KH Bahruddin, Penjaga Kitab Kuning di Tengah Kota Metropolitan

KH Bahruddin, Penjaga Kitab Kuning di Tengah Kota Metropolitan

05 Agustus 2021
283 dilihat
2 menits, 20 detik

Tsaqafah.id – KH Bahruddin S.Ag merupakan salah satu ulama yang mendakwahkan Islam di tengah Kota Metropolitan. Beliau lahir di Kepo Duri, Jakarta Barat pada tanggal 02 Agustus 1968. Saat ini, beliau berdomisili di Jl. Menjangan Raya No. 27 Kelurahan Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten.

KH Bahruddin memulai pendidikan formalnya di SDN 02 Duri Petang pada  tahun 1977-1982. Kemudian beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Daar El-Qolam Gintung Tangerang mulai dari kelas 7 hingga kelas 11 pada tahun 1982-1987. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebayoran lama pada tahun 1987-1988.

Setelah itu, beliau mengabdi di MI Tanwirul Qulub pada tahun 1988-1990. Jenjang pendidikan formal maupun non formalnya tidak hanya berhenti di situ saja. KH Bahruddin pun melanjutkan jenjang pendidikan Strata 1 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum pada tahun 1990-1996. Lalu mengikuti program 1 tahun Ma’had Aly Arba’in, Kebayoran Lama Jakarta Selatan pada tahun 2000-2001.

Secara garis besar, meskipun beliau menempuh pendidikan formal hingga jenjang Universitas, namun riwayat pendidikan beliau dalam menimba ilmu, sejatinya tidak lepas dari dunia pesantren.

Dalam perjalanannya, beliau tidak pernah lepas dari lingkungan dan pendidikan agama model pondok pesantren. Tercatat, ada beberapa guru beliau dari mulai kecil hingga saat ini. Di antaranya adalah: Alm. Ustd Munir, (Guru Ngaji Waktu Kecil), KH Hibatullah Sidiq (Pimpinan Ponpes Al-Falah), Alm Kiai Haji Abdul Hadi (Pimpinan Ponpes Al-Falah), Alm. Kiai Cama (Kiai Kampung), Alm. Kiai Abdul Mudjib Al-Ayyubi (Pimpinan Ponpes Al-Husna), Alm. KH Ahmad Rifa’i Arif (Pimpinan Ponpes Daar El-Qolam), KH Buniyamin (Kelapa Dua, Jakarta Barat), dan Kiai Haji Muhammad Syafi’i Hadzami atau lebih dikenal dengan Mu’allim Syafi’i Hadzami, yang merupakan seorang ulama besar dari Betawi. Bahkan, bisa dikatakan bahwa KH Bahruddin merupakan salah satu santri kesayangan dari ulama yang sering dijuluki sebagai ‘sumur yang tak pernah kering’ tersebut.

Baca Juga: Pandemi dan Pendidikan Mandiri yang Harus Jalan Terus

Karena kepiawaian dan kecakapannya dalam ilmu-ilmu agama, dan kecerdasannya yang mampu memahami kitab-kitab kuning, Beliau dipercaya menjadi Ketua Suro NU Cabang Pondok Ranji  pada tahun 2010. Selain itu, Beliau juga terus dipercaya untuk menjadi Dewan Hakim MTQ Tangerang Selatan mulai tahun 2015 hingga saat ini.

Semasa remaja, KH Bahruddin juga banyak menjuarai berbagai macam perlombaan kitab kuning yang membawa namanya cukup dikenal di kalangan pesantren se-Tangerang Selatan. Karena keilmuannya tersebut, kemudian beliau menjadi  menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Daar El-Hikam, Pondok Ranji, Ciputat Timur, Tangerang Selatan.

Dalam kiprahnya sebagai seorang kiai, beliau juga banyak dipercaya untuk mengisi pengajian-pengajian di masjid-masjid dan majelis. Dalam rangka melebarkan sayap, dan memperjuangkan agama, serta keinginannya yang kuat untuk mencetak generasi muslim yang berawawasan keilmuan dan amal, melestarikan kitab-kitab kuning dan dengan tujuan mencetak generasi yang sukses di dunia dan di akhirat.

Baca Juga: Ajaran Spirit Berbagi KH. Ahmad Dahlan

KH Bahruddin mendirikan Pondok Pesantren As-Sulaimaniyah pada tahun 2000 yang didominasi oleh santri mahasiswa. Kemudian pada tahun 2007, nama As-Sulaimaniyah diganti dengan Daar El-Hikam dalam bentuk Yayasan Pendidikan Islam Daar El-Hikam.

Dengan pemikirannya yang visioner untuk membangun generasi muslim yang mengerti ilmu-ilmu agama, serta bisa mengikuti perkembangan zaman. Beliau mendirikan pendidikan formal berbentuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Sekolah Menengah Pertama (SMA), tanpa menghilangkan kajian kitab-kitab kuning.

Meskipun berada di tengah kota Metropolitan, Pondok Pesantren Daar El-Hikam tetap eksis melestarikan budaya-budaya tradisional yang menjunjung nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Profil Penulis
Sayyid Rifai
Sayyid Rifai
Penulis Tsaqafah.id
Penulis Cadangan

2 Artikel

SELENGKAPNYA