Bagaimana Kabar Perempuan Hari Ini?

Selama pandemi ini Komnas Perempuan mencatat kekerasan pada perempuan bahkan meningkat menjadi 2.389 kasus dibanding tahun 2019 sejumlah 1.413 yang terlaporkan.

Tsaqafah.id – Sepanjang pandemi 2020 lalu, berhubung di tempat bekerja saya ditugasi untuk berkeliling, saya pun akhirnya berjumpa dengan warga dari berbagai lapisan masyarakat. Saya merasa buntung dapat bercengkerama dengan mereka. Namun di masa pandemi ini saya juga memusatkan perhatian pada saudaraku, saudara-saudara sesama perempuan yang saya temui di seantero Yogyakarta. 

Banyak di antara mereka, para ibu-ibu yang tadinya tidak bekerja, di masa pandemi harus bekerja. Hal ini karena suami mereka kehilangan pekerjaannya, pandemi memang sukses dengan berbagai pemutusan-pemutusan hubungan kerja yang tak terelakan.

Para ibu-ibu ini pun banting setir demi dapur tetap mengepul. Berbagai usaha dilakukan, mulai dari buruh cuci rumah tangga, nge-gojek online, mencari pasir untuk proyek bangunan, sampai membuka warung soto dan lain sebagainya. Para ibu-ibu, emak-emak ini begitu luar biasa. Sayang dan cintanya pada keluarga tak terputus meski nafkah dari suaminya terpaksa terputus.

Suatu hari hal yang lebih mencengangkan saya temukan di suatu daerah yang dihuni oleh para pemulung. Kondisi perkampungannya begitu tragis, sanitasi yang kurang mendapat perhatian serta kondisi rumah-rumah yang hanya berdinding kardus dan baliho-baliho bekas. Di sini banyak perempuan ditinggal suaminya, selain ditinggal juga memang tak bersuami, pun banyak anak tidak diketahui ayah kandungnya. Hampir sebagian besar dari mereka adalah para pendatang dan bukan warga asli setempat, tak heran jika rumah-rumah reot yang mereka tinggali tanahnya juga ngontrak.

Baca Juga: Fenomena Gunung Es Angka Kekerasan terhadap Perempuandi Indonesia

Saya lebih dibuat tercengang manakala mendengar cerita seorang ibu dan mbak-mbak di sana. “Itu anak saya ditipu, katanya mau dinikahi ternyata tidak,” ucap seorang ibu yang tengah mengasuh cucunya.

Hal di atas mungkin juga terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Kisah-kisah pilu para perempuan yang tak sedikit distigmatisasi buruk oleh masyarakat lantaran ketidakberdayaan-ketidakberdayaannya. Ketidakberdayaan akibat minimnya pengetahuan sampai ketidakberdayaan ekonomi yang membuka peluang terjadinya kekerasan.

Jika kita kini . . . . . . tengah memperjuangkan nasib perempuan, begitu prihatinnya di tengah-tengah nasib perempuan yang sudah memiliki akses dan kebebasan, yang sudah bisa bersekolah setinggi-tingginya dan kemudahan mengelola usaha mikro, masih ada perempuan-perempuan lain yang begitu bergantung pada orang lain, terutama pada laki-laki. Inilah kenapa perjuangan untuk perempuan masih harus dimasifkan.

Perempuan menjadi bergantung pada laki-laki karena tak punya cukup daya tawar (bargaining) sehingga terjadi subordinasi dan kekerasan sampai pemerkosaan. Selama pandemi ini Komnas Perempuan mencatat kekerasan pada perempuan bahkan meningkat menjadi 2.389 kasus dibanding tahun 2019 sejumlah 1.413 yang terlaporkan.

Baca Juga: Begini Sahnya Wudhu bagi Muslimah Ber-Make Up

Ini menjadi catatan penting, apalagi kekerasan-kekerasan yang terjadi di masa pandemi dilaporkan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada Catatan Tahunan (CATAHU 2020) yang diterbitkan pada 5 Maret ini menyebut bahwa kasus-kasus kekerasan seksual di masa pandemi justru sebagian besar terjadi di daerah-daerah di pulau Jawa yang notabenenya telah memiliki akses infrastruktur yang lebih memadai.

Rupanya akses-akses yang ada tidak cukup menjadi penentu tidak adanya lagi peningkatan angka kekerasan seksual. Pada masyarakat yang telah tercukupi secara akses pengetahuan dan kemandirian seperti ini maka bisa ditelisik lebih dalam, bahwa kemudian yang dibutuhkan adalah regulasi yang mengatur agar pelaku tidak lagi bebas berkeliaran dan terbebas dari hukuman.

Ini semua seharusnya cukup untuk menyadarkan kita bahwa perjuangan masih panjang. Hingga membuka selebar-lebarnya akses pengetahuan dan kemandirian ekonomi bagi perempuan bisa jadi salah satu jalan untuk membebaskan perempuan dari ketergantungan dan memerangi kasus kekerasan seksual yang seringkali terjadi karena perempuan minim pengetahuan dan kelemahan ekonomi. Pun dalam masyarakat yang lebih berdaya, lebih dibutuhkan adalah undang-undang yang mengatur tentang kasus kekerasan seksual yang selama ini dipahami begitu sempit. RUU PKS tak bisa ditawar lagi, sebagai ikhtiar memerangi kezaliman dari nafsu kekerasan terhadap sesama.

Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Fenomena Gunung Es Angka Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia

Next Article

Mudahnya Mengawali Tapi Sulit Untuk Mengakhiri

Related Posts