Pesan KH Ali Maksum: “Hiasilah Dirimu dengan Maksiat”

Pesan KH Ali Maksum: “Hiasilah Dirimu dengan Maksiat”

29 Juli 2021
80 dilihat
2 menits, 54 detik

Tsaqafah.id – Cerita ini merupakan cuplikan pengalaman hidup antara KH Ali Maksum dengan KH Ihsanuddin Muslim.

Saya sangat beruntung dapat mendengarnya langsung dari KH Ihsanuddin di suatu pengajian bandongan kala mengkaji kitab Jawami’ul Kalim karya KH Ali Maksum.

Mbah Ali, di mata Pak Ihsan, ialah sosok kiai yang sudah seperti bapak sendiri. Kiai Ali atau yang akrab disebut Mbah Ali ialah sosok yang membersamai Pak Ihsan tumbuh berkembang mempelajari ilmu-ilmu agama, juga ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan.

Kala Pak Ihsan sedang menempuh pendidikan di Baghdad, Mbah Ali pun masih rutin menyapa beliau melalui surat-suratnya. Surat-surat yang masih dan akan terus disimpan oleh Pak Ihsan, juga yang sukses membuat haru pembacanya kala membayangkan kedekatan kedua tokoh hebat ini.

Pada pengajian kitab Jawami’ul Kalim malam itu, Pak Ihsan memulai ceritanya. Beliau bercerita kepada santri-santrinya. Sebuah kenangan saat masih menjadi santri di Krapyak, yaitu pada saat ditemui Mbah Ali di kamarnya.

Pada saat itu, Pak Ihsan sedang berada di kamarnya yang konon juga difungsikan untuk musholla kecil. Dimana penghuni kamar dapat melakukan ibadah-ibadah sunah juga tadarus al-Qur’an di spot khusus.

Pada waktu itu, Pak Ihsan berniat untuk membuat cantolan tasbih di tembok. Dengan teliti beliau memasang paku di tembok yang akan dibuat untuk menggantungkan tasbih. Lalu, Mbah Ali datang ke kamar beliau. Dan saat melihat Pak Ihsan beserta gantungan tasbih yang baru dibuatnya, Mbah Ali ngendikan;

Baca Juga: Masker dan Renungan Ihwal Menutup Mulut

Zayyinuu anfusakum bil ma’siyah, wa laa tazinuu anfusakum bil ‘ibaadah” yang berarti, “Hiasilah dirimu dengan maksiat, dan jangan hiasi dirimu dengan ibadah.”

Ngendikan Mbah Ali kepada Pak Ihsan tersebut jika dimaknai secara langsung tentu bertendensi menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman. Namun, Mbah Ali melanjutkan, “Nek duwe amal apik rasah diweruh-weruhke wong, cukup gusti Allah sing pirso.”

Hal ini kemudian dijelaskan lagi oleh Pak Ihsan, maksud pangandikan Mbah Ali yang berarti kita tidak perlu memperlihatkan amal ibadah kita, sebab jika amal ibadah kita diniatkan lillahi ta’ala, maka cukuplah Allah SWT yang tahu.

Kemudian Pak Ihsan dengan mata yang berlinang akibat kerinduan terhadap gurunya yang sudah seperti ayahnya sendiri, juga dengan sedikit gelak tawa melanjutkan ceritanya kepada santri-santrinya. “Ning yo ojo disimpen-simpen padahal yo cen ra nduwe, mbok yo ra ketok, tapi jebul sugih amal.” gelak Pak Ihsan.

Belakangan saya mengetahui apa yang disampaikan Mbah Ali itu sejalan dengan apa yang disampaikan Syaikh Ibnu Athaillah dalam kitab tasawufnya yang berjudul Al Hikam. Dimana kita tidak perlu menunjukkan ketaatan kita kecuali di hadapan Allah Ta’ala.

Kisah dari Pak Ihsan ini juga membangkitkan kenangan saya kepada Ibu Ny Hj Durroh Nafisah Ali yang merupakan putri dari Mbah Ali. Sosok ulama perempuan ini sering disapa dengan Ibu atau Bu Nafis oleh santri-santrinya. Begitu juga dengan ayahnya yang lebih suka disapa dengan Pak Ali, alih-alih Kiai Ali.

Baca Juga: Mukjizat dalam Al-Qur’an (4): Umar bin Khattab Memeluk Islam

Saat mengaji al-Qur’an dengan beliau, saya teringat sebuah peraturan yang dibuat oleh Ibu Nafis kepada santri-santrinya yang sedang menghafalkan al-Qur’an. Setiap berangkat mengaji santri-santrinya melewati beberapa rumah yang merupakan tetangga pondok, juga melewati jalan yang sering digunakan untuk lalu-lalang masyarakat sekitar. Lalu, Bu Nafis membuat peraturan dimana santrinya tidak boleh membawa al-Qur’an saat berangkat mengaji.

Apabila dipikirkan secara sekilas maka sangatlah aneh jika santri yang sedang menghafal al-Qur’an justru dilarang membawa mushaf al-Qur’an saat berangkat mengaji.

Namun, ternyata Bu Nafis memiliki alasan yang sejalan dengan ayahandanya, beliau berkata “Eee.. mbok ojo meden-medeni wong urip.” Tutur beliau dengan nada khasnya yang selalu mengundang gelak tawa santri-santrinya. Ia berpendapat bahwa menenteng-nenteng kitab suci al-Qur’an di depan publik adalah suatu hal yang kurang elok sebab membuat orang yang melihat menjadi segan. Bu Nafis pun kemudian menyediakan al-Qur’an yang bisa dipinjam di tempat mengaji.

Selain karena alasan tersebut, Bu Nafis juga menekankan agar para santrinya telah menyiapkan setoran hafalan al-Qur’an dengan sangat baik sehingga tidak perlu membuka mushaf lagi.

Akhir kata, semoga kita senantiasa diberi kesempatan untuk selalu didekatkan dengan orang-orang hebat yang ada di sekitar kita, dan mendapat keberkahan melalui ilmu-ilmu beliau. Aamiin aamiin ya robbal ‘alamin.

Profil Penulis
Yafi Alfita
Yafi Alfita
Penulis Tsaqafah.id
Kadang menulis, kadang jajan telor gulung, dan kadang-kadang jadi mahasiswa UNY Yogyakarta.

2 Artikel

SELENGKAPKNYA