Kepemimpinan dan Tiga Pesan Rasulullah bagi Pemimpin

Tsaqafah.id – Menurut KB. Khotib Pahlawan Kayo dalam bukunya yang berjudul “Kepemimpinan Islam dan Dakwah”, kepemimpinan itu berkaitan dengan kepribadian yang memancarkan pengaruh, wibawa sedemikian rupa, sehingga sekelompok orang mau melakukan apa yang dihendakinya.

Bagi umat Islam kepemimpinan adalah persoalan serius dan selalu aktual untuk dibahas, sebab hal tersebut merupakan hal yang sangat mendasar. Oleh karena itu masalah kepemimpinan mendapat perhatian yang sangat besar dalam syari’at Islam. Ia tidak hanya berhubungan dengan manusia, tetapi juga menyangkut hubungan dengan Tuhan, melaksanakan kepemimpinan dengan baik berarti melaksanakan amanah, dan berarti pula melaksanakan amanah merupakan ibadah dan berpahala, sedangkan kepemimpinan yang tidak “becus” menyesatkan pengikut berarti dosa yang mengakibatkan diadzabnya seseorang diakhirat nanti.

Lakon kang sejati merupakan sebuah petuah nenek moyang Jawa yang berarti “sikap profesional”. Dalam arti, dinsini seorang pemimpin harus profesional dalam bertindak-tanduk selama masa kepemimpinannya. Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 55, yaitu:

قَالَ ٱجْعَلْنِى عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلْأَرْضِ ۖ إِنِّى حَفِيظٌ عَلِيمٌ

Artinya: Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”.

Dalam surat di atas, ungkapan amanah dan profesional diungkapkan dengan bahasa حفيظ عليم , istilah ini merupakan sifat yang dimiliki oleh Nabi Yusuf, yang ketika berkuasa di Mesir, ternyata benar-benar terbukti tampil sebagai pemimpin yang pandai menjaga amanah dan profesional. Sehingga dia mampu membawa bangsa dan negara Mesir menuju puncak kemakmuran, kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan.

Baca Juga: Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Menurut A.M. Saefuddin dalam bukunya Ijtihad Politik menyebutkan bahwa, yang dimaksud dengan pemimpin amanah adalah bertanggung jawab dan selalu berusaha dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan profesional adalah memiliki keahlian, kecakapan, dan kemampuan untuk menjalankan tugasnya.

Sesuai dengan “ajining rogo soko busono”, menjadi seorang pemimpin haruslah mengetahui segala hal terkait yang dipimpinnya. Sebab, jika organisasi, kelompok, atau negara dipimpin oleh seseorang yang tidak kapabel di bidangnya, maka hanya tinggal menunggu kegagalan. Menurut Mustafa Al-Ghulyaini, ungkapan غير اهله  mengisyaratkan, jika urusan diserahkan pada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kegagalan dan kerusakannya.

Hal ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad dalam sebuah hadis, “Tunggu masa kehancurannya, jika amanah telah disia-siakan. Para sahabat lalu bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah itu?’, Rasulullah menjawab, ‘Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya’,” (Riwayat Bukhari).

Ajining rogo soko busono juga dapat diartikan bahwa seorang pemimpin harus sesuai dalam bidangnya sesuai dengan kapasitas kelebihan suatu bidang yang dimilikinya.

Begitupun juga dengan “ajining diri soko lathi”, pemimpin harus menjaga harga diri atau wibawa sebagai pemimpin, bisa diimplementasikan dengan kepandaian dalam berucap, kecerdasan dalam berfikir, profesional, jujur dan santun.

Baca Juga: Keutamaan Buruh Menurut Gus Baha

Sudah menjadi kewajiban seorang pemimpin untuk mengayomi, melayani, dan menyayangi rakyatnya. Dalam hubungan pemimpin dan rakyat, harus terikat rasa kasih sayang agar keduanya bisa merasakan keberuntungan dalam memimpin dan dipimpin. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai, dan mereka pun mencintaimu, kamu menghormati dan merekapun menghormatimu. Sebaliknya, seburuk-buruknya pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun membencimu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu” (Riwayat Muslim).

Ketiga amanat Rasulullah inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pemimpin ataupun pejabat. Jika seorang pemimpin bisa amanah, ahli dalam bidangnya, serta memiliki jiwa penyayang kepada yang dipimpinnya, maka segala keburukan dalam kepemimpinannya bisa dihindari.

Berkaitan juga dengan sifat amanah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, sesuai dengan ajaran agama Islam. Ada hadis yang berbunyi فلم يحطها بنصيحة الا لم يجد رائحة الجنة, hadis ini pada dasarnya adalah ancaman bagi para pemimpin yang tidak menjaga amanah yang telah diberikan kepadanya, niscaya tidak akan pernah mencium semerbak wanginya surga.

Total
4
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Kisah Hidup Syaikh Mulla Romdlon Al-Buthi

Next Article

Peneliti ISAIs Sebut Kepulangan Rizieq Shihab sebagai Ujian Demokrasi

Related Posts