Kadang dalam banyak kesamaan di sana ada banyak perbedaan, terkadang dalam keakraban adalah keterasingan, dan dalam keterasingan kadang keakraban yang saling memanggil. Jarak tak melulu soal selera, kadang juga soal yang entah.
Tsaqafah.id – Genap dua tahun saya menghabiskan waktu di rumah. Banyak yang istimewa, banyak yang biasa-biasa saja. Tapi yang biasa-biasa itu lebih banyak perlu disyukuri. Hal yang selalu saya ingat adalah ketika memasuki rumah nenek.
Sebuah bangunan kayu tua khas jaman dulu dengan ruang tamu dan halaman yang luas. Rumah itu sudah tak lagi berpenghuni, tepat di samping rumah saya tinggal, kini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang bekas. Padahal rumah tua itu selalu memanggil pada memori-memori terdalam.
Di rumah tua itu, saya banyak menghabiskan masa kecil dengan mengikuti kegiatan nenek. Setiap pagi nenek berangkat ke sekolah tempatnya mengajar, di sebuah desa yang lebih dekat dengan gunung Sindoro. Belum ada kendaraan umum, jalan kaki sekitar 17 KM pulang pergi, kadang juga ditemui binatang alas seperti babi hutan atau macan tutul.
Jalanan yang masih bebatuan mungkin akan menciptakan suasana menyedihkan jika diteropong di masa sekarang. Sangat cocok untuk iklan donasi dengan potret seorang guru yang sudah hampir pensiun harus berjalan kaki demi mengajar, melewati belantara persawahan dan pohon-pohon mahoni. Aihhh.. itu kan kerjaan saya sebelum-sebelumnya.
Baca juga; Ojek Perempuan Di Pintu Keluar Stasiun
Tapi jarak yang ditempuhnya setiap hari itu seperti tak pernah jadi soal buat nenek. Pun buat saya ketika seiring tumbuh dewasa. Terkadang jarak itu tak hanya soal lokasi, tapi juga soal lain. Seperti saat saya mengobrol dengan seorang teman, ketika humor atau plesetan yang kita lontarkan tak bisa ditangkap lawan bicara, atau ketika perbincangan kita tak bisa dimengerti lawan bicara, itulah jarak.
Namun, tak sesederhana itu juga. Jarak barangkali adalah jurang-jurang, seperti saat saya mulai merasa masyarakat tempat saya tinggal memiliki pola kehidupan yang tidak saya kenali. Hal-hal yang saya pikir tidak masuk akal bisa menjadi biasa di tengah-tengahnya. Tentang kebiasaan yang umum seperti menghabiskan energi tanpa perolehan yang berarti tetapi mereka menikmatinya.
Jarak tentang lokasi mungkin lebih mudah kita abaikan, tetapi jarak lain itu lebih sulit. Setelah melewati life after break up, seseorang akan lebih mudah memahami tentang jarak. Kenapa kita tidak bisa bersama dengan seseorang untuk waktu yang lama adalah keputusan sadar saat kita mengerti tentang jarak itu. Juga tentang ingatan bahwa orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup kita kadang untuk memberikan pelajaran.
Setiap individu seringkali kita lihat sekaligus dengan atribut yang ia kenakan, mulai dari agama, suku, selera musik, bacaan, film, dan tentu saja style fashion. Seolah dengan itu semua kita bisa menembus sebuah jarak. Padahal tidak sesederhana itu.
Kadang dalam banyak kesamaan di sana ada banyak perbedaan, terkadang dalam keakraban adalah keterasingan, dan dalam keterasingan kadang keakraban yang saling memanggil. Jarak tak melulu soal selera, kadang juga soal yang entah.
Saya pikir, apakah seperti ini yang dirasakan antar individu? Salah satu jawabannya mungkin ada pada sosok Minke, tokoh fiktif yang diciptakan Pramoedya Ananta Toer dalam ‘Anak Semua Bangsa’, salah satu novel dalam tetralogi buru yang masyhur.
Baca juga; Nyala-Nyala di Tempat Ibadah
Minke juga merasakan sebuah jarak itu, ketika ia berkunjung ke Trunodongso, seorang petani miskin yang tinggal bersama istri dan anak-anaknya di rumah gubuk reyot dalam cengkraman ancaman pabrik gula.
Trunodongso, sebentar lagi harus meninggalkan gubuk reyot dan pekarangannya. Kebunnya tinggal sepetak yang ia pertahankan mati-matian untuk makan istri dan 5 anaknya, sawah tentu saja sudah diambil pabrik gula.
Pemerintah Hindia Belanda akan menggunakan tempat itu untuk melebarkan pabrik gula. Dongso harus pergi, bagaimanapun caranya. Termasuk para pamong desa yang menginginkan kedudukan di pabrik gula juga harus ikut mengusir Dongso.
Minke menyadari jarak antara ia dan Dongso. Saat pertama kali tatapan Dongso penuh curiga dan ancaman untuk Minke, “saya bukan priyayi pabrik, pak.” Minke mencoba beramah-tamah. Tapi tentu saja, bagi seseorang yang sudah lama dijarah segala yang ia miliki, Dongso selalu memendam waspada pada siapa pun yang datang selain mereka yang sama-sama petani.
Pelan-pelan Dongso mulai melunak, Minke bertamu ikut pulang ke rumah Dongso. Minke dapati kedua anak Dongso yang laki-laki sedang mencangkul, pun penuh kecurigaan padanya. Makan dan bermalam di rumah Dongso, Minke menyadari Dongso tampak lebih menarik dan tidak seperti petani-tetani pada umumnya, Dongso berani berpendapat dan melawan pabrik gula meski hanya dengan parang dan kebebalannya.
Dongso tentu saja tak pernah makan sekolah, hanya mengandalkan apa yang disebut amock, sebuah sikap yang bukan hendak untuk mempertahankan diri, menyerang, atau membalas dendam. Melainkan karena tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya setelah kesempatan hidupnya yang terakhir dirampas juga.
Baca juga; Cinta, Cemburu, dan Kesadaran yang Terlambat dari Novel Al-Majdulin
Minke menyadari bahwa ia berjarak dengan orang-orang seperti Dongso. Sahabatnya, Jean Marais dan Kommer selalu mengatakan padanya bahwa ia tidaklah menulis tapi berpidato, berkhotbah, dan itu adalah seburuk-buruk tulisan. Minke berjarak pada Dongso, ia tak mengenal Dongso.
Tapi semenjak ia menginap semalam di rumah Dongso, Minke mulai mengenal kehidupan Dongso. Sejak saat itulah Minke bertekad menulis dengan bahasa Melayu, Minke ingin berbicara dengan orang-orang sebangsanya.
Yah begitulah, pada akhirnya apa yang kita sebut sebagai ‘jarak’ melibatkan banyak hal yang lebih kompleks dan lebih subtil, di sana adalah keterasingan, dan di sana pula ada pilihan, apakah kita hendak memahami atau meninggalkan.

