Tsaqafah.id – Sosok ulama pengarang kitab fiqh shiyam itu merupakan tokoh yang akrab dengan Indonesia. Beliau adalah Syekh Hasan Hitou yang namanya tidak asing lagi bagi ulama Indonesia.
Dengan nama lengkap Muhammad Hasan Hitou, beliau lahir di Damaskus 10 Oktober 1943 dan saat ini tercatat sebagai penduduk Suriah.
Ulama kharismatik tersebut bermanhaj seperti ulama Suriah dan Al-Azhar lainnya. Sosok ulama dalam arti yang sesungguhnya, bergelimang dengan karya tulis ilmiah, muridnya tersebar di mana-mana, menjadi ketua Halal Control di Jerman, menjadi guru besara di Universitas Kuwait.
Sumbangsihnya pada Indonesia sangat besar di antaranya dalam pendirian beberapa lembaga pendidikan salah satunya yaitu Sekolah Tinggi (STAI) Imam Syafii di Cianjur.
Baca Juga
- Puasa Ramadhan Mengajarkan Arti Tolong Menolong terhadap Sesama
- Meraih Keberkahan Ramadhan dengan Tradisi Berbagi Takjil
Syekh Hasan Hitou adalah salah satu fuqoha bermadzhab Syafii yang memberikan perhatian khusus pada hikum fiqh. Pemikiran beliau tidak serampangan sama halnya pemikiran-pemikiran kaum radikal.
Dalam kualifikasi akademiknya Syekh Hasan dengan spesialis umum lebih mengarah ke ilmu fikih, dan terkhusus pada ilmu ushul fikih. Dengan bekal keilmuan yang dimilikinya, beliau banyak mengarang kitab dan mengabdikan diri sebagai tenaga pendidikan di berbagai lembaga pendidikan.
Beliau juga sempat memberikan perkataan yang sangat bijak untuk sesorang pemula yang belajar ulum as-syar’iyyah. Pepatah tersebut berbunyi “Yang menjadi penentu kesuksesan adalah siapa yang bersungguh-sungguh, bukan siapa yang lebih dulu”.
Baca Juga Antropologi Puasa: Merayakan Ramadhan di Indonesia
Sepanjang perjalanan hidupnya, banyak karya yang beliau hadirkan sebagai bahan kajian keilmuan di pesantren. Antaranya al-hadits al-mursal hujiyyatuhu wa atsaruhu fii al-fiqhi al-islami yang membahas tentang hadis dalam ilmu ushul fiqh, al-wajiz fii ushul at-tasyri yang juga merupakan kitab di dalamnya membahas ilmu ushul fikih, dan kitab-kitab lainnya yang berhubungan dengan ilmu ushul fikih maupun fikih.
Selanjutnya kitab fiqh shiyam juga menjadi salah satu karya monumental Syekh Hasan Hitou. Karya tersebut sampai saat ini eksis dan terus dikaji oleh banyak masyarakat.
Dalam kitab tersebut beliau menyampaikan kajian tentang puasa secara khusus, mulai dari sejarah puasa, hukum puasa, tsubut ramadhan (ketetapan kapan ramadhan dimulai), syarat sah puasa dan yang membatalkannya, yang diharamkan dan yang disunatkan dalam puasa, perbedaan para ulama tentang beberapa perkara, argumen dan sanggahannya, dan lain-lain.
Selain berbicara tentang aspek hukum dalam ibadah puasa, kitab fiqh shiyam ini juga berbincang tentang beberapa kebiasaan masyarakat dalam mengamalkan puasa dengan pembahasan yang kritis. Misalnya, tentang sebagian masyakarat yang masih beranggapan bahwa ketika adzan subuh berkumandang maka masih ada kesempatan untuk makan dan minum sebelum adzan itu selesai, tentang pemahaman mereka bahwa tidur itu adalah ibadah sunnah dalam berpuasa dan pembahasan-pembahasan mendalam lainnya tentang puasa.
Baca Juga
Selain kitab fiqh shiyam, beliau juga memiliki proyek besar dalam menyusun ensiklopedia fikih Syafii dan fikih perbandingan. Hal tersebut merupakan proyek ilmiah yang luas yang syekh Hasan jadikan sebagai proyek hidupnya.
Proyek ini telah dimulai pada tahun 1989, Syekh menamakan ensiklopedia ini dengan nama “asy-syamila” terdiri dari 160 jilid. Beliau telah menyelesaikan ensiklopedia ini sampai pembahasan al-furu’ wa al-masail yang akan mencapai 140-600 halaman sesuai rencana yang ditargetkan.
Kepribadian yang dimiliki oleh Syekh Hasan Hitou dengan gigih dalam belajar hingga melahirkan cahaya-cahaya ilmu bagi umat manusia. Semoga kita semua dapat meneladani dan menjadikan motivasi semangat Syekh Hasan dalam terus belajar dan mengabdikan diri pada ilmu.

