Kisah Perjalanan Abu Bakar As Syibli Bersama Pemuda Nasrani Ke Tanah Suci

Pada zamannya, ia memutuskan untuk keluar dari kenikmatan duniawi yang telah banyak menimangnya sejak kecil.

Tsaqafah.id – Para ahli sufi tidak sedikit yang mendapatkan stempel aneh dan gila di mata para orang awam. Segala perilaku dan keseharian para ahli sufi seringkali mendapatkan ungkapan tidak baik dari siapa-siapa yang melihatnya.

Seperti sebuah kisah dari Khurasan, terdapat pemuda yang seharusnya adalah abdi negara. Dia lahir dari seorang ayah yang telah menyiapkan akan masa depan cerah sesuai mimpinya. Alih-alih menetap dan menjadi bangsawan seperti harapan ayahnya, ia memilih ‘gila’ sedang pikirannya dipenuhi kobaran api kebenaran.

Lahir di Baghdad pada tahun 861 M, Abu Bakar Dulaf bin Ja’far as Syibli merupakan salah seorang sufi yang berasal dari Baghdad. Selain berguru pada Imam Junayd al Baghdadi, as Syibli juga dekat dengan al Hallaj, yaitu seorang sufi yang dihakimi karena perkataan ‘akulah kebenaran’.

Sejak menekuni dunia kesufian, as Syibli sering mendapat perlakuan buruk, bahkan dari khalifah.

Pada zamannya, ia memutuskan untuk keluar dari kenikmatan duniawi yang telah banyak menimangnya sejak kecil. As Syibli, kemudian dicari-cari oleh banyak bala utusan khalifah karena kepergiannya meninggalkan kesalahan.

Sesaat, para utusan yang menjemput seorang sufi tersebut dibuat terkejut, jubah kebangsaan yang dikirimkan khalifah untuk memperbaiki penampilan untuk dipakai kembali ke istana, hanya dihargai sebagai pembersih wajah.

Para utusan tadi lantas menyampaikan hasil perjalanan pada khalifah. Hal yang tak terduga itupun terjadi, benar, sang khalifah memusatkan perhatiannya pada as Syibli dan berbalik mengusirnya dari wilayah kekuasannya.

Selama itupun, as Syibli hidup dalam berbagai perjalanan. Ungkapannya pun banyak didengar oleh para pengikutnya yang setia. Di tengah kehidupannya yang bahagia, damai dan bergembira, as Syibli pernah mengungkapkan kalam hikmah kehidupan yang penuh makna

“Hiduplah sebagai pohon kayu yang lebat buahnya. Pohon yang tumbuh ditepi jalan. Orang-orang melemparinya dengan batu, ia membalasnya dengan buah”

Dari ungkapan tersebut, kita dapat membaca, betapa as Syibli memerankan kehidupannya sesuai dengan apa yang dikatakan. Hingga tak jarang, ia dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa karena mulutnya yang selalu berkobar api kebenaran.

As Syibli pernah berlari-lari ditengah kehidupannya bermasyarakat dan membawa obor yang menyala, ia mengatakan bahwa, “Aku akan membakar Ka’bah, sehingga orang-orang hanya akan menyembah kepada pemilik Ka’bah. Aku akan membakar neraka beserta surga, sehingga orang-orang hanya akan mengabdi pada Allah semata”.

Baca Juga: Kisah Karomah Syekh Abdul Qodir Jaelani Diludahi Nabi

Pendidikan yang ditempuh oleh as Syibli sangat luas, yang mana hal tersebut diperoleh dari bekal pendidikan di istana. Sejajar dengan kemampuannya yang jenius, as Syibli juga merupakan seorang sufi yang memiliki kemampuan sebagai penyair. Kalimat-kalimat yang diucapkan, bernafaskan pengingat (dzikr) kepada sang Khaliq. Bahkan untuk menyebutkan Nabi Muhammad, as Syibli mengungkapkan

“Seandainya Tuhan tidak memerintahkan menyebut nama Muhammad, maka aku tidak akan menyebut nama lain selain nama-Mu ya Allah”.

Perjalanan Ke Tanah Suci

Seorang . . . . . . sufi yang banyak diakui atas kecintaannya kepada Tuhan, hingga berjuluk Taj al Hubb ‘mahkota cinta’, as Syibli juga pernah mendapatkan teguran dari seseorang yang tidak terduga.

Suatu hari, ia bersama pengikutnya sedang berkumpul di daerah pertengahan Baghdad. Di sana as Syibli berbicara pada pengikutnya.

“Kita membutuhkan uang sebesar seribu dirham untuk membeli alas kaki bagi orang miskin yang hendak ke Tanah suci”, tegasnya. Tak disangka, ada seorang pemuda Nasrani yang tiba-tiba berbicara, menanggapi perkataan sang sufi.

“Akan ku berikan uang itu dengan syarat, kalian harus membawaku serta”, tanggapnya.

As Syibli pun merasa sedikit ganjal, hingga kemudian menimpali dengan nada yang tinggi.

“Anak muda, engkau tidak boleh melaksanakan ibadah haji”, tegas as Syibli. Mendengar hal tersebut, pemuda Nasrani itu masih mencoba merayu as Syibli.

“Menurutku, kalian tidak memiliki keledai. Maka bawalah aku untuk menggantikannya”, sahutnya penuh harap.

Dengan kesepakatan yang dibicarakan, as Syibli akhirnya mengikutsertakan pemuda Nasrani tersebut untuk menuju ke Makkah bersama dengan pengikutnya. Sesampainya di Makkah, as Syibli dan para pengikutnya Nampak bersiap untuk melaksanakan ibadah haji, mereka semua mengenakan kain ihram, tidak terkecuali pemuda Nasrani itu. Mengetahui hal tersebut, as Syibli menyampaikan sesuatu kepadanya.

“Walaupun engkau telah memakainya (kain ihram), engkau tidak kuijinkan masuk Ka’bah”.

Baca Juga: Dari Kisah Malik bin Dinar Kita Bisa Belajar, Kenapa Kita Diperintahkan untuk Berpuasa

Mendengar hal tersebut, dengan penuh rasa yang tulus, pemuda Nasrani yang dibawa as Syibli, mengiba di depan pintu Masjidil Haram, seraya berkata.

“Ya Allah, as Syibli tetap tidak mengizinkanku masuk Ke Rumah-Mu”

Tiba-tiba, terdengar sahutan dari arah yang tak terlihat.

“Syibli, kami telah membawa dari kota Baghdad dengan penuh rasa cinta di dadanya. Dengan rasa cinta kami memberikan jalan padanya untuk ikut serta. Berikan ia jalan, bersama mu, masuklah”.

Pemuda itupun tidak tertinggal, ia segera masuk bersama dengan as Syibli dan pengikutnya. Selepas ibadah haji selesai dilaksanakan, as Syibli dan pengikutnya mencari pemuda tersebut untuk diajak bersama-sama pulang. Namun, pemuda tersebut tidak ada diantara mereka. Kemudian, terdengar suara pemuda itu dari dalam Masjidil Haram

“Wahai as Syibli, Dia tidak pernah mengizinkanku pulang. Setiap aku melihat pintu untuk pulang, kudapati semua pintu tertutup”.

Mendengar ucapan dari pemuda tersebut, tentu saja as Syibli tersadar dan barulah ia merasa diingatkan dengan kejadian yang telah menimpanya. As Syibli kemudian memohon ampun kepada Allah, atas tindakannya yang mendahului kuasa-Nya.

Dari kisah as Syibli, kita dapat bercermin sebagai kaum Muslim. Kita tidak diperbolehkan untuk terburu-buru menilai seseorang dari apa yang nampak secara lahiriah terhadapnya. Kita tidak boleh semena-mena menghakimi. Kita harus menjalani hidup yang damai dan mencintai sesama lain dan menghidupkan perdamaian antar agama.

Abu Bakar As Syibli memberikan teladan dari segala perjalanan kisah hidupnya, melalui empati kepada kehidupan itu sendiri dengan kecendekiaannya sebagai manusia biasa.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Husain Basyaiban dan Potret Dakwah Zaman Now

Next Article

Kisah Ulama Terdahulu Dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah

Related Posts