Pemuda hari ini diam-diam memikirkan keberlanjutan hidup mereka dengan sangat serius. Mereka tidak sedang menyusun makar atau bergerak untuk menggulingkan kekuasaan, melainkan sekadar berjuang membebaskan kepala mereka dari belenggu kecemasan yang difasilitasi oleh ketidakpastian negara.
Belakangan ini, hiruk-pikuk berita politik dan ekonomi di Indonesia kerap membuat nyeri dada dan sesak napas. Bagaimana tidak? Saban hari, informasi yang berkelindan di ruang publik terasa semakin tak karuan, memicu kecemasan berlebihan (anxiety) bagi generasi muda.
Mulai dari gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang mengancam stabilitas ekonomi, mega-korupsi komoditas timah yang merampok hak publik, hingga rentetan revisi undang-undang kontroversial yang mencederai demokrasi. Berita-berita ini memicu keringat dingin, seakan-akan emosi pembaca terus diaduk tanpa diberi ruang untuk bernapas lega.
Tak heran jika kita, sebagai pemuda Indonesia, merasakan dampak kecemasan yang mendalam karena masa depan kitalah yang sedang dipertaruhkan. Mengapa fenomena psikologis ini bisa terjadi secara kolektif?
Sosiolog Émile Durkheim pernah merumuskan konsep anomie suatu kondisi sosial yang tidak stabil akibat runtuhnya norma, arah, dan kepastian sosial yang membuat individu merasa terasing serta cemas. Ketika negara gagal menghadirkan kepastian ekonomi dan hukum, rasa aman terhadap masa depan runtuh seketika. Ruang-ruang diskusi pemuda hari ini pun menjelma menjadi ruang keluh kesah yang seragam: “gelar sarjana tak lagi menjamin pekerjaan atau sistem kerja dikuasai orang dalam,” hingga keluhan realistis bahwa “Ibu Pertiwi sedang tidak baik-baik saja”.
Baca juga: Menjadi Pemuda Islam Masa Kini
Keresahan ini terekam jelas ketika penulis mengikuti salah satu bincang sore bersama Pak Fahruddin Faiz dalam rangkaian Pesta Buku Jogja 2026 baru-baru ini. Pemikir yang dikenal dengan pendekatan filsafat hidupnya yang meneduhkan ini membedah urgensi growth mindset (pola pikir bertumbuh). Menariknya, seorang penanya melontarkan pertanyaan reflektif: Bagaimana relevansi growth mindset di tengah sengkarut kondisi Indonesia saat ini? Apakah ruang optimisme itu masih tersisa di bawah rezim pemerintahan sekarang?
Pertanyaan tersebut memperjelas satu hal: pemuda hari ini diam-diam memikirkan keberlanjutan hidup mereka dengan sangat serius. Mereka tidak sedang menyusun makar atau bergerak untuk menggulingkan kekuasaan, melainkan sekadar berjuang membebaskan kepala mereka dari belenggu kecemasan yang difasilitasi oleh ketidakpastian negara.
Uniknya, kecemasan eksistensial akibat tekanan struktural seperti ini bukanlah barang baru. Sejarah mencatat fenomena serupa telah terjadi sejak masa Nabi Muhammad saw. Kala itu, kecemasan politik terus menghantui akibat intimidasi kekuasaan kaum Quraisy, ancaman perang yang konstan, serta ketidakstabilan sosial-politik di Madinah.
Situasi mencekam yang memicu ketakutan dan tekanan psikologis hebat di kalangan masyarakat Muslim awal. Hal ini bahkan terekam jelas dalam Al-Qur’an, di antaranya pada QS. Al-Anfal ayat 30 dan QS. Al-Ahzab ayat 10.
Baca juga: Ulama Su’ dan Krisis Keteladanan
Sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa instabilitas politik suatu negara berkelindan erat dengan kondisi psikologis masyarakatnya. Namun, alih-alih menyerah pada kecemasan (anomie), masyarakat Muslim awal merespons ancaman politik dan konflik sosial tersebut melalui penguatan iman secara spiritual, rajutan solidaritas sosial di akar rumput, serta tuntutan akan kepemimpinan yang adil.
Pada akhirnya, refleksi historis dan filosofis ini mengingatkan pemuda Indonesia hari ini: ketika negara memfasilitasi kecemasan, maka solidaritas, ketahanan mental, dan sikap kritis adalah benteng terakhir yang kita punya untuk merebut kembali masa depan.

