Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Urban Sufism: Mencari Hening di Kota yang Bising

Urban Sufism: Mencari Hening di Kota yang Bising

1 Kali Dibaca
Bagikan:
Urban Sufism: Mencari Hening di Kota yang Bising

Kota selalu menawarkan harapan baru bagi banyak orang. Berbicara tentang kota, kita diberi iming-imingi untuk menemukan pekerjaan yang lebih baik, tawaran pendidikan yang berkualitas, dan kecanggihan modernisasi. Selain itu, kota menawarkan peluang untuk sukses. tetapi, realita dari kemajuan itu, masyarakat kota juga menghadapi masalah yang kompleks, yaitu anxiety atau kecemasan. Banyak orang mengalami kelelahan, kesibukan hingga sulit beristirahat, dan terus memikirkan perihal masa depan mereka. Hal ini menjadi ironi, stres dan anxiety ini sering timbul ketika hidup secara material sudah terlihat mapan.

Fenomena ini tidak hanya berhubungan dengan psikologis individu, ini persoalan cara masyarakat modern membangun kehidupannya. Menurut sosiolog Jerman Hartmut Rosa, dunia saat ini mengalami percepatan sosial yang sangat cepat (social acceleration)[1]. Kemajuan teknologi mungkin membuat waktu kerja menjadi lebih singkat dan memperluas akses informasi, tapi hal itu menciptakan tekanan baru agar kita selalu produktif. Akhirnya, waktu luang kita semakin sedikit, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin tidak jelas, hingga tekanan untuk terus mengikuti arus perubahan tidak pernah berhenti.

Pada 1976, psikoanalis Erich Fromm sudah mengingatkan kita tentang masalah ini. Dalam bukunya berjudul “To Have or To Be”, ia menjelaskan bahwa masyarakat modern lebih fokus pada “memiliki” (having) daripada “menjadi” (being)[2]. Artinya sebuah nilai seseorang diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari kualitas dirinya sebagai manusia.

Kita perlu kontemplasi, ketika identitas kita bergantung pada harta, jabatan, atau pengakuan sosial, maka kehilangan salah satu di antaranya akan membuat kita merasa sangat cemas. Hidup terasa menjadi rapuh karena inti kebahagiaan bergantung pada sesuatu yang selalu berubah atau tidak pasti. Akhirnya, kita menjadi tidak stabil dan seakan-akan berdiri di atas pasir.

Mungkin kita tidak pernah sadar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari luar, semua itu telah ada dan bersemayam dalam diri kita sendiri. Kita harus fokus pada kualitas diri kita sebagai manusia, bukan terikat dengan apa yang telah kita miliki. Dengan begitu, kita bisa hidup lebih stabil dan bahagia, tidak peduli apa yang terjadi di luar.

Baca juga: Kesendirian yang Artistik Ala Ibnu Atha’illah dan Imam Syafi’i

Persoalan hidup semakin kompleks ketika kita kehilangan arah. Viktor Frankl dalam paradigmanya menyebut kondisi ini sebagai existential vacuum (kehampaan eksistensial). Hal ini terjadi saat seseorang tidak menemukan tujuan hidupnya. Sering terjadi orang bekerja tanpa tahu alasan mereka melakukannya. Kehidupan mereka terus mengejar target, tapi tidak pernah merasa puas. Kemudian banyak melakukan aktivitas, tapi tidak tahu makna akan aktivitas yang telah dilakukan. Akibatnya, kesibukan sering kali menutupi kekosongan hati yang perlahan menjadi kecemasan.

Pada situasi ini, tasawuf mempunyai paradigma menarik. Selama ini, tasawuf hanya dianggap sebagai ajaran yang identik dengan kehidupan ukhrawi yang “nir” dari dunia. Tapi, secara hakiki tasawuf bukan tentang meninggalkan hidup duniawi. Tasawuf merupakan suluk dalam menata hati agar tidak dikuasai oleh hal-hal duniawi. Robert Frager dalam psiko-sufisme menyatakan tasawuf tidak mengajarkan untuk berhenti bekerja atau meninggalkan tanggung jawab sosial.[3] Sebaliknya, tasawuf mengajarkan kita untuk tetap bergulat dengan dunia tanpa kehilangan inti ketenangan hati.

Imam Al-Ghazali dalam magnum opusnya yaitu Ihya Ulumuddin mengutip hadis yang berbunyi

 أَنَّ حُبَّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ

Artinya: cinta dunia itu muara dari segala kesalahan.[4]

Konsep ini menerangkan bahwa saat manusia dipenuhi keresahan, manusia mempunyai keterikatan dalam jiwa terhadap segala sesuatu yang sifatnya fana umpamanya dunia. Banyak yang mengartikan standarisasi kebahagiaan sepenuhnya bersandar pada harta, jabatan, popularitas, atau pengakuan orang lain. Akan tetapi, hal itu menjadi kausalitas tentang rasa takut kehilangan yang selalu membayangi. 

Manusia mudah mengalami anxiety sebab hidupnya dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada dalam kendalinya. Dalam perspektif tasawuf, akar masalah bukanlah dunia, melainkan cara manusia meletakkan dunia di dalam hatinya. Akhirnya, tasawuf menyediakan role model spiritual yang relevan bagi masyarakat modern, kita bisa menyebutnya dengan istilah “urban sufism”. 

Beberapa hal yang sering ditawakan oleh urban sufism antara lain seperti dzikir. Konsep dzikir mempunyai urgensi memulihkan ingatan bahwa manusia tidak pernah sendirian menyambut setiap ujian kehidupannya. Kemudian ada istilah muhasabah (kontemplasi), yang mana hal ini menolong seseorang dalam mengoreksi dirinya tanpa harus terus mencari validasi dari orang lain, dalam hal ini kita sering mendengar istilah caper (cari perhatian), pick-me, atau haus validasi. Kemudian, konsep tawakkal membawa keseimbangan antara ikhtiar maksimal dan penerimaan terhadap hasil yang berada di luar kuasa manusia. Sedangkan zuhud bukan bermakna menjauhi kekayaan, melainkan memakai harta sebagai sarana dalam mencari ridho ilahi.

Baca juga: Mengenal Abu Mansur Al-Hallaj: Sufi yang Mengembara

Apabila ditelaah lebih mendalam, tasawuf dimaknai sebagai peredam gejolak batin ketika dunia berubah secara kian pesat. Apabila teknologi memicu kecepatan gerak manusia, tasawuf menuntun pentingnya memberi ritme bagi hati untuk bernapas. Saat budaya kompetisi membuat orang terus menyandingkan dirinya dengan orang lain, tasawuf menjadi negasi bahwa tolak keberhasilan bukan hanya pencapaian material, melainkan inti kedamaian jiwa. Ketenangan tidak muncul dari besarnya yang dikuasai, melainkan dari kapasitas menerima kehidupan dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.

Tentu saja tasawuf bukan pelengkap bagi layanan kesehatan mental. Gangguan kecemasan yang didiagnosa klinis tetap memerlukan penanganan psikolog maupun psikiater. Namun, tasawuf dapat menjadi landasan spiritual yang mengokohkan ketahanan psikologis seseorang. Penulis sering menyebutkan hal ini seperti aim assist dalam sebuah game battleground. Saat seseorang menembak dengan skills dan insting, aim assist akan bekerja dalam menentukan arah target yang tepat.

Pada akhirnya, masyarakat perkotaan tidak hanya menanti inovasi teknologi atau pertumbuhan ekonomi. Mereka akan mencari ruang untuk memulihkan dimensi batin yang selama ini selalu terabaikan. Kemajuan material mungkin penting, tetapi tanpa ketenangan batin, kemajuan hanya akan memicu kelelahan yang berkepanjangan. Di tengah dunia yang semakin bising dan rotasi tanpa henti, nilai sufistik menekankan bahwa manusia tidak hanya memerlukan kecepatan, tetapi juga keheningan. Karena, sering kali jalan keluar dari kecemasan bukan dicapai dengan berlari lebih cepat, melainkan dengan kembali memahami tujuan hidup dan menguatkan hubungan dengan Tuhan. Di situlah tasawuf tetap menjaga relevansinya sebagai jalan pulang bagi masyarakat perkotaan yang tengah mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk dunia.

Baca juga: Baiklah ada Haemin Sunim, Tapi Muslim Muda Perlu Belajar Mindfulness dari Sahl Al-Tustari


[1] Hartmut Rosa, Social Acceleration: A New Theory of Modernity (Columbia University Press, 2013), https://doi.org/10.7312/rosa14834.

[2] Erich Fromm, To Have or to Be?, Bloomsbury Revelations (Bloomsbury Academic, 2013).

[3] Robert Frager, Psikologi Sufi : untuk transformasi hati, jiwa, dan ruh, Cetakan 1 (Zaman, 2014).

[4] Abū-Ḥāmid Muḥammad Ibn-Muḥammad al-Ġazzālī, Iḥyāʾ ʿulūm ad-dīn, aṭ-Ṭabʿa 2, muṣaḥaḥa, munaqqaḥa, wa-mazīda, with Markaz Dār al-Minhāǧ lid-Dirāsāt wa-’n-Našr. Laǧna al-ʿIlmīya (Dār al-Minhāǧ li-’n-Našr wa-’t-Tauzīʿ, 2013).

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini
Paidillah Rijani

Ditulis oleh: Paidillah Rijani

Mahasiswa Doktoral UIN Palangkaraya Prodi Studi Islam Konsentrasi Pemikiran Islam, Lakpesdam PWNU Kalimantan Selatan, Wakil Sekretaris komisi bidang Fatwa MUI provinsi Kalimantan Selatan.

Lihat Semua Tulisan