menolak teror

Melawan Aksi Teror dengan Menolak Takut

Tsaqafah.id – Ledakan bom di depan gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3) kemarin adalah aksi teror biadab yang mesti dikutuk bersama. Setiap penganut agama dan kepercayaan berhak melaksanakan ibadah tanpa rasa takut.

Pengeboman itu terjadi bertepatan dengan ibadah misa Minggu Palma yang menandai awal Pekan Suci dalam perayaan Paskah oleh umat Kristiani. Dua orang meninggal, yaitu pelaku dan sekuriti, sementara sedikitnya 14 orang mengalami luka-luka.

Ucapan dukacita dan kecaman mengalir di linimasa. Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, menyebut peristiwa bom bunuh diri itu jelas-jelas mencederai kebinekaan yang menjadi karakter bangsa. Sementara Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Agama RI melalui akun instagramnya mengatakan kebiadaban yang terjadi jelas bukan perilaku yang ditunjukkan oleh umat beragama.

Ia menghimbau kepada seluruh pemuka agama untuk menegaskan bahwa tidak ada agama apapun yang membenarkan umatnya untuk melakukan kekerasan dan teror. Bahwa agama selalu mengajarkan kasih sayang, kedamaian, dan saling mencintai sesama manusia. Ia juga berharap, tidak perlu ada ketakutan di tengah-tengah masyarakat, karena ketakutan-ketakutan itulah yang menjadi tujuan para teroris untuk mengacaukan tertib sosial.

Baca juga: Kepemimpinan dan Tiga Pesan Rasulullah bagi Pemimpin

Pesan senada juga diungkapkan oleh Ketua Umum Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gumar Gultom. Dilansir dari kompas.tv, ia menyerukan seluruh umat untuk tidak takut dan resah, tapi tetap waspada. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengunggah gambar atau video tentang peristiwa ini yang justru menimbulkan keresahan masyarakat.

Jangan Beri Ruang Pada Teroris

Dalam berbagai aksi terorisme, respon pemerintah, media, dan masyarakat seringkali justru membuat pelaku teror dan pesannya makin terkenal. Ini terjadi karena . . . . . . selepas insiden, perbincangan lebih banyak berfokus pada pelaku, alih-alih pemulihan korban dan edukasi masyarakat. Padahal, persis seperti itulah tujuan para teroris: mencari perhatian untuk menebar ketakutan dan meneruskan mata rantai kekerasan.

Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru, patut dijadikan contoh dalam hal merespon aksi teror secara simpatik. Dengan tegas ia menolak menyebut nama pelaku karena sadar bahwa ia sedang mencari ketenaran dan Selandia Baru tidak akan memberinya apa-apa. Ia juga tidak segan menyebut pelaku berkulit putih itu sebagai teroris, kriminal, dan ekstremis. Sesuatu yang sulit dilakukan oleh pemimpin-pemimipin dunia di Barat.

Pasca teror, dengan sigap Ardern mengunjungi keluarga korban yaitu komunitas muslim di Christchurch. Dalam kesempatan itu ia mengenakan kerudung hitam dengan jahitan berwarna emas. Tak kalah empatik dengan pilihan simbolis pakaiannya, ia menyampaikan bahwa para korban adalah kita, sedangkan pelaku kekerasan bukanlah bagian dari kita.

Baca juga: Pandangan Gus Baha Terkait Seruan Jihad dalam Azan

Kini, dihadapkan dengan aksi teror berulang yang menyasar kelompok agama minoritas di Indonesia, kohesi sosial harus dipererat. Kita harus tegaskan bahwa keberagaman adalah keniscayaan bagi Indonesia. Umat Kristiani adalah kita, yang sama-sama punya hak menjalankan ibadahnya dalam tenang dan damai. Mengusik mereka sama halnya mengusik kita. Karena bagaimanapun, menyitir ucapan Sayyidina Ali, mereka yang bukan saudara dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan.

Pelaku teror, apapun dalih agamanya, bukanlah bagian dari kita. Jangan berikan ruang sedikitpun bagi mereka. Mulai saat ini, mari kita berhenti menyebarkan pesan-pesan para teroris baik dalam bentuk foto, video, maupun narasi. Tunjukkan kesetiakawanan sosial dengan memberi lebih banyak dukungan pada korban.

Total
1
Shares
Previous Article

Waspada KBGO, Islam Melarang Segala Bentuk Kekerasan Berbasis Gender

Next Article
toleransi

Survei INFID dan Gusdurian: Anak Muda Makin Toleran Tapi Juga Gamang

Related Posts
Read More

Gemuruh Headline Islam

Citra keliru yang tercermin dari kelancangan-kelancangan influencer/penyuluh agama di publik virtual ini mengerucutkan mafsadah; pasar bebas narasi keislaman publik.