“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” ~Nyai Ontosoroh (Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer)
Tsaqafah.id – Apa yang tersisa dari seorang perempuan setelah semuanya berhasil direnggut? Kehormatan..? Di mana lagi letaknya..?. Pertanyaan itu muncul begitu saja setelah selesai membaca tetralogi buru Pramoedya Ananta Toer.
Sebuah pertanyaan yang justru ditepis oleh seorang tokoh bernama Nyai Ontosoroh atau Sanikem, tokoh yang diciptakan Pramoedya sendiri dalam melukiskan perjalanan bangsanya yang rapuh, penuh gejolak, namun menyimpan kekuatan.
Nyai atau gundik — sebutan untuk perempuan pribumi yang diambil sebagai gundik oleh orang-orang Belanda, sebuah fenomena yang banyak ditemukan kala zaman koloni hindia belanda saat itu. Para Nyai diperlakukan seperti seorang istri dengan pekerjaan pelayanan dan tugas-tugas ‘keperempuanan’.
Namun, seorang Nyai tidak terikat dalam pernikahan yang sah. Posisinya amat rentan, tak ada di depan hukum. Bahkan soal anak-anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri, seorang nyai tak berhak atasnya.
Seperti tentang anaknya, Annelies, soal hak asuhnya justru jatuh ke tangan Ny. Mellema, istri sah dari tuan Mellema — yang mengangkat Nyai Ontosoroh sebagai gundiknya. Selepas Tn. Mellema wafat, kehidupan Nyai Ontosoroh beserta anak-anaknya seperti bubar jalan.
Baca juga Perjalanan yang tak Melulu Kita Pahami
Posisi Nyai jauh dari kata aman meski hidup bergelimang harta dari tuannya. Tuan Mellema juga bukan laki-laki yang jahat dalam memperlakukan Sanikem. Dari gadis desa yang polos dan lugu, yang tiada tahu apa-apa, ia diajari banyak hal oleh Mellema. Pelajaran seperti bahasa belanda dan cara memutar roda bisnis perusahaan turut Sanikem cecap dari tuannya itu. Dari gadis desa yang lugu, powerless, Sanikem menjelma menjadi perempuan yang cerdas dengan penampilan terhormat.
Seiring berjalannya waktu, hubungannya dengan Tn. Mellema menjadi penuh tanda tanya dan membingungkan. Ada nista, tapi juga rasa akan pengangkatan harkat diri sebab adanya keterbukaan akses dalam ilmu pengetahuan dan harta. Ia rasai betul bahwa kemanusiaannya justru ia sadari dan ia temukan dari hubungannya dengan Mellema.
Aneh, tapi betapa untuk mengetahui kehormatannya sebagai seorang manusia tidak ia temukan bahkan dari keluarganya sendiri tatkala ia masih seorang gadis dan dijual oleh ayahnya ke Mellema. Keluarganya yang papa itu hanya bisa mencerca bahwa menjadi nyai adalah sesuatu yang memalukan. Tapi keluarga itu tak bisa memberitahu bagaimana seharusnya menjadi manusia terhormat.
Menurut Katrin Bandel, kritikus sastra Indonesia, dalam esainya “Nyai Dasima dan Nyai Ontosoroh: Sebuah Intertekstualitas Pascakolonial”, menyatakan bahwa melalui Nyai Ontosoroh, Pramoedya Ananta Toer membuat perumpamaan yang sangat pas untuk sebuah negara koloni seperti Indonesia. Di mana pengetahuan yang datang dari luar memicu masyarakat mempertanyakan nilai-nilai budayanya sendiri.
Memang dalam serial tetralogi buru, Pram — panggilan akrab Pramoedya, juga mengkritik keras feodalisme Jawa, yang baginya tidak bisa menunjukan jalan kemanusiaan (bagi orang-orang seperti Sanikem). Bahkan dalam tetralogi buru bisa kita dapati bahwa nyai Ontosoroh baru mengetahui nilai kemanusiaannya setelah bertemu Mellema, sedang ia dijual oleh ayahnya sendiri kepada Mellema.
Di titik itulah, menurut Katrin Bandel ada ambivalensi. Bisa dibayangkan betapa tak karuannya gejolak jiwa seorang Nyai Ontosoroh. Benci sama keluarganya tidak bisa, tapi benci Mellema juga tidak bisa meski statusnya sangat rentan — sebagai gundik.
Itulah yang dirasai sebuah negara koloni, tepat sekali dalam pelukisan seorang Nyai Ontosoroh. Dimana dalam kajian pascakolonial, barat selalu memandang timur sebagai subjek — yang memukau, yang feminin dan perlu diatur (Edward Said, 1978).
Baca juga Tantangan Dekolonialisasi Pengetahuan
Konflik batin seorang Nyai menyisakan banyak luka dan harapan. Orang pikir habis sudah kehormatan seorang perempuan bernama Sanikem, sejak dia dikirim oleh ayahnya sebagai Nyai. Tapi rupanya Sanikem menolak itu, dan ia bisa melakukannya.
Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Itulah perkataan Sanikem pada menantunya, Minke, tatkala ia mendapat perlakuan ketidakadilan di depan hukum pemerintah hindia belanda. Jika kita cermati, kalimat seperti itu tidak mungkin datang dari seorang gundik yang hanya bersimpah pasrah pada tuannya — yang hanya bisa mengandalkan perlindungan dari tuannya. Tidak, kalimat itu powerful, dan hanya bisa datang dari orang-orang yang tahu bahwa dirinya “manusia” terhormat.
Nyai Ontosoroh bukan perempuan pribumi yang hanya bisa berdiam diri, mengandalkan sikap ‘keperempuanan’nya dan menghamba belas kasih dari tuannya dalam bertahan hidup. Ia cerdas, pintar, dan lihai. Dan dalam kekuatan seperti itu, seorang Pramoedya AT memendam gejolak jiwanya dalam karya-karya sastranya, sebagai manusia yang terlahir di negeri koloni. Ia menolak tunduk.
Selepas Mellema wafat, Nyai Ontosoroh tetap menjalankan roda perusahaan. Ia bukan perempuan yang kurang kesadaran, posisinya yang lemah sudah lama ia sadari betul, Mellema bisa pergi sewaktu-waktu jika dia mau, dan mengenai anak-anaknya — mereka akan jatuh hak asuhnya pada istri sah Mellema di Netherland, jika Mellema wafat. Nyai Ontoaoroh sadar akan posisinya, dan di situlah kegelisahan tiada henti sekaligus keberanian dan harapan saling beradu dalam pedalamannya.
Rupanya, menjadi gundik bukanlah akhir dari perginya ‘kehormatan’ Sanikem sebagai manusia, sebagai perempuan. Bukan pada status sosial lagi, namun kediriannya. Keutuhan diri seorang Nyai Ontosoroh ada pada pikiran dan kesadaran, yang ia peroleh lewat pengalamannya yang kaya dalam perjalanan panjang hidupnya sampai menjadi seorang Nyai.
Baca juga Berani Menggugat, Berani Berpendapat: Kritik Prof. Aji atas Inferiority Complex Akademisi Indonesia
Dalam diri seorang Nyai Ontosoroh itulah sesungguhnya simbol negara dunia ketiga. Penduduknya yang mendapatkan ‘pencerahan’ pengetahuan melalui jalan koloni-koloni, senantiasa menumbuhkan ambivalensi-ambivalensi dan penuh pertanyaan. Apa yang datang dari luar dalam jalan koloni-koloni itu juga memunculkan curiga, was-was, dan penuh pertentangan.
Ada semacam “pencerahan” dari ilmu pengetahuan, norma, dan budaya yang dibawa oleh para penjajah. Namun tidak sepenuhnya seperti itu, lebih jauh menurut Katrin Bandel, di Indonesia dan di negeri jajahan yang lain, “agama” baru itu diperkenalkan sebagai yang unggul dan modern oleh penjajah sehingga tidak ada proses “penyadaran” atau “rasionalisasi” seperti yang terjadi di Barat, meski rakyat di negeri jajahan bisa menerima tetapi berbagai kepercayaan dan pengetahuan sebelumnya tentu tidak hilang begitu saja. (Katrin Bandel, ‘Dukun dan Dokter dalam Sastra Indonesia’).
Ilmu pengetahuan modern yang datang bersamaan dengan praktik kolonialisme, di mana di situ ada upaya-upaya penundukan, penaklukan, menjadi sesuatu yang penuh tanda tanya. Ada kebajikan yang diakui dari datangnya ‘pencerahan’ ilmu pengetahuan modern, ada kebaikan yang ditimbulkan, namun juga ada syarat penaklukan di dalamnya yang penuh dengan ketidakadilan. Kita dipaksa memahami sekaligus mempertanyakan, dalam dunia yang bergerak atas logika pasar.
Dan akhirnya, melalui sosok Nyai Ontosoroh kita paham juga, bahwa kehormatan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh kesadaran dan keberanian melawan ketidakadilan.
Selamat Hari Perempuan Internasional, Hidup Perempuan yang Melawan!

