Inilah yang Perlu Kamu Persiapkan Sebelum Menikah

Beberapa waktu lalu ada berita soal anak kyai yang kabar perceraiannya jadi cukup ramai di media sosial. Bukan bermaksud ghibah, tapi ini jadi titik refleksi, apa sih yang perlu dipersiapkan laki-laki dan perempuan kalau mau memutuskan menikah? Saya menulis ini dari pengalaman memperhatikan orang-orang di sekeliling yang sudah menikah lebih lama, dari nasihat orang tua, dan ulama. Beberapa saya ambil dari pengalaman sendiri yang baru sebentar menikah ini. 

Pertama, Belajar Komunikasi 

Pernahkah melihat pasangan yang ’uneg-unegnya’ saling nggak bisa disampaikan dan malah curhat ke orang lain seperti orang tua, saudara dan sahabat? Ini biasanya yang membuat runyam. Apalagi sudah di titik ngobrol yang asyik dan dalam saja nggak pernah. Hanya membatin, ‘kok dia nggak memahamiku,’ padahal mengkomunikasikan ke pasangan dengan baik seperti apa yang dimau juga tidak pernah. “Ya kan dia harusnya ini, itulah, ginilah!” Nah, ‘ini’ ‘itu’-nya sudah dikomunikasikan belum?

Komunikasi artinya tidak sambil marah-marah, tapi ya benar-benar komunikasi yang memanusiakan. Kamu paling nyaman berkomunikasi dengan siapa? Apakah orangtuamu, ataukah sahabat? Nah sama pasanganmu sebaiknya lebih dari itu semua. Pasanganmu jadi sahabatmu nomor satu. Membangun komunikasi tidaklah mudah, tapi pertanyaannya adalah, mau tidak kamu membangun komunikasi dan istiqomah memperbaiki komunikasi? Atau malah istiqomah nggerundel kalau ada masalah?

Kedua, Belajar Bertanggung Jawab

Masih ingin main terus? Masih ingin tidur sepuasnya tanpa ada yang ganggu? MAsih ingin fokus ke diri sendiri belajar apapun itu dan tidak mau diganggu? Tak masalah. Artinya kamu ingin tanggung jawab ke dirimu sendiri. Menikah itu tidak mudah, karena artinya kita harus belajar tanggung jawab membagi hidup dengan pasangan. Ada keluarga yang perlu dinafkahi, dibahagiakan, dan dijaga. Artinya apa? Ya kalau keluar harus saling berkabar, kalau ada kesusahan diselesaikan bersama, kalau ada rejeki, fokus untuk pasangan dan keluarga dulu.

Baca juga: Inilah Beberapa Indikator Kebahagiaan Pernikahan Menurut Quraish Shihab

Ketiga, Belajar Empati

Empati ini susah ya, beda . . . . . . dengan simpati. Kalau simpati, “Aku turut bersedih atas kamu,” kalau empati, kita mungkin tidak turut mengalami, tapi tahu emosinya. Contoh: istri sedang sakit haid, suami tidak tahu apa yang dirasakan karena tidak mengalami menstruasi. Tapi suami pernah sakit kan? Tahu kan saat sakit maunya diperlakukan seperti apa? Atau malah istrinya ditinggal nongkrong? Tentu beda kasus ya kalau lagi LDM (Long Distance Marriageship). Empati itu belajar memanusiakan manusia. Tidak semuanya itu tentang kamu. Kamu harus belajar empati ke pasanganmu sehingga bisa memanusiakan pasanganmu.

Keempat, Belajar Konsisten

Ini masih hangat dari nasehat perkawinan sepupu saya beberapa waktu lalu. Berbuat baik itu mudah, terus berbuat baik dengan konsisten itu yang tidak mudah. Apakah ketiga hal di atas sudah bisa dilakukan dengan konsisten? Apakah bisa terus diperbaiki?

Coba renungkan, adalah mustahil menikah sehari langsung bisa melakukan ketiga poin di atas. Tapi, jika pernikahan sudah berjalan dan rasanya kamu tidak menjadi pribadi yang lebih baik buat sekitar, maka pernikahanmu jadi tanda tanya besar. Sebab, menikah adalah belajar untuk beribadah sosial, hidup dengan orang lain. Kalau nggak pernah konsisten bagaimana dong?

Tentunya saya menulis ini juga untuk menjadi pengingat saya sendiri, bahwa menikah itu bukan ibadah sambil lalu, menikah itu bukan tuntutan masyarakat. Menikah itu adalah tentang mau tidak kita berbagi hidup dengan orang lain?

Kalau masih belum mau berkomunikasi, belum mau bertanggung jawab, belum mau empati, ya tidak apa-apa. Jangan maksain menikah dulu. Belajar dulu, karena jika kondisinya kamu paksakan justru tidak hanya akan menyakiti pasanganmu, tapi juga dirimu sendiri. Nikah tidak jadi memberikan ketentraman dan kebahagiaan.

Terakhir, menurut saya pribadi, tidak ada indahnya nikah dini. Kalau belum cukup umur, otak manusia itu juga belum tumbuh sempurna. Jadi menikahlah ketika fisik, mental, dan kepribadian siap. Semoga menjadi pembelajaran kita semua ya!

Baca juga: Jomblo Ideologis: Dua Puluh Ulama yang Memilih Melajang Demi Ilmu

Total
77
Shares
Previous Article

Mukjizat dalam al-Qur'an (1): Kemenangan Kerajaan Romawi atas Persia

Next Article

Pengajian Gus Baha: Bertemu Pemuda Ahli Zina yang Hendak Masuk Islam, Bagaimana Reaksi Nabi?

Related Posts
Read More

Gemuruh Headline Islam

Citra keliru yang tercermin dari kelancangan-kelancangan influencer/penyuluh agama di publik virtual ini mengerucutkan mafsadah; pasar bebas narasi keislaman publik.