Memilih Jalan Kehidupan, Sebuah Keputusan Penuh Pertimbangan

Memilih Jalan Kehidupan, Sebuah Keputusan Penuh Pertimbangan

27 November 2020
22 dilihat
2 menits, 33 detik

Saya teringat teman-teman sepondok ketika melihat yang lainnya berpakaian rapih dan wangi. Mereka biasanya melempar guyonan dalam bahasa Sunda berbentuk pertanyaan seperti, โ€œBade kamarana atuh gaya?โ€ yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti, โ€œPada mau kemana, sih?โ€.

Mungkin guyonan tersebut merupakan pertanyaan basa basi saja, akan tetapi saya tertarik melihat lebih jauh makna candaan itu. Yaitu tentang arah tujuan kita dan apa yang akan kita lakukan di sana.

Ada sebuah ayat yang secara tidak langsung berhubungan dengan guyonan di atas. Ayat tersebut terdapat di dalam surat At-Takwir ayat 26 yang berbunyi ููŽุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุชูŽุฐู’ู‡ูŽุจููˆู†ูŽ (โ€œMaka kemanakah kalian akan pergi?โ€).

Terlepas dari kajian tafsir, ayat itu menyiratkan tentang sebuah pilihan. Mengapa sebuah pilihan? Karena di balik sebuah pertanyaan โ€œhendak menuju kemanaโ€ atau โ€œmau kemanaโ€ terdapat pilihan sebelum menentukan suatu tujuan. Dengan adanya pilihan itulah biasanya kita akan menimbang dan membandingkan mana yang kita kira sebagai tempat atau hal yang baik untuk kita dan akan menjauhi atau tidak memilih yang kurang baik untuk kita.

Memanglah benar bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya pilihan. Sadar atau tidak, segala sesuatu yang terjadi di kehidupan ini merupakan sebuah pilihan. Dimulai dari pertama kali membuka mata sampai mata terlelap kembali. Contoh sederhananya saja ketika mendengar suara azan di waktu subuh, di sana sudah ada sebuah pilihan apakah akan melanjutkan tidur kembali ataukah segera bangun dan melaksanakan shalat subuh. Contoh lain adalah pilihan untuk mengunjungi tempat wisata, apakah mau ke pantai, perbukitan, pegunungan atau tempat lainnya.

Baca juga : Bagaimana Cara Kita Mengimani Rukun Iman?

Pilihan-pilihan yang disediakan dalam agama sebetulnya hanya ada tiga. Yaitu apakah kita akan condong kepada kebaikan dan ketakwaan; apakah justru kepada jalan kejelekan dan kedurhakaan; ataukah memilih pilihan ketiga yaitu untuk menjadi orang yang berada di pertengahan, dalam artian bahwa kebaikan dilakukan kejelekan juga jalan terus, rata-rata sih bukannya kita memang gini ya.. ?

Untuk menjadi manusia yang lebih baik alangkah apiknya jika kita memilih kepada jalan kebaikan yang akan memunculkan keridaan pencipta kita. Hal ini selaras dengan perintah Allah kepada manusia terkhusus lagi umat Islam yaitu perintah untuk mengabdi dan terus menerus melakukan kebaikan seperti dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi

ูˆูŽู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชู ุงู„ู’ุฌูู†ูŽู‘ ูˆูŽุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽ ุฅูู„ูŽู‘ุง ู„ููŠูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ู

โ€œDan tidaklah kami ciptakan Jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Kuโ€ (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Akan tetapi fitrah yang diberikan Allah kepada manusia adalah hawa nafsu. Maka manusia tidaklah seperti malaikat yang terus menerus beribadah tanpa kenal rasa lelah ataupun seperti setan yang terus menerus mencoba untuk menggoyahkan keistiqamahan dan keimanan. Maka dari itu wajar jika manusia, terkhusus lagi orang Islam terkadang melakukan hal-hal baik dan juga hal-hal buruk. Hal itu tergambarkan dalam surat Asy-Syams ayat 8-10 yang berbunyi:

ููŽุฃูŽู„ู’ู‡ูŽู…ูŽู‡ูŽุง ููุฌููˆุฑูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ูฐู‡ูŽุง (8) ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽูู’ู„ูŽุญูŽ ู…ูŽู† ุฒูŽูƒูŽู‘ู‰ูฐู‡ูŽุง (9) ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุงุจูŽ ู…ูŽู† ุฏูŽุณูŽู‘ู‰ูฐู‡ูŽุง (10

โ€œMaka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. Asy-Syams: 8-10).

Allah mengilhamkan kepada manusia dua sifat yaitu sifat takwa dan durhaka, jadi cobalah untuk menerima sifat yang telah Allah ilhamkan. Jika kita melakukan kesalahan atau kemaksiatan maka cepat-cepatlah minta ampunan kepada Sang Pengampun. Jika kita melakukan kebaikan atau ketakwaan maka jangan cepat-cepat merasa puas dan angkuh.

Maka dari itu, kita harus selalu berhati-hati dalam menentukan sebuah pilihan. Mantapkanlah pilihan kita dengan meminta petunjuk kepada Allah Sang Pemilik Skenario Terbaik. Salah satu cara yang bisa dan biasa dilakukan untuk memilih jalan terbaik adalah dengan berusaha dan berdoa, jika dilanda kebingungan kita bisa meminta nasehat guru-guru kita dan orang-orang sholeh terlebih dahulu, juga sambil berdoa dan sholat istikhoroh untuk menentukan pilihan yang sangat membingungkan. Pada akhirnya hanya usaha terbaik disertai doa tulus yang akan mengantarkan kita pada jalan kebaikan.

Wallahu โ€˜Alam

*Muhammad Muwafiquddin, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Profil Penulis
Muwafiq
Muwafiq
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

1 Artikel

SELENGKAPKNYA