Dibandingkan dengan pemerintah, sebesar apapun data yang dimilikinya, tetap kalah akurat dengan tetangga yang tahu rumah mana yang dapurnya sudah tiga hari tidak ngebul.
Sebagai makhluk sosial, di tengah kehidupan modern kerap kali kita tidak menyadari situasi yang mulai bergeser hubungan antarmanusia, kita tinggal dalam komplek yang sama, hanya terhalang satu tembok, kita kenal mukanya, saling sapa ketika bertemu di jalan atau di depan rumah, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu keadaan hidup mereka.
Apakah mereka sedang baik-baik saja atau malah sedang kesulitan dalam bulan ini, kita tidak pernah benar-benar tahu, padahal secara fisik sangat dekat dengan kita namun jarak sosialnya terasa sangat jauh.
Di Kota Medan ada seorang driver ojek online yang meninggal dunia saat menunggu pesanan mi, selain kondisinya yang kurang sehat, dia juga mengeluhkan kepada kawannya, ia mengaku belum makan sejak malam sebelumnya karena tidak memiliki uang.
Semasa Umar bin Khattab menjadi khalifah ada salah satu warga yang mengadu kepadanya dan memohon keadilan, semalam rumahnya kemalingan, setelah diselidiki sahabat Umar bin khattab mendatangkan pencurinya dan menanyakan alasanya mengapa sampai mencuri, ternyata alasan utamanya adalah sudah tiga hari pencuri dan keluarganya dalam kelaparan dan ada anak kecil yang tidak berhenti menangis sebab air susu ibunya sudah tidak lagi keluar.
Baca juga Ziswaf jadi Bantal Pengaman di Tengah Ketidakpastian Global
Mendengar jawaban pencuri umar memberikan nasihat kepada keduanya “hukuman bagi pencuri adalah potong tangan, tapi jika pencuri ini kebetulan tetanggamu sendiri dan melakukan pencurian lagi di rumahmu maka bukan tangannya yang aku potong, justru tanganmu yang aku potong” ujar Umar bin Khattab.
Nabi Muhammad SAW memiliki hadis yang secara tidak langsung mengajak kita untuk berempati kepada tetangga,
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ اِلَى جَنْبِهِ.
“Tidaklah beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya lapar sampai ke lambungnya” (HR Bukhori).
Sekilas hadis ini hanya menasihati kita tentang kepedulian dan empati, tapi kalau kita analisis lebih dalam ada logika ekonomi yang sangat hebat di dalamnya
Sebagian teori ekonomi modern menempatkan kepuasan individu sebagai pusat analisis. Hadis Nabi justru memperluas makna kesejahteraan: seseorang belum sempurna keimanannya ketika dirinya kenyang, sementara tetangganya masih kelaparan.
Yang menarik pada detail tetangga dalam hadis ini bukan sebuah kebetulan, kalau tujuannya hanya untuk keadilan sosial bisa saja menyebutkan orang pinggiran kota atau orang miskin di Negara lain, tapi dalam hadis yang disebut adalah orang yang terdekat dengan kita.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan ekonom peraih Nobel Friedrich Hayek mengenai penyebaran informasi (dispersed knowledge), orang yang paling dekat dengan suatu keadaan biasanya yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dibandingkan dengan pemerintah, sebesar apapun data yang dimilikinya, tetap kalah akurat dengan tetangga yang tahu rumah mana yang dapurnya sudah tiga hari tidak ngebul.
Islam memiliki dua mekanisme utama untuk mengalirkan harta, lewat zakat yang disalurkan amil dan lewat filantropi atau kepedulian sosial.
Hadis tentang tetangga, efektif tanpa perantara dan birokrasi yang rumit yang dibutuhkan hanya kesadaran seseorang bahwa kenyang kita tidak berarti jika masih ada tetangga yang kelaparan.
Baca juga Kalau Wakaf Bisa jadi Sawah, Kenapa Harus Lapar?
Konsep Ashabiyah (Solidaritas Sosial)
Ibnu Khaldun menjelaskan konsep ashabiyah, yaitu kohesi sosial yang menjadi fondasi sebuah peradaban. Masyarakat yang sudah memiliki ashabiyah yang kuat cenderung lebih tangguh menghadapi krisis, karena memiliki jaringan yang kuat atas dasar saling percaya.
Meminjam istilah yang disampaikan Khalimatu Nisa, ketika kita tidak memiliki modal material minimal punya modal sosial, senada dengan kepedulian yang diajarkan Nabi Muhammad untuk membangun modal sosial.
Saat tetangga sedang kesulitan kita membantu, saat tetangga sakit kita menjenguk dan mendoakan kesembuhan, jadi saling tahu kondisi satu sama lain serta gotong royong saat ada musibah. Sistem ini tidak perlu kontrak atau aturan yang rumit, cukup orang-orang yang peduli dan saling tahu keadaan.
Yang menarik hadis ini lahir sebelum ilmu ekonomi sekompleks ini, tapi pesannya justru semakin relevan pada masa kini, kita hidup berdempetan secara fisik, tapi makin berjarak secara sosial.
Pada akhirnya hadis ini bukan cuma soal berbagi makanan, juga soal menutup jarak informasi yang selama ini kita anggap biasa, jarak yang membuat kita merasa semua baik-baik saja, padahal dibalik tembok ada tetangga yang tidak baik-baik saja.
Barangkali inilah yang ingin dibangun Nabi Muhammad SAW. Bukan sekadar budaya berbagi makanan, melainkan budaya saling mengenal, saling peduli, dan saling menjaga. Sebab kemiskinan kerap kali bukan hanya lahir karena kurangnya harta, melainkan karena hilangnya kepedulian. Hadis tentang tetangga mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak cukup diukur dari kenyangnya diri sendiri, tetapi juga dari hadirnya rasa aman dan perhatian di lingkungan sekitar.
Baca juga Ketika Gaji Dosen Digugat ke MK, Di Mana Tanggung Jawab Negara?




