Mencari Makna (2): Masjid dan Peran-Peran Terlupakan

Mencari Makna (2): Masjid dan Peran-Peran Terlupakan

27 Februari 2026
102 dilihat
4 menits, 16 detik

Tsaqafah.id – Suatu ketika, di tengah perjalanan, saya singgah di sebuah masjid untuk beristirahat dan shalat. Dari jauh masjid itu tampak sepi. Cocok untuk beristirahat sembari bersantai sejenak, begitu batin saya. Saat itu waktu menunjukkan hampir jam 2 siang. Sayangnya, penglihatan saya dari jauh tadi salah. Masjid itu sepi bukan karena tiada orang singgah melainkan karena pintu pagarnya dikunci.

Saya menduga barangkali masjid ini pernah kehilangan kotak infak atau amplifier sehingga harus dikunci di luar jam salat demi berjaga-jaga. Di masa seperti sekarang, berbagai kejahatan memang bisa terjadi di masjid. Saya masih ingat, masjid dusun saya dimasuki orang gila dan ia mengambil jam dinding sehingga masjid harus dikunci beberapa hari lamanya.

Saya sengaja berhenti sebentar di luar pagar, sembari berharap tetangga dekat masjid datang membukakan gerbang. Beberapa orang melihat saya dan berlalu begitu saja. Sementara rumah-rumah di sekitar masjid sama rapatnya.

Baca juga Mencari Makna (1): Karena Ramadan tak Pernah Menemui Kita

Saya meyakini masjid punya banyak peran. Masjid memang rumah Allah namun bukan berarti masjid hanya bisa dan boleh untuk salat semata. Di masa Nabi Muhammad SAW, beliau menggunakan masjid untuk berbagai urusan mulai dari sosial budaya hingga keamanan. Nabi menggunakan masjid untuk tempat musyawarah, melangsungkan pendidikan agama, menggelar pengadilan, hingga konsolidasi pasukan sebelum perang.

Hari ini, 1000 tahun lebih selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW, dunia Islam mengalami berbagai dinamika, termasuk dalam hal masjid. Hari ini, masjid menjadi salah satu ikon kebanggaan komunal bagi suatu kelompok masyarakat. Dusun dan kampung berlomba-lomba membangun masjid seindah mungkin. Malahan kadang ada lebih dari satu masjid di suatu dusun atau kampung. Sementara di tingkat lebih atas, misalnya di tingkat kabupaten, pemerintah berupaya keras membangun suatu masjid megah dengan tajuk “Masjid Agung”.

Sayangnya, perkembangan pembangunan masjid seringnya tidak diikuti dengan optimalisasi peran masjid bagi masyarakat di sekitarnya. Cerita saya di atas hanyalah satu contoh ketika masjid hanya dipandang dari sudut pandang agama. Contoh lainnya, fenomena mengumpulkan sebanyak mungkin uang kas. Padahal, masjid sesungguhnya punya banyak peran vital untuk berbagai masalah vital hari ini dan waktu-waktu nanti.

Baca juga Menyoal Keislaman Parsial: Mengapa Kita Tak Kunjung menjadi Umat Kaffah?

Selain dari peran agama, masjid juga bisa dipandang dari peran secara sosial budaya. Tidak berlebihan jika mengatakan masjid adalah sebuah ruang sosial. Di masjid, orang-orang saling bertemu dan berinteraksi lalu menyepakati berbagai budaya bagi mereka.

Shalat adalah perkara antara manusia dengan Sang Pencipta. Namun, shalat berjamaah dilanjutkan mengaji bersama adalah perkara kebudayaan dan kebiasaan. Kurban adalah ajaran agama namun, membagikan daging kurban berbungkus anyaman bambu atau daun jati agar ramah lingkungan adalah perkara kesepakatan para jamaah.

Dari sudut pandang pendidikan, masjid seharusnya menjadi garda terdepan pendidikan keagamaan bagi masyarakat di sekitarnya. Apabila shalat adalah tiang agama, maka masjid adalah tempat untuk memastikan tiang-tiang itu tetap kokoh berdiri. Masjid pula yang menjadi tempat penggemblengan unsur-unsur dari tiang agama tersebut. Selain pendidikan agama, masjid juga sangat memungkinkan untuk berbagai ruang pendidikan lain, termasuk pendidikan akademis sekalipun.

Baca juga Semua Orang Sibuk Cari Hack biar Sukses, Padahal ini Kuncinya!

Sayangnya, peran masjid dalam bidang pendidikan acapkali disempitkan hanya dalam bidang agama semata dan kadang kesulitan beradaptasi dengan perjalanan zaman. Contoh paling sahih adalah taman pendidikan Alquran dengan kondisi umum masih sama dengan 3 dekade lalu. Anak-anak datang, mengaji, lalu pulang. Apabila ada hal baru mungkin terjadi di bulan Ramadan semata. Keadaan ini sepaket dengan tamplate ajakan mengaji nan begitu khas.

“Teman-teman, diharap datang ke masjid, sudah ditunggu yang lain,” yang dilantangkan lewat pengeras oleh seorang bocah dengan nafas tertahan.

Padahal, apabila mau, masjid bisa berkembang jauh lebih besar dan berdampak bagi masyarakat. Saya selalu membayangkan kegiatan TPQ di masjid dilengkapi dengan sesi belajar akademis. Saya selalu membayangkan, para guru mengaji mengajak bocah-bocah belajar mengaji di alam dalam kerangka tadabbur alam dan mengimani ciptaan Allah. Saya juga selalu membayangkan, masjid mau menggunakan uang hasil infak untuk pembiayaan kegiatan pendidikan bagi jamaahnya. Entah dengan optimalisasi TPQ atau skema beasiswa bagi pelajar setempat yang aktif di masjid.

Baca juga Ketika Bocah Masjid Bertemu Jama’ah Senior

Sayangnya, itu semua masih menjadi bayangan utopis semata. Banyak masjid di luar sana yang masih memilih fokus pada urusan keagamaan semata. Alih-alih memperluas peran dan fungsi, masjid-masjid lebih gemar bermain di ranah simbolisasi fisik lewat kemegahan bangunan, intensitas pengajian, hingga daya jangkau pengeras suara. Dari sisi finansial, banyak masjid masih gemar mengumpulkan uang hasil infak selama bertahun-tahun demi bisa melakukan renovasi fisik.

Akibatnya, banyak masjid bagus secara fisik namun gagal menjadi ruang inklusif. Fokus utama masjid lantas hanya terkait kenyamanan para jamaah ketika beribadah. Namun, hanya sedikit masjid mempedulikan ruang bermain bagi anak-anak. Sama sedikitnya dengan masjid yang tergerak untuk menciptakan TPQ atau konsep pendidikan keagamaan yang lebih asyik dan sesuai kebutuhan zaman. Seakan-akan, tanggung jawab masjid hanya selesai di urusan shalat semata.

Dampak lain dari fenomena ini adalah terciptanya pendekatan yang kaku dan mengedepankan sudut pandang agama terhadap berbagai masalah seputar kehidupan di masjid. Perihal anak-anak dan remaja yang jarang terlihat di masjid misalnya, akan dipandang dengan pendekatan ketaatan beragama. Padahal, masalah ini juga terkait erat dengan lemahnya sistem pendidikan dan regenerasi di masjid yang melibatkan anak-anak dan remaja secara proaktif sesuai kebutuhan dan kondisi masyarakat.

Baca juga Keistimewaan Masjid Al Aqsa

Pada akhirnya, banyak masjid terasa berjarak dengan realitas sosial budaya di sekitarnya. Masjid sekadar menjadi bangunan tempat beribadah namun gagal menjawab berbagai permasalahan para jamaahnya. Orang-orang tahu harus ke masjid ketika azan dikumandangkan namun mereka tahu pula tidak mungkin datang ke masjid saat kelaparan atau butuh bantuan bagi biaya pendidikan anaknya. Masjid terbuka lebar untuk bersujud namun selepas jam salat usai beberapa masjid akan tertutup bahkan untuk sekadar beristirahat sejenak bagi para kurir atau pengemudi ojek online.

Selepas dari masjid itu, saya melanjutkan perjalanan. Apabila nanti tidak menemukan masjid, saya berencana berhenti di SPBU untuk shalat sembari merebahkan badan barang sebentar.

Saya melanjutkan perjalanan sambil melepas liarkan pikiran. Apabila masjid adalah rumah Allah, lalu saat manusia hendak bertamu ke rumah-Nya sementara rumah itu terkunci, apakah Allah berarti sedang tidak ingin menerima tamu?

Baca juga Nyala-Nyala di Tempat Ibadah

Profil Penulis
Syaeful Cahyadi
Syaeful Cahyadi
Penulis Tsaqafah.id
Penulis dan Pengelola taman baca Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan. Menggemari ziarah serta sejarah secara otodidak. Saat ini menjadi anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman.

6 Artikel

SELENGKAPNYA