Bagaimana Sebaiknya Kita Mengikuti Pembelajaran Daring?

Tsaqafah.id – Di masa pandemi seperti ini, kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilakukan berbagai sektor pendidikan rupanya juga menjadi persoalan tersendiri. Bukan hanya masalah pembelajaran jarak jauh melainkan juga dampaknya bagi siswa. Saat ini mengingat pembelajaran online murid dituntut untuk memiliki gawai beserta akses internetnya.

Kini kita sudah memasuki bulan kedelapan PJJ, masa pembelajaran daring pun menjadi setruman kencang bagi guru maupun murid. Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman pengajar lain sedikit dikagetkan dengan sistem PJJ ini, bahkan beberapa sekolah meniadakan acara perpisahan dan membagikan raport dalam bentuk e-raport.

Di masa pembelajaran jarak jauh seperti ini, perilaku kejujuran para pelajar tentu sedang sangat diuji. Selain dituntut untuk mengerjakan tugas via daring, ia juga dituntut untuk berlaku jujur saat mengerjakan ujian misalnya, seperti tidak membuka buku catatan atau mencontek.

Bagi sekolah yang mengusung program hafalan al-Qur’an, situasi ini cukup menjadi tantangan. Tidak adanya interaksi langsung secara fisik membuat pembelajaran cukup melelahkan, menyimak setoran dan membenarkan bacaan murid menjadi agak susah. Begitu juga bagi para murid, ketidakhadiran guru secara fisik membuat motivasi peserta didik mengalami penurunan, setidaknya ini yang saya dan dan guru-guru lain rasakan. Situasi yang saya rasakan ini rasanya semakin membenarkan bahwa pendidikan bukan hanya masalah transfer of knowledge tapi juga transfer of value.

Dalam sistem setoran hafalan secara langsung, murid dan guru bisa dikatakan menjadi partner yang keduanya diuntungkan. Mengapa? Karena selain murid dapat menyetorkan hafalannya dan menambah hafalan, guru juga dapat berinteraksi langsung dan memberikan motivasi bagi murid dengan lebih dekat.

Baca Juga: Pesan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Mengapa Kita Harus Selalu Berdoa?

Berbeda dengan menyetorkan hafalan secara daring, yang biasanya saya menggunakan aplikasi chat messanger WhatsApp untuk memanggil urutan antrian setoran. Dengan menggunakan fitur video call WhatsApp saya dapat mengetahui bagaimana anak-anak menyetorkan hafalannya.

Di sinilah tantangan guru, selain menyimak dan membenarkan bacaan yang masih kurang bagus, guru juga dituntut untuk mengetahui gerak mimik wajah anak apakah ia melihat mushaf atau tidak. Di area ini, sangat terasa, betapa pentingnya melatih kejujuran peserta didik.

Setoran Hafalan Jarak Jauh

Pengalaman menyimak hafalan daring membuat saya mengetahui ada banyak cara dan style anak dalam menyetorkan hafalannya via WA video call. Mulai dari tatapan yang lurus ke depan melihat layar handphone, tatapan yang selalu fokus ke bawah, bahkan ada yang memejamkan matanya. Berbagai macam style dalam menyetorkan hafalan via . . . . . . daring juga dipengaruhi dengan salah satu kelengkapan fitur handphone, terlebih handphone yang  multitasking dimana kita bisa membuka lebih dari satu aplikasi.

Kendati handphone saya belum multitasking, saya pernah mencoba menggunakan handphone yang mempunyai fitur kemampuan multitasking. Saya mencoba melakukan panggilan video call sambil membuka aplikasi al-Qur’an yang terdapat di handphone.

Saya pun menanyakan ke beberapa anak, apakah ia bisa membuka aplikasi al-Qur’an atau mushafnya langsung ketika melakukan setoran via video call. Hampir semuanya menjawab dan mengakui bahwa ia sempat membuka al-Qur’an ketika kesulitan menghafal. 

Awalnya saya memaklumi karena mereka masih sangat belia, tetapi membiasakan anak untuk tidak berusaha dan cenderung bersikap praktis tentulah hal yang sangat buruk, terlebih tindakan itu sudah mencerminkan sikap ketidak jujuran. 

Tips Menghafal dengan Jujur

Menghafal al-Qur’an memiliki tantangan tersendiri, selain didasari dengan kemampuan dan daya ingat anak yang berbeda-beda, terdapat salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam menghafal al-Quran di situasi yang mengharuskan PJJ saat ini, yaitu bersikap jujur saat menyetorkan hafalan. 

Baca Juga: Rihana, Wali Perempuan yang Menghabiskan Waktunya untuk Beribadah

Agar kita terbiasa jujur ketika setoran hafalan maka hal itu juga harus dilatih ketika melakukan muraja’ah dan menambah hafalan. Caranya dengan mencoba sekuat mungkin untuk mengulang-ngulang ayat yang sama tanpa melihat mushaf dan selalu mengingat guru sedang menyimak walaupun tidak bertatap muka secara langsung. Latihlah diri kita untuk menyetorkan hafalan tanpa melihat mushaf seperti layaknya kita setoran di depan guru. 

Jika hal ini dilakukan, menghafal al-Qur’an pun tidak akan menjadi beban. Guru tidak serta merta akan memarahi karena kita tidak hafal satu ayat utuh, melainkan guru akan membantu dan lebih menghargai apabila hafalan al-Qur’an disertai dengan kejujuran.

Melatih Bersikap Jujur

Sikap jujur (shidiq) hendaknya menjadi hal krusial yang ditanamkan pada setiap individu, dan menjadi salah satu prinsip hidup sampai mati. Shiddiq bukan hanya sebagai salah satu sifat Nabi Saw yang paling utama dan teladan bagi umatnya seperti kita, namun sifat jujur merupakan awal dari segala kebaikan. 

Membiasakan bersikap jujur membuat hidup kita lebih baik, dengan bersikap jujur maka kita akan jauh dari perilaku berbohong. Dengan tidak berbohong ketika menyetorkan hafalan, kita tidak akan dianggap buruk dan bodoh. Justru guru akan mengapresiasi kejujuran kita, guru menjadi akan berpikir dan mengidentifikasi muridnya secara individual untuk mengetahui teknik serta cara pendekatan apa yang pas bagi setiap anak yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Semoga kita dimudahkan untuk menghafal al-Qur’an.

Wallahu a’lam

Total
0
Shares
1 comment

Comments are closed.

Previous Article

Kenapa Manusia Menderita, Jika Tuhan Mahakuasa?

Next Article

Memilih Jalan Kehidupan, Sebuah Keputusan Penuh Pertimbangan

Related Posts