Antropologi Puasa: Merayakan Ramadhan di Indonesia

Antropologi Puasa: Merayakan Ramadhan di Indonesia

03 April 2023
698 dilihat
3 menits, 31 detik

Tsaqafah.id – Ramadhan, tak terasa sudah lebih dari sepekan kita jalani. Bagi umat Islam, Ramadhan adalah bulan yang istimewa. Di dalamnya, umat Islam dimanjakan oleh berbagai janji pahala yang lebih besar dan berlimpah daripada di bulan-bulan yang lain (al-Mu’jam al-Saghīr, h. 16).

Banyak umat muslim, karenanya, berlomba-lomba memanfaatkan waktu dalam memperbanyak ibadah vertikal; masuk pada keintiman spiritual dengan Tuhan, juga ibadah horizontal dengan memperbanyak beramal baik pada sesama.

Keberkahan Ramadhan, barangkali tidak berlebihan, nampak lebih jelas dalam potret Indonesia. Pada kenyataannya, umat muslim Indonesia begitu gemar memberi dan berbagi (sharing and giving).

Di bulan Ramadhan sebagaimana disaksikan, gerakan-gerakan, misalnya berbagi takjil, terselenggara secara sporadis di berbagai tempat: di jalan-jalan, tempat-tempat wisata, alun-alun, lingkungan masjid, lembaga pendidikan, dan lain sebagainya. Semacam ada dorongan kultural dan motivasi religius yang menyatu-padu di dalamnya.

Baca Juga

Terselenggaranya praktik-praktik filantropis tersebut dan berbagai fenomena kesalehan sosial lain yang lazim kita saksikan adalah sederet konfirmasi mengenai pemaknaan Ramadhan dan kedermawanan muslim di Indonesia.

Pada tahun 2011, sebuah survei yang dilakukan Global Advisor Ipsos MORI dalam rangka meneliti tingkat kedermawanan masyarakat dunia menunjukkan Islam dan Indonesia sebagai integrasi nilai kedermawanan yang menakjubkan.

Dengan tema “Views and Globalitation and Faith” survei tersebut melibatkan sedikitnya 26 negara, di antaranya: Islam (yang diwakili Indonesia, Arab Saudi, dan Turki), Katolik dan Protestan (di 19 negara Barat), Budhis (China, Jepang, dan Korsel), dan Hindu (India).

Hasilnya, dari total 2000 responden berdasarkan garis keagamaan secara umum, Islam menduduki tingkat kedermawanan tertinggi dengan prosentase 61%. Sementara Kristen 24%, Budhis 30%, dan Hindu hanya 20%. Selain itu, dari 3 negara yang mewakili Islam, Indonesia menduduki prosentase sebanyak 91% sebagai masyarakat muslim paling dermawan daripada dua lainnya; Arab 70% dan Turki 33%.

Baca Juga

Tidak berhenti di situ. Indonesia juga bertengger di posisi teratas dalam konteks kepercayaan masyarakat terhadap variabel agama sebagai motivasi yang mendorong kedermawanan, yaitu setinggi 83%. Sementara Arab Saudi hanya 78%, Turki 39%, India 42%, Afrika Selatan 51%, Amerika Serikat 41%, Korea Selatan 31%, Brazil 32%, Meksiko dan Australia sama-sama 30%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara paling dermawan di dunia, dan agama, Islam khususnya, merupakan motivasi terpenting dalam membangun sikap kedermawanan tersebut.

Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, faktor demografi muslim di Indonesia dalam konteks ini tentu menjadi variabel surplus tersendiri. Namun demikian, fakta budaya, norma dan tradisi, yang melekat dalam prinsip-prinsip sosial seperti gotong-royong, tenggang rasa, kekeluargaan dan persaudaraan masyarakat Indonesia, juga merupakan indikator kunci yang tak bisa diabaikan begitu saja atau disamakan dengan negara lain.

Antropologi Puasa

Bagi para peneliti studi kawasan beragama, helatan Ramadhan di Indonesia jelas mempunyai nilai pesonanya tersendiri. Potret kedermawanan masyarakat muslim Indonesia sebagaimana survei di atas sekaligus memberikan suatu bukti dan pandangan baru bahwa, wilayah Indonesia yang terbilang jauh dari dunia Arab Timur Tengah, merupakan kawasan dengan fenomena keislaman yang sangat menarik dan tidak bisa diketepikan.

Realitas kesalehan kultural muslim Indonesia memang dalam banyak hal begitu representatif dengan ajaran-ajaran luhur Islam sendiri; semangat saling menolong, memberi dan menyantuni adalah di antara contohnya.

Baca Juga

Memasuki bulan Ramadhan kedermawanan masyarakat Indonesia seakan semakin meledak. Tentu saja, contoh berbagi takjil di atas adalah hanya sebagian kecil dari banyak fenomena kedermawanan Indonesia lain yang terjadi khususnya di bulan Ramadhan.

Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia seolah paham betul bagaimana puasa sebagai ibadah esensial yang musti tidak hanya terjebak pada, apa yang oleh Masdar Hilmy (2008) sebut sebagai ibadah ornamental-dekoratif, yang hanya berorientasi “demi menyenangkan Tuhan” belaka.

Mereka semata mementingkan bagaimana puasa yang dijanalaninya sah secara fiqhī dan peningkatan ibadah vertikalnya melambung tinggi. Tentu boleh-boleh saja. Namun, pelaksanaan puasa yang dibatasi sekadar secara formal-konvensional semacam ini justru membuat makna ontologis dari tujuan penting perintah puasa menjadi terreduksi.

Lebih dari itu, ibadah puasa sejatinya harus disadari sebagai momentum syndrome of growth, yaitu sindrom pertumbuhan yang memiliki sumbangsih dan manifestasi substantif bagi pemaknaan kemanusiaan (horisontal meaningfulness) dan kehidupan bersama. Haus dan lapar yang dirasakan sepanjang puasa adalah wujud pelatihan terhadap rasa empati, sensibilitas dan kepekaan sosial yang coba dibangun tersebut.

Baca Juga

Puasa akan menagih rasa kasih dan jiwa altruisme seseorang, misalnya untuk sekadar berangan-angan, bagaimana sahurnya orang-orang yang bahkan untuk makan esok hari harus menunggu hasil jualannya esok pula? Adakah yang dapat dimakan?, dan berbagai pertanyaan lain semacamnya.

Di tengah himpitian ekonomi dan semakin meroketnya harga-harga pokok saat ini, kepedulian dan kedermawanan kepada sesama, kaum dhuafa’ utamanya merupakan kata kunci. Di sinilah agama akan dapat hadir secara antopologis sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Kepedulian sosial yang kuat terjalin di dalam prinsip-prinsip kemanusiaan masyarakat Indonesiea memang perlu diacungi jempol. Dalam dataran ini tradisi sebagai antropologi kultural Indonesia terbukti dapat memperkaya doktrin Islam (baca: puasa) dalam terjemah secara lebih empiris, yaitu sensibilitas dan kedermawanan. Kultur semacam inilah yang harus dirawat bersama-sama sebagai ciri khas dan fondasi moralitas sosial yang kita miliki.

Allāhumma taqabbal shiyāmanā, amin.

Profil Penulis
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
Penulis Tsaqafah.id
Sekretaris Departemen Penelitian Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir dan Hadis Indonesia (FKMTHI)

8 Artikel

SELENGKAPNYA