“Childfree”, Kelirukah?

“Childfree”, Kelirukah?

24 Agustus 2021
498 dilihat
7 menits, 1 detik

Anak adalah Investasi Akhirat

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Apabila telah wafat manusia, maka terputuslah keseluruhan amalnya melainkan tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak salih yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap manusia yang telah meninggal, selain ibadahnya, maka tidak ada dari aktivitas sosial yang mampu mengalirkannya pahala di akhirat, melainkan tiga hal;

Sedekah jariyah. Sedekah jariyah merupakan pemberian yang diberikan secara ikhlas, baik secara tersembunyi ataupun terang-terangan. Jariyah mengandung makna mengalir, artinya sedekah yang diberikan adalah sedekah yang dapat memberikan manfaat untuk liyan, misalkan: tidak membuang sampah sembarangan, tersenyum kepada yang lain ketika berjumpa. Membeli dengan harga wajar tanpa menawar juga bentuk sedekah, membeli dagangan orang lain dengan niat membantu meskipun tidak butuh juga sedekah.

Sedekah tidak melulu menyantuni anak yatim atau dluafa’, sedekah tidak hanya dalam bentuk harta, sekecil apa pun sedekah akan menjadi berkah, terlebih didoakan oleh yang menerima sedekah. Nilai-nilai kebahagiaan inilah yang mengantarkan kita kepada amalan yang tidak pernah terputus pahalanya meskipun nanti kita telah tiada. Semakin lupa dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan, semakin tinggilah derajat kebaikan di sisi Tuhan.

Ilmu yang bermanfaat. Ilmu adalah pengetahuan yang didapat. Otak kita luas namun terbatas dalam menerima memori ilmu yang kita dapatkan. Maka, terkadang kita lupa terhadap ilmu yang telah diperoleh, harus melacak lebih dalam untuk dapat menampilkan ‘data’nya. Ibarat gelas yang diisi air, ia hanya akan memuat yang cukup dengan volumenya dan tumpah apabila kelebihan muatan air.

Namun, desain Tuhan Mahahebat, tumpahan ilmu yang diterima manusia dimuat dalam memori yang tersimpan di tempat lain. Memori itu disebut hati nurani, yang merupakan esensi tunggal dan sempurna, di mana wataknya adalah tadzakkur, terjaga, berpikir, membedakan antara haq dan batil. Ia kuasa menangkap seluruh ilmu, dan tak jemu memungut bentuk-bentuk nonmateri. Di sinilah hakikatnya ilmu tersimpan, teraplikasikan dalam bentuk perbuatan yang mulia, akhlak yang karimah, yang membersamai hingga akhir hayat, inilah ilmu yang bermanfaat.

Baca juga: Gus Baha: Tanpa Tiga Hal Ini, Ilmu Sebanyak Apapun Tidak Akan Bermanfaat

Anak salih yang mendoakan kedua orang tuanya. Amalan ketiga yang membuat kita bahagia di akhirat sebab senantiasa mendapatkan kiriman pahala adalah doa seorang anak yang salih. Bisa juga bermakna, seseorang tidak dikatakan salih sebelum mendoakan kedua orang tuanya. Sebaliknya, sebanyak dan sesukses apa pun anak, apabila tidak mendoakan kedua orang tuanya, maka tidak dikategorikan salih. Dan terputuslah pahala orang tua yang ketika ia meninggal namun anaknya tidak salih sebab tidak mendoakan mereka.

Fenomena Childfree

Lalu, bagaimana dengan seseorang yang tidak memiliki anak? Atau bahkan seseorang yang dengan sengaja memutuskan untuk tidak memiliki anak (childfree)? Apakah “Yang tidak memiliki anak maka terputus amalannya?” Tentu saja tidak, sebab anak dalam hadis ini tidak hanya anak biologis. Namun bisa juga anak ideologis, anak-anak yang ada di sekitar kita, anak dari siapa pun yang kita memandangnya dengan pandangan rahmah atau berkasih sayang.

Baik jodoh, rezeki, hidup, dan mati, hal tersebut memanglah hak prerogatif Allah. Namun bagaimana jadinya bila seseorang memutuskan untuk tidak memiliki atau melahirkan anak? Apabila hal-hal tersebut menjadi suatu keputusan, maka hukum dari hal-hal tersebut bisa saja menjadi wajib, bisa menjadi makruh, bisa menjadi mubah, bisa menjadi haram. Semua tergantung kepada niatnya, “innamal a’malu binniyaati”.

Fungsi Keturunan

Dalam Al-Qur’an telah ditetapkan bahwa anak adalah sebagai penerus kehidupan, maka dari itu banyak yang berdoa agar dikaruniai anak termasuk doa Nabi Zakaria yang memohon untuk diberikan keturunan.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَآءِ

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

Baca juga: Habib Umar Muthohar Bocorkan Tiga Amal yang Tidak Putus Pahalanya

Anak juga merupakan hiasan kehidupan, Allah berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَاٰبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Anak juga berfungsi sebagai penyejuk pandangan mata, sebagaimana doa yang termaktub dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Risiko Memiliki Anak

Agaknya ada yang kurang tepat dari ungkapan “banyak anak banyak rezeki”. Yang masuk akal adalah “banyak anak, banyak rezeki yang harus dicari”. Bagi pasangan suami istri, keinginan untuk memiliki anak harus dikuatkan dengan komitmennya untuk memelihara jiwa raga anak dengan sebaik-baik pemeliharaan. Sebab, selain mendatangkan kemanfaatan, memiliki anak juga harus diwaspadai terhadap  kemudharatannya. Tuhan telah memperingatkan hamba-Nya bahwa anak memiliki potensi untuk menjadi ujian, menjadi beban, melalaikan dari mengingat Tuhan, dan menjadi generasi yang lemah.

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوْا اللهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَأُولٓئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun: 9)

Dan bahkan, kehadiran anak bisa menjadi musuh bagi orang tuanya.

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ وَإِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taghabun: 14)

Baca juga: Pesan KH Ali Maksum: “Hiasilah Dirimu dengan Maksiat”

Menguatkan Komitmen

Maka, ketika seseorang memutuskan untuk tidak memiliki anak dengan alasan takut melahirkan keturunan yang lemah, menjadi beban, menjadi musuh karena ketidaksiapannya memiliki anak, maka ia telah menerapkan kaidah “dar’ul mafaasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih.” Mencegah kerusakan lebih didahulukan ketimbang mengupayakan kemaslahatan.Untuk apa memiliki anak jika kemudian tidak bisa merawat dengan baik dan justru mendatangkan mafsadah (kerusakan).

Dengan kaidah ini pula, alat kontrasepsi diciptakan dan dibolehkan untuk membatasi jumlah anak, untuk memberikan jarak kelahiran anak, untuk memutuskan tidak memiliki anak. Bahkan, alat kontrasepsi bisa menjadi wajib untuk seseorang yang tingkat kemudharatannya lebih besar apabila dia memiliki anak. Seperti sakit-sakitan bagi laki-laki sehingga tidak mampu mendampingi istri dalam hal pengasuhan anak, atau khawatir bagi seorang istri yang hamil namun kehamilannya membahayakan dirinya juga keselamatan janinnya.

Adapun hadis yang berbunyi:

تَزَوَّجُوا الوَدُودَ الوَلودَ ، فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Nikahilah orang yang penyayang lagi peranak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain (pada hari kiamat)” (HR. Abu Daud dan An-Nasai)

Baca juga: Inilah yang Perlu Kamu Persiapkan Sebelum Menikah

Hadis tersebut tidak bisa dipisahkan dengan ayat:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوْا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوْا اللهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah kamu bertakwa (takut) kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

Perhatikanlah, ada ancaman “takutlah kamu pada Allah (jika memiliki anak kemudian anaknya tidak berkualitas)” yang diikuti dengan perintah bertakwalah kepada Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa, paling tidak, orang yang memutuskan memiliki anak itu harus matang secara spiritual, emosional, finansial, mental, dan interaksi sosial, serta matang dari segi pendidikan. Tidak ada ilmu khusus dalam pengasuhan anak, tetapi untuk mengasuh anak diperlukan pribadi yang bermental tarbiyah (pendidikan).

Menjaga Keturunan

Keputusan untuk tidak memiliki anak adalah keputusan yang patut dihargai, sebagaimana keputusan seseorang utuk melajang seumur hidupnya. Namun yang harus ditekankan adalah keputusan tersebut hendaklah disertai niat untuk menguatkan ketauhidan kepada Allah Swt., lebih mensyukuri kehidupan yang diberikan Allah, serta diwujudkan dalam usaha mengualitaskan generasi manusia yang telah lahir dengan menjadi pengasuh anak-anak yatim, anak-anak terlantar tanpa ada yang memikirkan kehidupannya ke depan.

Banyak di sekeliling kita orang yang tidak siap memiliki anak, bahkan banyak orang yang ingin memiliki anak hanya untuk pembuktian bahwa dia subur, memiliki anak hanya karena tuntutan dari keluarga. Memiliki anak layaknya pacuan kuda hingga berlomba-lomba memperbanyak anak dengan dalih sunah Rasul tanpa memiliki bekal untuk mengualitaskan masa depannya.

Baca juga: Setelah Heboh Nikahan ala Sultan Atta-Aurel, Apa Sih Sebenarnya Tujuan Menikah?

Salah satu maqashid syariah adalah hifdzun nasl, Islam memerintahkan umatnya untuk “menjaga keturunan”, bukan “mempunyai keturunan”. Maka dari itu, pendirian sekolah dan pesantren merupakan bagian dari hifdzun nasl, menjadi pendidik adalah hifdzun nasl, menjadi hakim  adalah hifdzun nasl, menjadi polisi adalah hifdzun nasl, menjadi dokter adalah hifdzun nasl, menjadi arsitek adalah hifdzun nasl. Seluruh pekerjaan dalam usaha penghidupan dan kesejahteraan manusia merupakan hifdzun nasl. Bahkan pemungut sampah merupakan bagian dari hifdzun nasl. Firman Allah Swt.

وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا

“Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia” (QS. Al-Maidah: 32)

Para ulama masyhur pun banyak yang berani mengambil keputusan untuk tidak menikah dan tidak memiliki keturunan, mereka bersungguh-sungguh dalam pengabdian terhadap Tuhannya. Seorang ulama besar Imam Abu al-‘Ala al-Ma’ari (w. 1057 M) terang-terangan menolak menikah dan mempunyai anak. Menurutnya menikah dan berketurunan adalah tindakan kejahatan, bahkan ia juga seperti ketakutan melihat perempuan. Ia pernah mengampanyekan agar tidak mempunyai anak karena menurutnya memiliki anak adalah sumber dari penderitaan.

Al-Ma’ari adalah ulama yang fokus dalam ilmu dan pendidikan. Karya Al-Ma’ari yang berupa buku sangat banyak dan menarik untuk dibaca terutama karya filsafat dan sastra, hingga mempengaruhi penyair terkenal Dante Aligheri. Alasan Imam Abu al-‘Ala al-Ma’ari untuk tidak menikah sama halnya dengan alasan Abu al-Qasim Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari al-Khawarizmi (w. 1143 M). Ia adalah teolog Mu’tazilah yang memilih untuk menjomblo karena baginya menikah dan memiliki anak adalah sumber dari penderitaan.

Berencana untuk memiliki anak atau tidak memiliki anak, pada akhirnya akan sama-sama ditanya oleh Tuhan pada hari kiamat kelak; umurnya, untuk apa dia habiskan; ilmunya sejauh mana dia amalkan; hartanya, dari mana dan digunakan untuk apa; serta tubuhnya, untuk apa dia manfaatkan.

Sesama hamba dilarang mengisi rapor.

Baca juga: Jomblo Ideologis: Dua Puluh Ulama yang Memilih Melajang Demi Ilmu

Profil Penulis
Uswah
Uswah
Penulis Tsaqafah.id
Pengajar di PP. Al-Azhar Mojokerto, Editor Perempuan Membaca, Direktur Aplus Publishing, ibu dari lima orang anak.

1 Artikel

SELENGKAPNYA