Melamban, memeras lagi pikiran untuk mengambil sudut baru yang hendak dituju adalah peristiwa kontemplatif yang mungkin cukup bisa dipraktikkan di dunia menahan lapar ini.
Tsaqafah.id – Menyelami alam pikiran orang perkotaan perlu tenaga ekstra terutama bagi yang berangkat dari perdesaan. Ini bukan hanya perihal pace, ritme dan kecepatan masa cahaya. Melainkan mengukur diri. Bahwa setiap yang ingin berlari butuh keselarasan ritme karena tenaga saja tak cukup.
Soal umur, ia terkuras secara lebih cepat daripada yang kita kira. Tertimbun oleh pekerjaan, masalah, tantangan, dinamika sosial yang cukup menenggelamkan hidup yang lebih bisa dinikmati dari sekedar mengulang hari sebelum-sebelumnya.
Lamban dibenci. Cepat dicaci. Puasa semacam kampas yang menahan segala watak tercela yang tertimbun sepanjang 11 bulan, bahkan bulan-bulan dan tahun-tahun yang lalu terumbar.
Baca Juga Semangkuk Bakso Sebelum Ramadan
Sebagai kampas, ia hanya akan aus jika terindikasi dikelola secara zalim. Sebagian punya tata cara mengerem yang aman, yang lain serampangan. Cemas, ragu dan takut adalah sederet pintu yang membiarkan celah dari watak tercela itu masuk.
Metode paling pendek dalam memahami sebuah ritme adalah dengan mengukur diri sendiri. Ketika hasrat terpasung oleh ingatan, dari memakan di siang hari menjadi menahan lapar mata, menuju lapar batin.
Sayang seribu-sayang, sebulan mungkin justru akan lebih disibukkan dengan berunding, pilah-pilih nyari menu makan buka puasa daripada meramu diri sendiri untuk bertempur di medan pahala.
Padahal sependek upaya menahan lapar, puasa jauh lebih berlimpah pijar. Ada ribuan berkah, yang kecil, sederhana dan tersepelekan tetap menetap sebagai giat baik yang termaktub sebagai catatan pahala.
Baca Juga Kabur Aja Dulu, Apakah Lunturnya Nasionalisme? Begini Kata Al-Qur’an
Menyelami alam pikiran perkotaan tak semudah alam perdesaan. Ada ritme khusus dari pengalaman bertempur dengan gelombang besar industrialisasi dan segudang mimpi yang tercurah dari prinsip hidup berkecukupan.
Melamban, memeras lagi pikiran untuk mengambil sudut baru yang hendak dituju adalah peristiwa kontemplatif yang mungkin cukup bisa dipraktikkan di dunia menahan lapar ini.
Puasa, hemat saya, punya daya dongkrak yang bekerja secara simultan untuk menyederhanakan sesuatu yang kompleks dengan cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya dan hanya bisa dilakukan dengan cara kita sendiri.

