Membuka Diskusi tentang Ruang Aman Perempuan dari Film Wadjda

Semoga belum terlalu terlambat untuk ikut serta merayakan International Women’s Day yang jatuh pada 8 Maret lalu. Saya ingin turut merayakan dengan membahas salah satu karya sutradara sekaligus screenwriter perempuan dari Arab Saudi, Haifaa al-Mansour berjudul Wadjda (2012).

Film ini bercerita tentang anak perempuan bernama Wadjda, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang ingin beli sepeda. Wajar belaka keinginan Wadjda ini. Premisnya sangat sederhana bukan?

Namun jadi tidak sederhana mengingat Wadjda tinggal di Arab Saudi, negara yang melarang perempuan untuk naik sepeda bahkan hingga tahun 2018 perempuan bisa didakwa karena menyetir mobil sendirian tanpa mahram.

Film ini dimulai ketika Wadjda yang sedang berjalan menuju ke sekolah sambil bawa roti untuk sarapan. Di tengah jalan, ia bertemu kawannya Abdullah yang mengambil rotinya. Tak terima tingkah usil temannya, Wadjda pun berusaha mendapatkan lagi bekal rotinya. Hingga kemudian Abdullah menarik jilbab Wadjda lalu kabur sambil naik sepeda.

Tak terima dengan kekalahan dengan Abdullah, membuat keinginan Wadjda untuk punya sepeda makin membuncah. Mulanya tentu ia minta pada orang tuanya. Mulai dari bicara baik-baik hingga setengah merengek dicobanya. Ibunya tentu menjelaskan bahwa ia tidak boleh dan tidak bisa naik sepeda. Ayahnya, yang hanya muncul seminggu sekali bahkan tak sempat mendengar keinginan Wadjda.

Baca Juga: Bagaimana Kabar Perempuan Hari Ini?

Jalan diskusi dengan orang tuanya buntu, Wadjda tak hilang akal. Ia mulai menabung sendiri supaya bisa beli sepeda incarannya. Caranya, jualan ke teman-teman sekolahnya, dari gelang buatannya sendiri hingga “menyelundup”-kan penjualan kaset-kaset musik remix dari radio. Ia bahkan sudah “memesan” sebuah sepeda dan memastikan pada pramuniaganya bahwa itu sepeda miliknya yang tak boleh dijual. Anehnya hal itu diiyakan oleh pramuniaga tersebut. Segala cara dia lakukan . . . . . . untuk mendapatkan sepeda impiannya.

Namun, tentu saja konflik film ini bukan hanya soal Wadjda dan keinginannya punya sepeda. Di tengah film kita juga akan tahu alasan mengapa ayah Wadjda hanya muncul sekali-sekali di rumah mereka. Kalau Wadjda kecil saja sudah terbatas ruang geraknya, apalagi para perempuan dewasa. Singkatnya, film ini memberi gambaran bagaimana posisi perempuan dalam tatanan sosial di Arab Saudi, entah itu anak perempuan, istri, menantu, guru dan lain sebagainya.

Di film ini, kita akan lihat bagaimana para perempuan ini jadi punya pilihan yang lebih terbatas, bukan karena mereka tidak berdaya melainkan memang sengaja digembosi oleh lingkungan sosialnya. Termasuk oleh keluarganya sendiri.

Namun rasanya akan jadi kurang seru kalau semua konflik saya jabarkan di sini. Film ini bisa ditonton secara legal di Netflix jadi silakan nonton sendiri saja ya. Mungkin ini film lama namun rasanya, masih ada banyak hal relevan yang bisa didiskusikan selepasnya.

Menariknya lagi, dalam produksi film berdurasi 90 menit ini sang sutradara pun mesti memberi instruksi dari dalam van. Ia tidak bisa melakukan pekerjaannya di ruang terbuka hanya karena ia perempuan.

Baca juga: Kenapa Perempuan Harus Berhati-hati dalam Berfoto?

Arab Saudi memang sudah melegalkan menyetir sendiri bagi perempuan sejak 2018 lalu. Namun, narasi untuk memastikan perempuan berada di rumah karena katanya hanya dengan begitu marwahnya bisa terjaga tak juga surut dari perbincangan. Termasuk di Indonesia.

Kalau memaksa perempuan untuk tinggal dalam rumah masih dianggap cara melindungi, tidakkah kita perlu cara berpikir lain? Bahwa mungkin, jangan-jangan, memang belum ada ruang publik yang aman bagi perempuan. Bukan hanya ruang fisik namun juga ruang maya, ruang digital kita. Tidakkah justru ini yang harus kita upayakan bersama-sama, alih-alih ‘memenjarakan’ dengan dalih memuliakan?

Total
3
Shares
Previous Article

Mudahnya Mengawali Tapi Sulit Untuk Mengakhiri

Next Article

Refleksi Ihwal Beragama Sehari-hari dari film Tanda Tanya (?)

Related Posts