Menjadi Muslim Tenanan (Bag. III)

Menjadi Muslim Tenanan (Bag. III)

17 Juni 2026
12 dilihat
2 menits, 57 detik

Tsaqafah.idSiapa yang nyiptain itu semua? Umat Muslim mengenalnya Allah Swt; Allāhu khāliqu kulli syay’in (QS. Az-Zumar [39]: 62).

Kita yang saat ini sedang duduk, berdiri, berlari, atau rebahan, jarang sepenuhnya sadar atau bahkan bodo amat kalau beralaskan tanah dan beratapkan langit, “…al-arḍa firāsyan wa as-samā’a binā’an… ” (QS. Al-Baqarah [2]: 22).

Di mana pun kita berada—di rumah, di jalan raya, di hotel, di kantor, di warung, di tempat ibadah, bahkan di tempat maksiat—kita tetap menumpang pada tanah dan bergantung pada alam.

Matahari terbit dan terbenam, ganti bulan, musim datang dan pergi, tanaman tumbuh, air mengalir, udara berembus; semua itu berjalan menurut hukum alam (sunnatullah). Sebagai makhluk hidup, kita nggak bisa keluar dari tata kerjanya. Kita hanya bisa mengikuti. Ya nunut, ya manut.

Siapa yang nyiptain itu semua? Umat Muslim mengenalnya Allah Swt; Allāhu khāliqu kulli syay’in (QS. Az-Zumar [39]: 62).

Baca Juga Menjadi Muslim Tenanan II

Nunut hidup sama yang nyiptain tanah, idealnya ya nggak merasa gumede, nggak merasa memiliki (mung titipan) dan nggak seenaknya sendiri. Tapi faktanya, yang berkuasa kerap sesukanya menggusur atau bahkan memusnahkan yang kecil. Sementara yang kecil sering lupa kalau sekadar membuang sampah sembarangan turut andil merusak ekosistem alam.

Tanpa membedakan yang berkuasa maupun yang kecil, kita seringkali lalai melalui gawai yang sering kita genggam. Kita kadang nggak ada was-was, bayangkan saja lagi enaknya nyekrol reels atau nonton sesuatu yang membangkitan gairah seksual, sekalinya bumi digoncangkan, Idzā zulzilati al-arḍu zilzālahā, kita bisa kal-farāsyil-mabṡūṡ, bak laron yang beterbangan. Bingung, kelimpungan.

Kita ini ya manut dengan cara kerja alam, bahkan kita bergantung padanya. Salah satu bentuk ketergantungan itu bahkan sangat mendasar: udara. Melalui udara, kita bisa bernapas dan bertahan hidup. Tanpa itu, hidup kita bisa berhenti dalam hitungan menit.

Sebagian orang Jawa zaman dulu, yang paling kuat soal keilahian, pernah menasihati; setiap hembusan napas hendaknya diiringi zikir, nyebut Allah.

Ihwal ini pernah disinggung sama Sigmund Freud dalam Moses and Monotheism (1939), kalau pengalaman manusia dengan napas dan udara turut menyumbang lahirnya gagasan tentang spiritualitas.

Kata “roh” atau “spirit” dalam berbagai tradisi bahasa berhubungan dengan makna embusan napas atau angin. Dalam bahasa Latin ada namanya ‘spiritus’ yang berarti napas atau hembusan udara, sedangkan dalam bahasa Ibrani dikenal kata ‘ruach’ yang berarti angin, napas, atau roh. Seakan-akan manusia sejak awal menangkap sesuatu yang tak terlihat namun menghidupkan, lalu memberinya nama roh.

Menariknya, apa yang dibaca Freud sebagai pengalaman manusia terhadap napas dan daya hidup memiliki kemiripan simbolik dengan gambaran Al-Qur’an tentang ditiupkannya ruh kepada manusia (QS. Al-Hijr [15]: 29). Kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah namun hidup karena ruh yang dianugerahkan Allah selayaknya melahirkan kerendahan hati.

Oleh sebab itu, meminjam bahasanya Thierno dalam Ambiguous Adventure (1962) karya Cheikh Hamidou Kane, kita sebagai makhluk “miserable lump of earthly mold” (gumpalan tanah yang menyedihkan), sudah selayaknya bersyukur, tunduk, dan ngabdi.

Baca Juga Menjadi Muslim Tenanan

Tanah-Nya bukan milik kita, langit-Nya bukan milik kita, bahkan napas yang keluar-masuk pun bukan ciptaan kita. Maka selama masih diberi hidup, barangkali sikap yang paling masuk akal adalah tetap nunut dengan penuh syukur, manut dengan penuh takzim, serta berperilaku layaknya Muslim tenanan. Ya kerja, ya salat.

Ritual salat yang didahului dengan bersuci dan wudu itu merupakan cara seorang hamba menghormati ritme alam serta berusaha menyelaraskan kehendak Tuhan. Jika salat kita masih bolong-bolong atau bahkan sudah lama sekali nggak salat, usahakan tahu dan sadar kalau kita di dunia ini hanya nunut lan manut sama ciptaan Tuhan. Kalau sudah tahu itu, sebagai bentuk terimakasih, level selanjutnya ya menegakkan salat.

Setelah salat, kerja lagi, cari rezeki yang halal. Fa iżā quḍiyatiṣ-ṣalātu fantashirū fil-arḍi wabtaghū min faḍlillāh (QS. Al-Jumu’ah [62]: 9). Kita juga boleh menikmati hasil kerja kita. Dawuhnya Allah, Wabtaghi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirah wa lā tansa naṣībaka minad-dunyā (QS. Al-Qasas [28]: 77). Soal akhirat jalan, dunia juga jalan.

Kita kerja untuk bertahan hidup, tapi kita semua pasti akan mati. Semuanya akan kembali kepada-Nya. Semua yang kita makan pun, nasi dan berbagai lauk pauk itu adalah bagian dari alam, bagian dari penciptaan Tuhan. Oleh karenanya, selama kita bisa bertahan hidup, kalau bisa jangan lupa bersyukur dan ngabdi (ibadah). Wallahu a’lam

Profil Penulis
Ahmad Fauzan
Ahmad Fauzan
Penulis Tsaqafah.id

12 Artikel

SELENGKAPNYA