjadi menarik, seperti sebuah petualangan yang tidak pernah benar-benar berakhir. Rasa penasaran inilah yang menjaga semangat belajar tetap hidup.

Ketika ilmuwan seperti Newton membahas gravitasi atau Darwin mengemukakan teori evolusi, mereka sejatinya tidak menutup pembahasan, melainkan membuka pintu menuju pertanyaan-pertanyaan yang lebih kompleks. Setiap jawaban melahirkan persoalan baru. Di situlah daya tarik ilmu pengetahuan, khususnya sains.

Hal serupa juga terjadi dalam upaya mendefinisikan agama. Berbagai teori lahir dari tokoh-tokoh dengan pendekatan yang berbeda. Auguste Comte dengan positivismenya, misalnya, kemudian dikritik oleh pemikir lain seperti Heidegger atau Kuhn. Kritik-kritik tersebut tidak muncul tanpa dasar, melainkan disertai argumen dan kerangka berpikir yang kuat. Ilmu pengetahuan bekerja layaknya ruang dialog terbuka. Setiap gagasan boleh diajukan, selama siap diuji dan dikritisi.

Kembali pada pertanyaan mendasar, apa sebenarnya ilmu pengetahuan itu. Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu pengetahuan dapat dianggap valid. Apakah semua yang disebut ilmu selalu benar. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan banyak dibahas ketika seseorang mempelajari filsafat.

Saya pernah mendapat pernyataan dari dosen filsafat yang cukup membekas. Dalam filsafat, tidak ada kebenaran yang sepenuhnya mutlak. Kebenaran absolut hanya berada di tangan Tuhan. Artinya, ilmu pengetahuan selalu berkembang dan terbuka untuk direvisi. Apa yang dianggap benar hari ini, bisa saja dikoreksi di masa depan. Filsafat melatih kita untuk terus bertanya dan tidak menerima sesuatu secara mentah.

Belajar, pada akhirnya, bukan hanya soal menemukan jawaban, tetapi juga tentang merumuskan pertanyaan yang tepat.

Baca Juga Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

Penting pula untuk membedakan antara fakta dan kebenaran. Fakta bersifat pasti, sementara kebenaran sering kali bergantung pada sudut pandang dan konteks. Semakin banyak kepingan pengetahuan yang kita kumpulkan, semakin terasa luasnya hal yang belum kita ketahui. Kesadaran ini bukan untuk melemahkan, tetapi justru mendorong kita agar terus berkembang melalui rasa ingin tahu yang sehat.

Belajar juga tidak harus selalu melalui buku tebal. Di tengah kesibukan, ada banyak cara lain untuk menambah wawasan. Film dan dokumenter dapat memberi sudut pandang baru. Podcast dan audiobook memungkinkan kita belajar sambil beraktivitas. Ulasan buku di platform digital setidaknya membantu menangkap gagasan utama sebuah karya. Intinya, sumber pengetahuan ada di mana-mana, tinggal bagaimana kita membuka diri untuk menyerapnya.

Secara pribadi, saya tidak selalu merasa sebagai orang yang paling rajin belajar. Namun rasa penasaran sering kali muncul dari hal-hal sederhana dan acak. Tidak semua hal memang perlu dipahami secara mendalam. Ada kalanya, ketidaktahuan justru menghadirkan ketenangan. Dalam batas tertentu, kebahagiaan juga bisa lahir dari memilih apa yang perlu diketahui dan apa yang cukup dibiarkan.

Baca Juga Pemuda Muslim Era Utsmani yang Menembus Batas Teknologi

Profil Penulis
A Gaus Rafsanjani
A Gaus Rafsanjani
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa Studi Agama-Agama di UIN Sunan Ampel Surabaya, Mahasiswa perantauan yang kalo gabut suka nulis

1 Artikel

SELENGKAPNYA