Jomblo Ideologis: Dua Puluh Ulama yang Memilih Melajang Demi Ilmu

Tsaqafah.id – Belakangan ini, ajakan untuk menikah muda semakin santer digaungkan. Pernikahan dianggap sebagai solusi terakhir untuk menghindari zina terutama oleh mereka yang menyebut diri sebagai pendukung gerakan anti-pacaran. Memang betul bahwa menikah sangat dianjurkan dalam Islam sebagai kenikmatan yang disyariatkan. Meski demikian, menikah sebagai perjalanan seumur hidup bukan perkara yang mudah dilakukan terlebih di usia muda.

Di sisi lain, banyak jalan untuk meraih kemuliaan dan keridhaan Allah selain dengan menikah. Banyak ulama yang lebih memilih meraup ilmu sebagai cara untuk menggapai ridha-Nya. Mereka memilih membujang seumur hidupnya untuk mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan.

Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah merangkum nama dua puluh cendekiawan muslim yang memilih menjomblo seumur hidupnya. Setelah wafat, para ulama ini tidak meninggalkan keturunan melainkan warisan ilmu yang berharga bagi generasi sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa jomblo tidak melulu buruk, begitu pula menikah tidak selalu jadi tujuan terbesar seorang muslim.

Berikut keduapuluh ulama yang memilih melajang demi ilmu:  

  1. Abdullah bin Abi Najih Al-Makki

Seorang imam yang jujur, kuat hafalan, dapat dipercaya, serta ahli tafsir yang hidup pada abad kedua hijriah di Makkah. Salah satu kesaksian menyebutkan bahwa selama tiga puluh tahun ia tidak pernah berbicara satu kalimat pun yang menyakiti teman ngobrolnya.

2. Yunus bin Habib Al-Basri

Ahli nahwu (gramatikal Arab) yang tinggal di Basrah. Di sana ia membuat halaqah di mana para sastrawan dan ahli bahasa datang silih berganti untuk berguru.

3. Husain bin Ali Al-Ju’fi

Dikenal sebagai ulama zuhud dari Kufah. Merupakan ahli hadis dan ahli Quran yang disegani orang-orang pada zamannya. Beberapa orang meyakininya sebagai wali abdal atau kekasih Allah yang tidak menyukai hal-hal duniawi.

4. Abu Nasyrin Bisyr bin Al-Harits

Ulama ini menetap di Baghdad dan belajar serta mengajarkan ilmu hadis di sana. Terkenal sebagai sosok yang menyibukkan diri dengan ibadah dan bersikap wira’i atau berlaku hati-hati terhadap hal-hal yang makruh dan yang syubhat.

5. Hannad bin As-Sari

Hidup pada abad ketiga hijriyah di Kufah, ulama ini dikenal atas konsistensinya beribadah. Selama tujuh puluh tahun, sejak dhuha hingga maghrib ia terus melakukan ibadah. Ia sering menangis dalam ibadah-ibadahnya.

6. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari

Seorang ulama di abad ketiga hijriah yang menguasai banyak bidang ilmu seperti tafsir, hadis, fiqih, Al-Qur’an, sejarah, bahasa, hingga sastra. Ia juga merupakan mujtahid mutlak dan menjadi salah satu tokoh masyhur dalam dunia Islam.

7. Al-Imam Abu Bakar bin Al-Anbari

Ulama yang wafat di abad keempat hijriah ini tidak meninggalkan keluarga atau keturunan melainkan tak kurang dari tiga puluh karya di mana lembaran karyanya maksimal berjumlah 500 ribu halaman.

8. Abu Ali Al-Farisi

Lahir di Persia, ulama ini menghabiskan umurnya untuk berkelana ke berbagai negara untuk belajar, mengunjungi para ulama, dan mengajar. Tercatat ada . . . . . . 25 karya yang ia wariskan setelah wafat.

9. Abu Nashr As-Sijzi

Seorang ahli hadis yang hafal ribuan hadis. Pada abad kelima hijriah, ia mulai berkelana ke berbagai negara untuk belajar dan mengajar hingga tak menyisakan waktu untuk menikah dan berumah tangga.

10. Abu Sa’d As-Sammani Ar-Razi

Lahir di abad keempat hijriah, ulama ini dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an dan ahli tafsir yang cinta ilmu. Ia berkelana mengelilingi dunia timur hingga barat. Ia dikenal dengan karakternya yang terpuji.

Baca juga : Kisah Umar bin Khattab dan Perempuan Pedagang Susu

11. Al-Hafizh Al-Anmathi Abu Barakat Abdul Wahab bin Al-Mubarak bin Ahmad Al-Baghdadi

Dikenal sebagai ulama hafizh yang ceria dan bagus pergaulannya. Ia tidak memperkenankan dirinya liburan dan terus menulis karya-karya.

12. Abul Qasim Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari

Lahir pada abad kelima hijriah, ia dikenal sebagai satu-satunya tokoh pada zamannya yang menguasai ilmu bahasa, gramatikal Arab, sastra, hingga kedokteran. Kitab-kitab ilmu kebahasaan karyanya dianggap sebagai yang terbaik.

13. Abdullah bin Ahmad bin Al-Khasyab

Dijuluki sebagai ulama paling ahli gramatikal Arab pada masanya yaitu pada abad keenam hijriah.Ia hidup dalam kesederhanaan dan bergaul dengan masyarakat awam seperti bermain catur, nongkrong dan bersenda gurau di pinggir jalan.

14. Abul Fath Nasihuddin

Seorang ahli fikih yang mengarahkan tujuan hidupnya kepada fikih. Dikenal sebagai pengajar yang berintegritas dan sangat dicintai oleh murid-murid dan para pengikutnya.

15. Ali bin Yusuf As-Syaibani

Adalah salah seorang penulis yang tersohor, luhur budinya, toleran, dermawan, dan berparas ceria. Merupakan ulama yang gemar mengoleksi kitab dan sangat menjaganya.

16. Imam Nawawi

Merupakan imam yang diakui keilmuan dan integritasnya dari penjuru Timur maupun Barat. Seorang yang hafal ribuan hadis tiada banding. Meski hidup di abad ketujuh hijriah, hingga kini karya-karyanya masih banyak dipelajari.

17. Ibnu Taimiyah

Ulama yang lahir pada abad ketujuh hijriah dan sangat produktif menghasilkan hingga 500 karya. Ulama yang membela sunnah murni dan cukup kontroversial namun tetap diakui keluasan pengetahuannya.

18. As-Syaikh Basyir Al-Ghazzi

Seorang guru besar di abad ketigabelas hijriah yang menguasai fikih, tafsir, gramatikal Arab, bahasa, sastra, dan hafal ribuan hadis. Sejak usia sembulan tahun ia sudah senang membaca dan mencintai ilmu.

19. Abul Wafa’ Al-Afghani

Lahir pada abad keempatbelas di Afghanistan. Ia hidup sederhana dan mendirikan lembaga yang aktif mempublikasikan kitab-kitab langka dengan menyunting dan mengomentarinya. Upayanya merawat karya-karya ulama- ulama klasik tersebut menjadi warisannya yang sangat berharga.

20. Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Hatim

Seorang ulama perempuan alim dan sholihah yang hidup di abad keempat hijriah di Makkah. Banyak imam yang belajar kepadanya.

Disarikan dari buku Para Ulama Jombo: Kisah Cendekiawan Muslim yang Memilih Membujang karya Syekh Abdul Ghuddah Abu Fattah, diterjemahkan oleh Yayan Mustofa.

Baca juga: Ketika Ali bin Abi Thalib Menjual Selembar Kain buat Beli Takjil Buka Bersama Keluarga

Total
186
Shares
Previous Article

Macam-macam Dzikir Menurut Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari

Next Article

Pengalaman Ngaji Ramadan Bareng 20 Ulama Perempuan Nusantara

Related Posts