Dalam kehidupan sehari hari, kerja sering kali dipahami sekadar sebagai kewajiban. Orang berangkat pagi, pulang petang, mengejar target, lalu mengulanginya kembali keesokan hari. Namun dalam pandangan Islam, kerja tidak sesederhana itu. Ia bukan hanya aktivitas duniawi, tetapi bagian dari penghambaan kepada Allah.
Seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk bekerja, tetapi juga memahami makna di balik pekerjaannya. Setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal memiliki nilai ibadah. Karena itu, kualitas kerja tidak bisa dilepaskan dari kualitas iman. Cara seseorang menjalankan tugasnya mencerminkan seberapa dalam ia memaknai hubungannya dengan Allah.
Baca juga : Konsep Jiwa Menurut Al-Kindi
Itqan sebagai Nafas Kesungguhan dan Kesadaran dalam Setiap Pekerjaan
Nilai ini ditegaskan dalam hadis Rasulullah saw dalam kitab Musnad Abi Ya’la al Maushuli no indeks 4386
حَدَّثَنَا مُصْعَبٌ، حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنّ النَّبِيَّ قَالَ
” إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلا أَنْ يُتْقِنَهُ “
Telah menceritakan kepada kami Muṣ‘ab, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Bishr bin as-Sarī, dari Muṣ‘ab bin Ṯābit, dari Hisyām bin ‘Urwah, dari ayahnya (‘Urwah bin az-Zubair), dari ‘Āisyah (raḍiyallāhu ‘anhā) sesungguhnya Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat mencintai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, maka ia melakukannya dengan penuh kesempurnaan (ketelitian, kesungguhan, dan keprofesionalan).”
Hadis ini menghadirkan satu kata kunci yang penting, yaitu itqan. Maknanya tidak berhenti pada sekadar menyelesaikan pekerjaan, tetapi menyempurnakannya dengan sungguh sungguh. Ada ketelitian, ada keseriusan, dan ada tanggung jawab di dalamnya.
Para ulama menjelaskan bahwa itqan berkaitan erat dengan ihsan, yaitu bekerja dengan kesadaran bahwa Allah selalu melihat. Dalam keadaan seperti ini, seseorang tidak akan bekerja asal jadi. Ia akan menjaga kualitas, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Imam al Qari mengingatkan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan ceroboh mencerminkan lemahnya iman. Sementara itu, Imam al Ghazali menegaskan bahwa setiap pekerjaan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Karena itu, bekerja dengan baik bukan hanya tuntutan profesional, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Allah.
Baca juga : Baik Belum Tentu Bermanfaat
Dari Etos Kerja Menuju Peradaban
Islam tidak berhenti pada konsep, tetapi membangun karakter. Selain itqan, Rasulullah juga menekankan pentingnya kemandirian. Makanan terbaik adalah hasil usaha sendiri. Bahkan seorang nabi seperti Dawud tetap bekerja dengan tangannya sendiri. Nilai ini mengajarkan bahwa kerja adalah kehormatan. Seorang Muslim tidak seharusnya bergantung tanpa alasan, apalagi mengabaikan tanggung jawab. Dalam setiap pekerjaan, ada amanah yang harus dijaga.
Ketika nilai nilai ini hilang, yang muncul adalah berbagai penyimpangan. Orang bekerja tanpa integritas, mengejar hasil tanpa memperhatikan cara. Padahal, Islam telah meletakkan fondasi yang jelas bahwa kerja harus dibangun di atas kesungguhan, kejujuran, dan tanggung jawab.
Di sinilah etos kerja Islam menemukan relevansinya. Ia tidak hanya membentuk individu yang rajin, tetapi juga melahirkan masyarakat yang berintegritas. Ketika setiap orang bekerja dengan itqan dan menjaga amanah, maka kepercayaan tumbuh, kualitas meningkat, dan kehidupan sosial menjadi lebih baik.
Pada akhirnya, kerja bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi jalan menuju keberkahan. Ia menjadi ruang di mana iman diuji, dan sekaligus dibuktikan.
Baca Juga : Tak Ada Magrib di Kereta

