Tsaqafah.id – Cinta sering digambarkan sebagai perasaan yang indah dan sumber kesedihan yang tak terhindarkan dalam banyak karya sastra klasik. Yang menggambarkan berbagai emosi manusia, mulai dari kebahagiaan hingga kesedihan.
Cinta dianggap oleh beberapa penyair Arab sebagai racun atau kegilaan yang dapat menghilangkan akal sehat. Dalam buku yang ditulis oleh Syaikh Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi, Al-Majdulin, cinta digambarkan sebagai ujian dan anugerah bagi para tokohnya.
Tampak jelas bagaimana cinta menjadi sumber kegelisahan dan konflik dalam diri seseorang yang merasakannya. Ketika Stefen melihat Majdulin bersama Arshmid, ia merasa terusik meskipun tidak secara eksplisit mengakui perasaannya. Ada perasaan cemburu yang merayapi hatinya, tetapi ia sendiri bertanya-tanya apakah ia memang memiliki hak untuk merasa demikian.
Baca Juga: Apakah Agama atau Moral, Mana lebih Dulu?
Hal ini tergambar dalam kalimat:
“ثم عاد إلى نفسه يسائلها عن السبب في انقباضه ووحشته، وعن تلك الحال الغربية التي ألمت بفؤاده منذ الساعة ويقول ما لي ولهذا الفتى؟. (ماجدلين. مصطفى لطفي المنفلوطي. ص:10)
Artinya: “Kemudian ia kembali bertanya pada dirinya sendiri tentang sebab kesedihannya dan keadaan aneh yang melanda hatinya sejak saat itu, seraya berkata: Apa urusanku dengan pemuda itu?).”
Secara linguistik, teks ini menunjukkan bagaimana bahasa Arab mampu mengungkapkan kompleksitas emosi dengan gaya bahasa yang penuh dengan metafora dan kiasan.
Misalnya, penggunaan frasa “دبيب البغض” (getaran kebencian) menggambarkan perasaan cemburu yang perlahan merayap dalam hati Stefen, seperti racun yang menyebar perlahan namun pasti. Selain itu, kata “وحشته” (kesepian) memperkuat bahwa perasaan cinta yang tidak terungkap dapat menyebabkan kehampaan dalam jiwa seseorang.
Dalam syair-syair yang mengkritik cinta, banyak penyair Arab menggambarkannya sebagai sesuatu yang menguasai hati dan pikiran hingga menghilangkan ketenangan jiwa. Seorang penyair mengatakan bahwa cinta adalah “zafrah demi zafrah” (desahan demi desahan) dan “panas di dalam hati yang tak pernah dingin.”
Baca Juga: Merayakan Jilbab, Merayakan Keberagaman Muslimah
Hal ini menunjukkan bagaimana cinta dapat mengubah hidup seseorang menjadi lautan kegelisahan. Dalam novel Al-Majdulin, perasaan semacam ini dialami oleh tokoh utama, yang mendapati dirinya tersiksa oleh cinta, cemburu, dan kesadaran yang datang terlambat.
قال الأصمعىّ: سئل أعرابىّ عن الحبّ، فقال: وما الحب؟ وما عسى أن يكون؟
هل هو إلا سحر أو جنون. ثم قال:
هل الحبّ إلا زفرة بعد زفرة، … وحرّ على الأحشاء ليس له برد؟
وفيض دموع العين منّى كلّما … بدا علم من أرضكم لم يكن يبدو؟. _(نهاية الأرب في فنون الأدب. النويري، شهاب الدين (733 ه). ج:2، ص: 149. (الفن الثانى فى الإنسان وما يتعلق به، القسم الأول فى اشتقاقه، وتسميته، وتنقلاته، وطبائعه، ووصفه، وتشبيهه)._
Artinya:
Al-Ashma‘i berkata: Seorang Arab Badui ditanya tentang cinta, maka ia menjawab:
“Apa itu cinta? Dan apa yang bisa terjadi dengannya?
Bukankah ia hanyalah sihir atau kegilaan?”
Kemudian ia melanjutkan:
“Apakah cinta itu tidak lain hanyalah satu helaan napas demi helaan napas,
Dan panas yang membakar dalam dada yang tiada dinginnya?”
“Dan air mata yang selalu mengalir dariku setiap kali
Tampak tanda-tanda negeri kalian yang sebelumnya tak terlihat?”
Badui ini mempertanyakan apakah cinta hanyalah bentuk dari ilusi (sihir) atau ketidakwarasan (gila). Hal ini menunjukkan bahwa cinta bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya, seakan-akan berada di bawah pengaruh kekuatan magis yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Baca Juga: Kisah Greta And The Giant: Memahami Krisis Ekologi Melalui Cerita Anak
Al-Majdulin menggambarkan perjalanan emosional seorang pemuda yang awalnya tidak menyadari kedalaman perasaannya, hingga akhirnya terjerat dalam lingkaran cinta dan kecemburuan. Ketika menyaksikan gadis yang dicintainya bersama orang lain, ia mulai merasakan luka yang selama ini tak ia sadari.
Penderitaan batin yang dialaminya bukan hanya karena cinta yang tak terbalas, tetapi juga karena keengganannya untuk mengakui perasaannya sejak awal. Seperti dalam syair yang menyebut cinta sebagai “penyakit yang lebih buruk dari demam,” tokoh dalam novel ini juga mengalami kegelisahan yang berlarut-larut akibat cintanya.
Cinta dalam Al-Majdulin bukan hanya tentang kebahagiaan dua insan yang saling mencintai, tetapi juga tentang kesalahpahaman, pengorbanan, dan keterlambatan dalam menyadari perasaan sejati. Tokoh utama mengalami pergulatan batin yang mendalam, sebagaimana digambarkan dalam adegan-adegan di mana ia merasa terasing, terbakar cemburu, dan akhirnya menyadari betapa besar cintanya terhadap sang gadis. Namun, kesadaran ini datang terlambat, ketika takdir telah membawa gadis itu ke dalam pelukan pria lain.
Baca Juga: Merajut Damai di Bulan Suci: Sebuah Teladan dari Kanjeng Nabi
Syaikh Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi berhasil menghadirkan narasi yang menggugah tentang dinamika cinta yang kompleks. Novel ini mengajarkan bahwa cinta bukan sekedar perasaan, tetapi juga ujian yang mengharuskan seseorang untuk memahami dan mengambil keputusan dengan tepat. Cinta yang tidak diungkapkan pada waktunya bisa berubah menjadi penyesalan yang menyakitkan, sebagaimana yang dialami oleh tokoh utama dalam kisah ini.
Melalui novel Al-Majdulin, kita dapat melihat bagaimana cinta, cemburu, dan kesadaran yang terlambat menjadi elemen penting dalam perjalanan emosional seorang manusia. Dan, bagaimana rasa cemburu itu bisa merusak perasaan dan hubungan, serta bagaimana kesadaran yang terlambat sering kali menjadi awal dari penderitaan yang lebih dalam. Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah tragis yang dituangkan dalam novel klasik ini.

