Islam dan Jalan Panjang Dekolonisasi Pengetahuan

Islam dan Jalan Panjang Dekolonisasi Pengetahuan

01 Agustus 2025
220 dilihat
2 menits, 46 detik

Islam memiliki sejarah panjang sebagai pelopor ilmu pengetahuan. Dari Baghdad hingga Andalusia, dari logika Aristotelian hingga pengembangan optik dan kedokteran, Islam pernah menjadi mercusuar ilmu dunia. Namun sejak kolonialisme menginfiltrasi dunia Muslim, sistem pendidikan, sumber otoritas, dan pola berpikir kita pun perlahan bergeser

Tsaqafah.id – Dalam Islam, ilmu bukan sekadar akumulasi konsep dan hafalan, melainkan nur, cahaya yang menuntun manusia menuju keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan yang utuh. Namun apa jadinya ketika cahaya itu dibatasi oleh warisan kolonial yang masih mengatur cara kita berpikir, mengajar, dan menafsir agama?

Pertanyaan inilah yang menjadi napas dari forum Online Summer Course bertajuk Dekolonisasi Pengetahuan, diselenggarakan oleh PCINU Amerika Serikat dan Kanada pada 25 Juli 2025.

Dalam forum tersebut, Dr. Lailatul Fitriyah (Dosen Claremont School of Theology) hadir sebagai narasumber dan Fajri Zulia Ramdhani (Mahasiswa Doktoral Western Sydney University) sebagai moderator. Keduanya mengajak kita menyelami ulang bukan hanya isi pengetahuan yang kita warisi, tetapi juga struktur kuasa yang menopangnya.

Pengetahuan yang Terjajah, Umat yang Terbelenggu

Umat Islam memiliki sejarah panjang sebagai pelopor ilmu pengetahuan. Dari Baghdad hingga Andalusia, dari logika Aristotelian hingga pengembangan optik dan kedokteran, Islam pernah menjadi mercusuar ilmu dunia. Namun sejak kolonialisme menginfiltrasi dunia Muslim, sistem pendidikan, sumber otoritas, dan pola berpikir kita pun perlahan bergeser mengikuti pola Barat yang hegemonik.

Baca juga Menafsir Ulang Islam Kontemporer di Era Digital: Dari Wacana hingga Keterlibatan Generasi Muda

Hari ini, tak sedikit institusi pendidikan Islam yang justru mengadopsi model epistemik kolonial tanpa sadar. Nama-nama seperti Durkheim, Kant, atau Foucault dipelajari dengan antusias, sementara pemikiran kritis dari dalam tradisi Islam sendiri nyaris tak terdengar. Bahkan dalam studi Islam, kriteria ilmiah seringkali didasarkan pada standar modernisme Barat yang terkadang tak selalu selaras dengan nilai-nilai ruhani atau keadilan sosial.

Dr. Laila menegaskan bahwa dekolonisasi bukan tentang anti-Barat atau romantisme masa lalu, melainkan upaya membongkar struktur kuasa yang menentukan siapa yang layak dianggap “berilmu”, siapa yang layak didengar, dan siapa yang terus dipinggirkan. Ini adalah perjuangan etis untuk membangun pengetahuan yang lebih adil, empatik, dan berpihak pada kemanusiaan.

Islam sebagai Ilmu yang Membebaskan

Dalam sejarah kenabian, ilmu selalu lahir dari ruang-ruang yang sederhana, bukan dari menara gading kekuasaan. Nabi Muhammad Saw tidak menyampaikan wahyu dari istana, melainkan dari gua Hira. Ia berbicara kepada para buruh, budak, perempuan miskin, dan anak-anak yang tidak masuk dalam narasi sejarah besar.

Forum ini mengingatkan bahwa membangun epistemologi Islam yang dekolonial berarti memulihkan keberpihakan terhadap mereka yang selama ini terpinggirkan. Suara kaum marjinal, kelompok rentan, dan masyarakat adat yang hidup dekat dengan alam dan spiritualitas, semua ini harus diposisikan sebagai bagian sah dari konstruksi pengetahuan Islam yang hidup dan berakar.

Baca juga Muhammad Al-Fayyadl : Seluruh Dunia sebagai Darul Dakwah bagi Umat Islam (1)

Moderator Zulia menambahkan bahwa kerja dekolonisasi juga menyentuh aspek afektif: bagaimana kita menyikapi perbedaan, mendengarkan pengalaman yang tak tertulis dalam buku, dan merumuskan ulang ilmu sebagai jalan kasih sayang, bukan sekadar dominasi konsep. Islam harus menjadi ruang yang ramah bagi semua pencari makna, bukan pagar yang membatasi siapa yang berhak belajar dan mengajar.

Dari Refleksi ke Aksi: Membebaskan Umat Melalui Ilmu

Dekolonisasi pengetahuan menuntut keberanian: untuk mempertanyakan, untuk melepaskan, dan untuk merumuskan ulang. Kita semua, sadar atau tidak, adalah bagian dari warisan sistem pendidikan dan epistemologi yang menormalisasi ketimpangan. Maka tugas kita adalah menyembuhkan: menyembuhkan pengetahuan dari arogansi, dan menyembuhkan umat dari ketakutan berpikir.

Islam mengajarkan bahwa ilmu sejati tidak menindas, tetapi membebaskan. Ia tidak menciptakan hierarki semu, tetapi menumbuhkan martabat manusia. Maka, forum ini menjadi panggilan bagi umat Islam, khususnya generasi muda, untuk memulai revolusi sunyi: belajar dengan kritis, mengajar dengan rendah hati, dan menulis dengan keberpihakan pada kemanusiaan.

Saat kita berani menggeser pusat pengetahuan dari ruang dominasi ke ruang empati, dari teori ke pengalaman hidup, maka kita tidak hanya mendekolonisasi ilmu, tetapi juga menghidupkan kembali misi kenabian: membawa cahaya bagi dunia yang masih gelap oleh ketimpangan.

* Disarikan dari Forum Online Summer Course PCINU Amerika Serikat & Kanada pada 25 Juli 2025.

Profil Penulis
Mansur Hidayat
Mansur Hidayat
Penulis Tsaqafah.id
Mansur Hidayat merupakan pengurus LPTNU Kabupaten Demak dan dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kudus. Ia adalah alumnus sejumlah pesantren, tempat ia membangun fondasi intelektual dan spiritualnya. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Minat intelektualnya berfokus pada kajian komunikasi, media, serta dinamika sosial-keagamaan dalam konteks kontemporer. Ia aktif menulis artikel populer dan akademik yang berupaya menjembatani ruang reflektif antara tradisi dan modernitas.

3 Artikel

SELENGKAPNYA