Tsaqafah.id – Dakwah merupakan upaya tutur tindak yang dibalut dengan pesan-pesan ilahiyah sebagai pesan utama, Kesuksesan dakwah sebagai kegiatan berkomunikasi yang menitikberatkan pada transformasi perilaku beragama di dalam masyarakat tidak bisa terpisahkan dari aspek bahasa.
Agama Islam mengajarkan bahasa universal dalam berdakwah seperti yang termaktub di dalam kitab suci Al Qur’an. Karakteristik Bahasa dakwah seperti yang diajarkan di dalam Al Qur’an adalah menyampaikan yang baik sehingga ajaran tersebut dapat masuk ke dalam hati pendengarnya.
Keterampilan komunikasi perlu dikuasai oleh seorang penyampai pesan (da’i) supaya mampu memastikan makna yang disampaikan dapat dipahami oleh pendengar. Dengan kata lain, keperluan memahami psikologi tentang motivasi, tingkah laku dan rangsangan terhadap sasaran akan membantu kelancaran mempengaruhi madh’u (objek dakwah).
Dalam menyampaikan dakwah diperlukan strategi komunikasi dakwah agar dai dapat menyampaikan pesan dakwah secara sistematis dan terukur sehingga pesan ilahiyah dapat dipahami sehingga diharapkan dapat merubah perilaku madh’u sesuai tuntutan agama.
Kemahiran da’i dalam mengemas pesan agama sangat diperlukan agar pesan yang disampaikan mampu memberikan dapak, maka membaca serta merumuskan gagasan dan mengolah pesan sedemikian rupa juga diperlukan dalam proses menyampaikan pesan. Hal yang juga sangat perlu diperhatikan ialah bagaimana kemampuan para da’i membaca psikologis madh’u terkait tema yang perlu disampaikan sesuai konteks kekinian tanpa menghilangkan substansi muatan ilahiyahnya.
Matinya Mimbar Khatib
Dalam perkembagannya di Indonesia, dakwah disampaikan dengan cara dan sarana yang berbeda oleh para da’i. Tidak sedikit yang berhasil mengubah pola pikir masyarakat dalam memahami ajaran agama, namun banyak juga yang sama sekali tidak menikmati pesan agama bahkan tidak memahami sama sekali karena da’i yang tidak maksimal dalam mentransformasikan pesan dakwah dengan baik kepada madh’u.
Tulisan ini berangkat dari fenomena ketidakmampuan kebanyakan para da’i yang secara normatif hanya mampu membaca teks namun tidak mampu menyampaikan konteks terlebih pada metode menyampaikan pesan dengan strategi yang efektif dan efisien. Konteks yang dimaksud para khatib khutbah yang sekadar membaca teks atau buku yang kemudian terkesan monoton sehingga kurang memberikan kesan dakwah yang seharusnya dihayati sebagai pesan agama, berbalik menjadi cerita dongeng yang mampu menidurkan para jamaah.
Baca Juga Perempuan Berkalung Sorban (2009): Menilik Kembali Perempuan di Ranah Pesantren
Fenomena ini biasa terjadi di masjid-masjid desa. masalah ini bisa jadi dilihat dari berbagai aspek, mungkin saja ketidakmampuan da’i dalam mengemas pesan dakwah yang didasari pada latarbelakang pendidikan, ataukah ketidaksiapan panitia masjid dalam menetapkan para khatib yang mumpuni dalam menyampaikan pesan agama khususnya pada saat khutbah Jum’at.
Dalam situasi yang tidak bisa pungkiri ini maka perlu kehadiran berbagai organisasi Islam yang turut mengambil ruang kosong tersebut sehingga mampu menciptakan kesadaran beragama melalui pesan dakwah yang memiliki daya tarik sendiri dengan berbagai metode dan strategi. Upaya ini bisa berangkat dari kerjasama pemerintah setempat dengan menghadirkan kegiatan atau pelatihan kepada para da’i sehingga memiliki bekal dalam mengemas pesan dakwah yang menarik, bermitra dengan organisasi yang mempunyai otoritas sesuai kapasitasnya sebagai dai.
Agar tujuan dakwah dapat tercapai, maka dakwah harus dilakukan secara teratur dan terarah. Pelaksanaan dakwah yang lebih teratur dan terarah diperlukan sebuah proses. Dalam tahapan sebuah proses terdapat beberapa istilah seperti pendekatan, strategi, motode, teknik dan taktik. Ke depan kami berharap banyak hadir ditengah masyarakat da’i yang mampu serta mempunyai kapasitas dalam mengelola pesan dakwah dengan gaya yang humanis, dan membina masyarakat sesuai tuntutan Al-Qur’an dan hadis.

