Dialog Kanjeng Nabi Adam dan Nabi Musa

Dialog Kanjeng Nabi Adam dan Nabi Musa

08 September 2025
217 dilihat
1 menit, 32 detik

Tsaqafah.id — Dalam sebuah majelis agung di alam malakut, pernah terjadi dialog antara Nabi Musa dan Nabi Adam. Musa, yang dikenal sebagai kalimullah—seorang nabi yang mendapat kehormatan berbicara langsung dengan Allah—menyapa bapak seluruh manusia itu dengan nada penuh tanya.

”Engkau adalah Adam,” kata Musa, ”yang telah Allah ciptakan dengan tangan-Nya, ditiupkan ruh dari-Nya, dan dijadikan malaikat sujud kepadamu. Namun mengapa engkau tergelincir sehingga engkau dan anak cucumu harus turun dari surga ke bumi?”

Mendengar itu, Nabi Adam tidak serta merta terdiam. Dengan penuh ketenangan ia menjawab, ”Wahai Musa, engkau adalah yang Allah pilih untuk menerima Taurat, di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu, dan engkau berbicara langsung dengan-Nya. Maka, apakah engkau akan mencelaku atas suatu perkara yang telah Allah tetapkan bagiku sebelum aku diciptakan?”

Riwayat menyebutkan, peristiwa itu terjadi sebagai hujjah Adam terhadap Musa. Adam tidak bermaksud melepaskan diri dari kesalahan, karena ia telah mengakui dosanya dan berdoa dengan penuh penyesalan:

Baca juga Rabiul Awal, Momentum Menagih Janji: Belajar dari Kepemimpinan Rasulullah SAW

Rabbana zhalamna anfusana wa illam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.”

Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami benar-benar menjadi orang-orang yang merugi.

Doa itu menjadi bukti bahwa Adam mengakui kelalaiannya. Tetapi, dalam dialog dengan Musa, Adam menegaskan bahwa turunnya manusia ke bumi adalah bagian dari takdir Allah yang sudah ditentukan sejak sebelum penciptaan. Sebab Allah memang telah menetapkan bumi sebagai tempat manusia menjadi khalifah.

Dengan demikian, hujjah Adam diterima. Ia telah berdosa, namun segera bertobat. ada sudut pandang yang menarik yang mungkin ini menjadi penegasan bahwa, dikatakan iman: ketika bisa menerima qadla qadar baik dan buruk. Kabeh pasrahke dening gusti Allah.

Nabi Musa sendiri pernah melakukan kesalahan. Musa kemudian berdoa: “Rabbi inni zhalamtu nafsi faghfir li, faghafara lahu” — “Ya Tuhanku, aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku,” lalu Allah pun mengampuninya.

Dialog Nabi Adam dan Nabi Musa ini menyingkap satu pelajaran mendalam: bahwa manusia memang bisa salah, tetapi ia wajib bertaubat. Setelah itu, setiap musibah yang datang adalah bagian dari takdir Allah yang tidak pantas dicela.

Baca juga Menyambut Bahagia, Abu Lahab Dapat Diskon

Profil Penulis
Hilmi Fauzi
Hilmi Fauzi
Penulis Tsaqafah.id

2 Artikel

SELENGKAPNYA