Gus Baha: Tanpa Tiga Hal Ini, Ilmu Sebanyak Apapun Tidak Akan Bermanfaat

Tsaqafah.id– Gus Baha mengisahkan, suatu ketika ada orang yang memiliki banyak kitab sampai berpeti-peti. Nabi pada zaman itu diberi wahyu oleh Allah, “Beritahulah orang itu!” Nasihatnya, “Meskipun engkau mengumpulkan ilmu yang banyak, maka tidak akan manfaat, kecuali engkau melakukan tiga perkara ini.”

Perkara yang pertama, jangan mencintai dunia, atau perhiasan dunia.

Seseorang yang berilmu dan menginginkan ilmunya manfaat, janganlah cinta pada dunia hingga mengumpulkan harta dunia demi bergaya atau sombong dengan yang lain. Karena sesungguhnya, dunia bukanlah tempatnya orang mukmin.

Ciri utama orang ‘alim (berilmu) itu adalah tidak suka dengan hal duniawi. Kalaupun memiliki harta benda duniawi, cukup sekadarnya saja, dan jangan mencintainya (harta duniawi) dengan berlebihan. Sebab syaratnya orang ‘alim bukanlah banyaknya harta, melainkan sejauh mana bisa bermanfaat di dunia.

Nasihat Gus Baha, “Jangan engkau suka dengan uang, kecuali untuk berjuang (di jalan Allah).”

Saat memiliki uang, lebih baik diniatkan agar tidak tamak dengan orang lain. Sebab sekali lagi, dunia itu tidak akan menjadi tempatnya orang mukmin, untuk menerima pahala-Nya. Karena sesungguhnya tempatnya orang mukmin itu di surga.

Baca juga: Pengajian Gus Baha: Bertemu Pemuda Ahli Zina yang Hendak Masuk Islam, Bagaimana Reaksi Nabi?

Yang kedua, janganlah berteman dengan setan.

Maksudnya adalah menuruti perintah setan, . . . . . . yakni menentang perintah Allah dan Rasul-nya. Orang yang bermaksiat berarti dia berteman dengan setan, sebab dia meninggalkan perintah Allah dan Rasul.

Sesungguhnya setan bukanlah teman bagi orang mukmin. Jadi, seharusnya orang mukmin itu berteman dengan Allah, yaitu dengan menuruti perintah Allah, bukan malah berteman dengan setan.

Yang ketiga, tidak menyakiti seseorang.

Janganlah mengganggu seseorang, karena itu bukan pekerjaan orang yang beriman. Seorang mukmin janganlah membuat kesal seseorang.

Gus Baha mengatakan, “Makanya saya tidak suka orang (yang berpandangan) ekstrem, karena hobinya menyalahkan atau menyakitkan hati orang mukmin.”

“Saya jadi kiai senang bercanda karena bercanda itu biasanya tidak menyakitkan seseorang. Tapi kalau serius, kadang omongannya malah jadi menyakitkan. Kelihatannya khusyu’ tapi bicaranya nyelekit,” lanjut Gus Baha.

Menurut Gus Baha, sekarang banyak orang (berpandangan) ekstrem yang dalam pidatonya pasti mengkritik orang, ketika ngaji atau bercengkrama pasti menyalahkan orang. Bukan lagi menyalahkan, di zaman akhir, banyak yang mengkafirkan.

“Menyalahkan itu masih sepele, tapi di zaman akhir itu, (banyak orang yang) sukanya mengkafirkan ornag lain. Andaikan nabi menjumpai mereka, pasti beliau bersabda: Jangna pernah menyakiti seseorang karena itu bukan perbuatannya mukmin,” terang Gus Baha.

Sumber: pengajian Kitab Nashaihul Ibad – Bab III/Makalah 13-15.

Baca juga: Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

Total
216
Shares
Previous Article

Empat Pelajaran dari Pandemi Covid-19 menurut KH. Said Aqil Siradj

Next Article

Masa PPKM, @nyantrikilat Selenggarakan Program Takhassus Ngaji Pranikah Online

Related Posts