Pada era sekarang, tuntutan yang menjadi tekanan batin baik dari lingkungan keluarga, pertemanan, maupun diri sendiri kerap membuat seseorang menjadi lebih mudah marah, stress, atau bahkan depresi. Kegagalan yang kerap dipandang menjadi akhir segalanya, namun sebagian orang justru menganggap kegagalan adalah sebuah langkah utama untuk semakin tumbuh. Bahayanya, jika seseorang tidak memiliki keyakinan yang kuat, bagaikan rumah yang mudah roboh, jika tidak dibangun dengan struktur yang kuat. Seseorang akan mudah rapuh jika mengalami kesulitan dan cenderung menyerah dibandingkan untuk gagah berani menghadapi masalah.
Uniknya, dalam sejarah Jepang dikenal adanya filosofi Kintsugi, sebuah seni memperbaiki keramik yang pecah dan mengubahnya menjadi lebih indah. Sebuah mangkuk pecah, bukan dibuang begitu saja namun disatukan kembali dengan lem seperti getah pohon dan retakan-retakannya dihias kembali dengan emas. Hal ini mengubah pandangan segala sesuatu yang rusak bisa diubah menjadi hal yang lebih indah jika menemukan cara yang tepat untuk merubahnya.
Baca juga : Mengungkap Tasawuf Akhlaqi-Amali: Jalan Penyucian Diri dan Kedalaman Tafsir Sufi
Mulanya kintsugi tersebar luas di Jepang sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Ketika shogun (pemimpin) ketiga yang berkuasa pada zaman itu, Ashikaga Yoshimitsu (1358-1408) memecahkan mangkuk kesayangannya, yang kemudian ia mencari cara untuk memperbaikinya. Kemudian ia mengirimkan mangkuk tersebut ke Cina untuk diperbaiki. Mangkuk yang pecah kemudian dirangkai kembali dengan menggunakan campuran pernis bubuk emas sehingga menciptakan sebuah karya seni dengan nilai yang baru.
Dalam filosofi kintsugi, manusia diibaratkan sebagai keramik yang pecah karena merasa dirinya hancur akibat mengalami kegagalan. Kepingan keramik yang pecah merupakan sebagian proses kegagalan dan rentan “pasrah” jika dibiarkan begitu saja, tanpa menimbang kembali ada cara lain untuk membuatnya lebih berharga. Saat seseorang merasa bagian dari hancur itu tidak bisa disatukan kembali, namun filosofi kintsugi mematahkan argumen tersebut. Karena dalam seni kintsugi, semua bagian berharga dan harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya.
Baca juga : Konsep Jiwa Menurut Al-Kindi
Secara tasawuf, kintsugi jiwa memiliki hubungan erat dengan tazkiyah al-nafs yang secara etimologis mempunyai dua makna yakni penyucian dan penyembuhan. Sebuah upaya psikologis dari agen moral untuk membasmi kecenderungan-kecenderungan jahat yang ada dalam jiwa dalam mengatasi konflik batin antara nafs al-lawwamah dan nafs al-amarah. Tazkiyah al-nafs mengajarkan untuk menerima kekurangan atau masa lalu yang kelam, yang berawal dari proses takhalli (membersihkan diri dari sifat tercela), tahalli (mengisinya dengan sifat terpuji), tajalli (mencapai ketenangan jiwa).
Hal ini semakin menguatkan bahwa bagian dari diri yang hancur karena kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, namun dapat diperbaiki dan direkatkan kembali. Walaupun tidak akan utuh seperti sebelumnya, tetapi ada nilai baru yang membuat hidup lebih indah dan berharga.
Baca juga : Menjadi Mahasiswa Tasawuf & Psikoterapi, Dipandang Sebelah Mata hingga Dianggap “Ngeri”

