Syahadat Bukan untuk Allah, Begini Kata Quraish Shihab

Syahadat Bukan untuk Allah, Begini Kata Quraish Shihab

13 Juni 2026
5 dilihat
2 menits, 38 detik

Tsaqafah.id – Dalam Islam, kita mengenal rukun iman dan rukun Islam. Menyakini Allah saja tidak cukup tanpa kalimat syahadat. Syahadat adalah bagian dari rangkaian ibadah ritual serta perbaikan moral yang menjadi tuntunan, dan seseorang dapat dianggap Islam jika sudah bersyahadat, dalam ucapan maupun tindakan.

Pertanyaannya adalah bagaimana urgensi dan implikasi dalam kalimat syahadat yang sesungguhnya? Bagaimana jika seseorang sudah mengimani Allah tanpa mengucapkan syahadat?

Dalam konteks rukun Islam, sebagian orang Islam cukup dangkal ketika memahami rukun Islam; tidak paham apa itu syahadataini. Orang dahulu mengajari anaknya syahadat dan maknanya (saya sendiri merasakannya), namun sekarang kewajiban ini sudah sirna. Zaman sudah terbalik.

Salah satu indikatornya adalah ketika mau menikah ia baru belajar syahadat. Akibatnya, ia terbata-bata membaca syahadat. Itu artinya, kata Quraish Shihab, jangankan maknanya, disuruh baca saja terbata-bata.

Syahdan. Syahadat disebut pertama kali dalam rukun Islam. Begitu juga makna tentang kepercayaan terhadap Ke-Esaan Allah disebutkan pertama kali dalam rukun Iman.

Pertanyaannya adalah apa bedanya yang pertama di rukun iman “percaya pada Allah” dan rukun Islam “syahadat”?

Bedanya adalah yang satu dalam hati dan yang satunya dalam ucapan dan tidakan. Anda sudah dinilai Allah percaya pada-Nya dan Ke-Esaan-Nya, akan tetapi Anda belum dinilai muslim oleh manusia kecuali mengucapkan syahadat.

Jadi sebenarnya sebenarnya ucapan syahadataini itu adalah untuk kepentingan Anda supaya mendapatkan hak sebagai muslim. Terlepas apakah Anda percaya dan tidak ucapan Anda, maka Anda sudah dinilai muslim.

Substansi Syahadat

Lalu apa sebenarnya substansi syahadat? Ada pertanyaan di kalangan para filsuf yang sangat menggelitik yaitu, adakah sesuatu yang wujud? Ada yang berkata tidak ada, sebab semuanya adalah khayalan.

Kalau Anda tidur kemudian bermimpi, apakah ada wujudnya atau tidak? Jawabannya tidak ada wujudnya. Hidup di dunia ini hanyalah mimpi. Ada orang-orang tasawuf yang menganut pemahaman seperti itu. Dia katakan, tidak ada yang wujud kecuali Allah.

Dahulu, pada saat materialisme belum merasuk di dalam jiwa, banyak orang yang percaya hal demikian. Dikalangan filosof Barat ada yang menganut statemen “Aku berfikir maka aku ada.” Islam pun juga menganut faham bahwa alam ini ada wujudnya.

Sementara itu, di syahadat, ketika dia mengatakan “Aku berfikir maka aku ada,” maka “Aku bersaksi maka aku ada, dan sekaligus ada wujud selain saya.” 

Quraish Shihab mengatakan, kalau Anda berkata, “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, kesaksian Anda yang diucapkan itu secara tidak langsung, Anda harus mengakui bahwa ada wujud selain Anda.

Yang hal sering terlupakan ketika mengucapkan syahadad adalah apakah Anda sadar bahwa disamping Anda ada orang lain? Apakah sadar bahwa ada wujud disamping Anda? Karena itu, sebenarnya syahadataini itu mestinya mengajarkan orang untuk memelihara lingkungan.

Tuhan Tak Butuh Kesaksianmu

Dengan kata lain, jangan hanya mengucapkan syahadataini. Kenapa demikian?

Karena Tuhan tidak membutuhkan kesaksian Anda. Sebab, sekali lagi, ucapan syahadataini hanyalah untuk manusia supaya orang lain tahu bahwa kita muslim. Jika sudah mengucapkan syahadataini, apakah tindakan Anda menunjukkan muslim apa tidak? Jadi bukan hanya ucapan.

Lalu bagaimana praktik hidup kita dengan syahadad? Pertama, kita tidak diajarkan untuk berkata, “Asyhadu annallaha waahidun” saya bersaksi bahwa Allah itu esa, melainkan kita diajarkan, “Asyahadu an laa ilaaha illaa Allah”. Menafikan dulu baru menetapkan.

Bukan hanya di kalangan ulama, bahkan di kalangan orang pinter pun, jika Anda ingin mencapai kebenaran, maka Anda harus mengosongkan ide dari segala sesuatu. Carilah, baru Anda akan temukan. Jika tidak, maka Anda akan menjadi subjektif dan dipengaruhi.

Kedua, menyingkirkan yang buruk dengan menetapakan yang baik (at-takhalli muqaddamun alat tahalli).Menyingkirkan yang buruk lebih utama daripada menghiasi diri Anda dengan yang baik. Wallahu a’lam bisshawab.

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Profil Penulis
Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf
Penulis Tsaqafah.id
Salman Akif Faylasuf Alumni PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Menyukai kajian keislaman dan filsafat.

13 Artikel

SELENGKAPNYA