Pesan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Mengapa Kita Harus Selalu Berdoa ?

Tsaqafah.id – Berdoa adalah salah satu rutinitas yang sudah diajarkan sejak kecil. Sebagai seorang muslim, mungkin sewaktu masih belia kita selalu diajarkan untuk menghafal berbagai bunyi doa seperti doa ketika mau makan, selesai makan, memakai pakaian baru, masuk rumah, keluar rumah, masuk masjid, doa bepergian dan lain-lain. 

Semakin dewasa doa kita juga semakin beragam, mulai dari lulus ujian, masuk ke perguruan tinggi favorit, jodoh, keturunan, bisnis mapan sampai kecemerlangan karir, dan masih banyak lagi.

Berdoa menjadi amat penting bagi umat beragama karena dengan berdoa seorang makhluk (ciptaan) dapat terhubung dengan Sang Pencipta. Dalam Islam, berdoa menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan Allah SWT, kita bisa meminta dan memohon apapun kepada Allah Ta’ala melalui perantara doa, seperti tersirat dalam  Q.S Ghaafir ayat 60;

ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ .غافر : ٦۰

Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku (Allah) mengabulkan doa kalian (QS. Ghaafir:60)

Dalam ayat di atas Allah SWT menyuruh kepada setiap makhluknya untuk berdoa. Kegiatan berdoa amat baik jika dilakukan sesering mungkin, tidak hanya ketika mempunyai keinginan saja. Melainkan dalam keadaan apapun, senang atau susah sudah selayaknya untuk terus memanjatkan doa. Meminta petunjuk ketika diberi nikmat, memohon ampun karena banyak dosa dilakukan, dan meminta apapun yang diinginkan hanya kepada Allah SWT.

Bisa jadi tidak semua doa yang kita panjatkan semuanya terkabul, atau mungkin dikabulkan dalam bentuk yang lain. Suatu hari mungkin kita berdoa supaya diterima kerja di tempat A, tapi . . . . . . ternyata sekarang kita bekerja di tempat B, atau mungkin meminta dapat kuliah di tempat A tapi malah masuknya di kampus lain. Namun lambat laun setelah dijalani rupanya di tempat yang sekarang kita bisa bertumbuh dan menambah banyak keahlian. Coba diingat-ingat lagi berapa kali hal seperti ini sering terjadi. Jika banyak ditemukan tentulah kita wajib bersyukur

Baca Juga: Menilik Mushaf Al-Qur’an Salinan KH Ibrahim Ghozali Ponorogo

Dalam berdoa kita mengenal beberapa prinsip, yaitu dengan mengutamakan “rasa takut” (khauf) sekaligus “mengharap” (raja’) di hadapan Allah SWT. Sambil meletakkan diri sebagai pribadi yang serendah-rendahnya di hadapan Sang Pemilik Jagat Raya adalah salah satu kunci dalam berdoa.

Mungkin kita seringkali lalai, terlalu banyak memohon perkara-perkara yang berurusan melulu duniawi kepada Allah SWT. Namun berdoa semacam itu tidak apa-apa, memang masih di tataran itu kita, yang penting kita memintanya kepada Allah SWT.

Sufi besar Syaikh Abdul Qadir al Jailani dalam Futuhul Ghaib, sebuah kitab tasawuf yang menjadi rujukan para penganut tarekat berpesan bahwa sesungguhnya dengan meminta (berdoa) kepada Allah Ta’ala maka orang yang beriman menjadi orang yang berdzikir kepada Allah, men-Tauhidkan Allah, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberi haknya sesuatu kepada yang berhak. Orang yang beriman juga bebas dari usahanya, dan kekuatannya serta ia bisa meninggalkan sifat sombong dan membanggakan diri. Seluruh hal itu adalah amal-amal sholeh yang pahalanya ada di sisi Allah SWT.

Wallahu A’lam

Total
2
Shares
2 comments

Comments are closed.

Previous Article

Rihana, Wali Perempuan yang Menghabiskan Waktunya untuk Beribadah

Next Article

Kenapa Manusia Menderita, Jika Tuhan Mahakuasa?

Related Posts