Ringkasan Ansorolog x Eonoiaco Gelar Kelas Publik, Ajak Anak Muda Pahami Dekolonisasi Agama dan Masyarakat
Ansorolog bersama Eonoiaco menyelenggarakan kelas publik untuk mengkaji dekolonisasi agama dan masyarakat. Narasumber Zainun Nur Hiasyam Tahrus menekankan pentingnya memutus asumsi kebenaran universal yang dipaksakan oleh narasi kolonial. Upaya dekolonitas ini menuntut reorientasi cara berpikir serta penghidupan kembali praksis komunal yang autentik agar masyarakat tidak lagi terjebak dalam pola pikir penjajahan.
Tsaqafah.id – Wacana dekolonial tengah berkembang dan menjadi perbincangan dalam dunia akademik. Hal tersebut mendorong Ansorolog bersama Eonoiaco membuka Seri Kelas Publik: Dekolonisasi Agama dan Masyarakat Indonesia.
Kelas tersebut menghadirkan sejumlah akademisi yang mengkaji dan mendalami dekolonialisasi dari berbagai perspektif dan objek kajian, mulai masyarakat hingga agama.
Zainun Nur Hiasyam Tahrus, narasumber kelas perdana, menyampaikan bahwa dekolonial berupaya untuk mengidentifikasi diri masyarakat dari pengaruh kolonial dan memutusnya dari cara dan gaya kolonial itu.
“Untuk mencapai dekolonitas, harus diketahui aspek kolonialitas. Memutus cara pikir dari asumsi kebenaran yang dikembangkan negara barat. Itu bukan kebenaran universal,” katanya dalam kelas Pengantar Dekolonisasi Agama dan Sosiologi pada Jumat (2/10/2026) malam.
Baca Juga Fun Games di Festival Jagat: Medium Edukasi Ekologi dan Toleransi bagi Santri Seblak
Ia menyampaikan bahwa dalih kolonial menjajah suatu wilayah dengan mengiming-imingi keselamatan hingga kemajuan dan modernitas. Menurutnya, hal tersebut hanyalah semacam cerita buatan yang dipersepsikan sebagai kebenaran universal sebagai dalih penjajahan. Karenanya, decolonial tidak cukup hanya memutus gaya hidup dan pikir colonial, tetapi juga harus menghidupkan praksis komunal dari reorientasi cara berpikir yang sudah dilakukan.
“Saya harus memutus cara saya mengetahui dari kolonial ini dari sehari-hari. Kalau nggak, hanya jadi obrolan akademik, tidak berpengaruh. Jadi harus menghidupkan,” lanjut alumnus School of African and Oriental Studies (SOAS) University of London itu.
Oleh karena itu, Zainun menyebut dekolonisasi bukan dewesternisasi atau memutus segala hal dari Barat. Namun, decolonial harus memiliki partikularitas dalam cara masyarakat mengetahui sesuatu dengan alam dan budaya pikirnya sendiri.
Baca Juga Festival Jagat 2026: Tokoh Lintas Agama Dorong Aksi Nyata Hadapi Krisis Ekologi
“Orang Jawa, orang Sunda, orang Papua mengetahui dengan caranya sendiri,” kata penulis keislaman NU Online itu.
Lebih lanjut, Zainun menegaskan bahwa dekolonisasi pada dasarnya adalah upaya untuk mengkritisk asumsi kolonial yang selama ini ada di tengah masyarakat dan membangun konstruksi baru. “Kita masih belum banyak melakukan konstruksi baru asli dari rahim kebudayaan kita,” katanya.
Dari situ, ia mengutip pandangan Syed Farid Alatas, bahwa ada empat langkah dalam upaya mendekolonisasi pengetahuan sosial yang ada. Pertama, perlu mempertanyakan status epistemologis konsep-konsep dalam ilmu sosial. Kedua, mengkontekstualisasi teori sosial berdasarkan lokalitas. Ketiga, menciptakan teori dan mengglobalisasikannya dalam dunia akademik. Keempat, mengakui keberagaman konteks sosial yang mungkin tidak dicapai oleh teori yang telah dibuat itu. Artinya, tidak mesti teori yang telah dikonstruksi tersebut dapat menganalisis semua hal. Demikian ini memiliki spirit dekolonial.
Baca Juga Festival Jagat Hadirkan Fun Games dan Kelas Belajar Ekologi di Pesantren Seblak Jombang
Membumikan Wacana Dekolonisasi
Mewakili penyelenggara, Ansorolog x Eonoiaco, Afrizal Qosim menegaskan bahwa kelas ini merupakan ikhtiar menjembatani pemikiran kritis dengan kesadaran kebudayaan di tengah masyarakat.
“Tujuan utama kami adalah membumikan wacana dekolonisasi agar ia tidak asing di telinga anak muda. Jangan sampai ada kesenjangan antara wacana besar yang sedang berkembang di dunia dengan pola perilaku dan keputusan politik-kultural yang kita ambil sehari-hari. Dekolonisasi harus menjadi alat baca yang hidup, yang lahir dari rahim kebudayaan kita sendiri,” ujarnya.
Selain Zainun, kelas ini akan diisi narasumber-narasumber lain, seperti Lukman Hakim Bruno (Aktivis Dekolonial dan CRCS UGM), Proyek Dekolonial, Lien Iffah Naf’atu Fina (Mahasiswa PhD University of Chicago dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Zacky Khairul Umam (Filolog dan Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia), Geger Riyanto (Antropolog Universitas Indonesia), Ekky Imanjaya (Dosen Binus University), dan Siti Maimunah (Politik Ekologi Feminis).




