Mencari Makna (1): Karena Ramadan tak Pernah Menemui Kita

Mencari Makna (1): Karena Ramadan tak Pernah Menemui Kita

23 Februari 2026
123 dilihat
5 menits, 49 detik

Ramadan tiada pernah mendatangi kita; sebaliknya, manusialah yang akan terus mendatangi Ramadan sebagai lakon kecil di atas panggung maha megah

Tsaqafah.id – Menjelang Ramadan, berbagai template ucapan bertebaran. Mulai dari banner di kantor pemerintahan, banner organisasi, hingga konten-konten media sosial. Secara lebih personal, template ucapan juga dikirimkan ke kerabat dan sahabat, sepaket dengan permintaan maaf menjelang puasa, walaupun kadang hanya bersifat broadcast antar grup WhatsApp.

Ilusi Ramadan sebagai Tamu Agung

Di budaya populer, Ramadan agaknya dipandang sebagai subyek, ia akan mendatangi umat manusia. Ia sering diposisikan sebagaimana tamu, ia akan mendatangi. Selayaknya tuan rumah yang baik, diri manusia akan bersiap menyambutnya, Sang Tamu Agung.

Lalu, bagaimana jika Ramadan tidak mendatangi kita?

Imajinasi saya kadang menghubungkan budaya populer terkait Ramadan dengan pergeseran spiritual umat manusia. Dulunya, manusia adalah bagian dari alam raya bersama aneka makhluk hidup lain. Dulunya, manusia tak berdaya di hadapan Semesta Raya, gunung-gunung, batuan besar, dan gejolak badai. Itu dulu, jauh sebelum modernitas menjadikan manusia si bungsu yang pongah.

Seiring laju zaman, manusia bergerak kian sombong dan acapkali menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Dengan tangan kecil ini, kita bisa menaklukkan alam, mengatur cuaca, hingga menjinakkan ganasnya badai.

Baca juga Begini Cara Menyikapi Toxic People menurut Al-Qur’an

Saya kadang merasa, menempatkan bulan Ramadan sebagai sesuatu yang akan mendatangi kita tidak terlepas dari pemikiran ini, pemikiran yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta dan bisa mengatur beraneka rupa hal. Ramadan sama halnya dengan bulan-bulan lain, ia tiada pernah mendatangi kita.

Sebaliknya, manusialah yang akan terus mendatangi Ramadan dari masa ke masa, dengan segala perbedaannya. Apabila dunia adalah panggung sandiwara, manusia adalah lakon yang akan menjalani babak demi babak, cerita demi cerita, hingga nanti layar tertutup dan lampu panggung mati. Apabila dunia adalah suatu game

Apabila generasi 90-an berkata jika Ramadan terasa berbeda, perbedaan itu sesungguhnya terletak pada peradaban manusia. Dulunya, interaksi kita selama Ramadan terasa lebih personal; berbanding terbalik dengan kondisi saat ini di mana berbagai template ucapan instan bertebaran. Mulai dari banner di kantor pemerintahan, banner organisasi, hingga konten-konten media sosial. Secara lebih personal, template ucapan juga dikirimkan ke kerabat dan sahabat, sepaket dengan permintaan maaf menjelang puasa, walaupun kadang hanya bersifat broadcast antar grup WhatsApp.

Baca juga Antropologi Puasa: Merayakan Ramadhan di Indonesia

Modernitas dan Kepongahan Manusia sebagai Pusat Semesta

Di budaya populer, Ramadan agaknya dipandang sebagai subyek, ia akan mendatangi umat manusia. Ia sering diposisikan sebagaimana tamu, ia akan mendatangi. Selayaknya tuan rumah yang baik, diri manusia akan bersiap menyambutnya, Sang Tamu Agung.

Lalu, bagaimana jika Ramadan tidak mendatangi kita?

Imajinasi saya kadang menghubungkan budaya populer terkait Ramadan dengan pergeseran spiritual umat manusia. Dulunya, manusia adalah bagian dari alam raya bersama aneka makhluk hidup lain. Dulunya, manusia tak berdaya di hadapan Semesta Raya, gunung-gunung, batuan besar, dan gejolak badai. Itu dulu, jauh sebelum modernitas menjadikan manusia si bungsu yang pongah.

Seiring laju zaman, manusia bergerak kian sombong dan acapkali menempatkan diri sebagai pusat segalanya. Dengan tangan kecil ini, kita bisa menaklukkan alam, mengatur cuaca, hingga menjinakkan ganasnya badai.

Saya kadang merasa, menempatkan bulan Ramadan sebagai sesuatu yang akan mendatangi kita tidak terlepas dari pemikiran ini, pemikiran yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta dan bisa mengatur beraneka rupa hal. Ramadan sama halnya dengan bulan-bulan lain, ia tiada pernah mendatangi kita.

Baca juga Keistimewaan Puasa di Bulan Ramadan

Sebaliknya, manusia lah yang akan terus mendatangi Ramadan dari masa ke masa, dengan segala perbedaannya. Apabila dunia adalah panggung sandiwara, manusia adalah lakon yang akan menjalani babak demi babak, cerita demi cerita, hingga nanti layar tertutup dan lampu panggung mati. Apabila dunia adalah suatu game

Apabila generasi 90-an berkata jika Ramadan terasa berbeda, perbedaan itu sesungguhnya terletak pada peradaban manusia. Dulunya, kita menjalani Ramadan sebagai anak 5 tahun tanpa banyak pilihan hiburan. Anak-anak desa lantas menghabiskan waktu dengan memetik buah duwet dan jambu monyet di gunung atau membuat petasan dari bambu. Di akhir Ramadan, barangkali kita akan bersuka cita dengan baju baru dan aneka kudapan di ruang tamu, tanpa harus memikirkan biaya untuk membelinya.

Kini, kita menjalani Ramadan dengan sangat berbeda. Dunia kian modern, zaman berjalan begitu cepat. Anak-anak kita tidak perlu bermain petasan demi membunuh waktu sebab ada gawai dan televisi serta aneka rupa teknologi. Anak-anak desa juga tiada perlu mencari duwet dan jambu monyet karena bukit-bukit sudah hilang.

Pada babak cerita sebelumnya, Ramadan barangkali terasa berbeda. Ada suasana tentram, sore hari dipenuhi bocah mengaji di masjid, pagi hari diisi anak-anak yang jalan-jalan selepas salat Subuh berjamaah. Namun, di babak ini barangkali para lakon dan latar panggung telah berubah.

Baca juga Obati Dahaga Ngaji Ramadan di Pesantren, Alumni Krapyak Buka Kelas “#NyantriKilat”

Di luar hiruk pikuk dunia manusia, Ramadan dan bulan-bulan lain tetaplah sama saja sejak zaman dahulu kala. Ia tetap menawarkan aneka pahala dan kebaikan. Ia tetap menghadirkan getar di hati yang sulit dikisahkan. Hanya saja, barangkali, kita sebagai lakon perlu lebih banyak upaya untuk bisa merasakan dan menemukannya.

Kita dulu menemui Ramadan tanpa kesempatan berbuka di resto-resto kekinian bersama aneka ragam lingkar perkawanan. Hari ini, kita bersua Ramadan bersama belasan janji buka bersama. Entah mau memilih buka bersama bersama kawan atau tetap berbuka di rumah bersama keluarga lalu tarawih dan merendahkan diri di depan Sang Maha Pengasih sembari berharap sedikit pahala untuk tambahan tabungan kita.

Lakon Kehidupan di Panggung Ramadan

Kelak, menjelang akhir Ramadan, saya yakin akan banyak konten yang mengatakan ‘selamat tinggal Ramadan, semoga kita bertemu di tahun depan.’ Siapakah yang meninggalkan? Kita, atau Ramadan?

Barangkali, Ramadan adalah momentum untuk merumuskan ulang posisi manusia dalam perjalanan zaman. Apakah kita pusat semesta yang serba didatangi atau sekadar lakon kecil di atas panggung maha megah. Lakon yang memainkan peran dari fase ke fase. Jika merujuk pada filosofi Jawa dari fase mijil hingga fase pucung.

Baca juga Pengalaman Ngaji Ramadan Bareng 20 Ulama Perempuan Nusantara

Lalu, Ramadan adalah salah satu dari fase itu. Kita akan terus menemuinya sepanjang Sang Sutradara masih memainkan kita di panggungnya, entah dengan peran dan kostum seperti apa. Menjalani Ramadan sebagai anak 5 tahun tanpa banyak pilihan hiburan. Anak-anak desa lantas menghabiskan waktu dengan memetik buah duwet dan jambu monyet di gunung atau membuat petasan dari bambu. Di akhir Ramadan, barangkali kita akan bersuka cita dengan baju baru dan aneka kudapan di ruang tamu, tanpa harus memikirkan biaya untuk membelinya.

Kini, kita menjalani Ramadan dengan sangat berbeda. Dunia kian modern, zaman berjalan begitu cepat. Anak-anak kita tidak perlu bermain petasan demi membunuh waktu sebab ada gawai dan televisi serta aneka rupa teknologi. Anak-anak desa juga tiada perlu mencari duwet dan jambu monyet karena bukit-bukit sudah hilang.

Pada babak cerita sebelumnya, Ramadan barangkali terasa berbeda. Ada suasana tentram, sore hari dipenuhi bocah mengaji di masjid, pagi hari diisi anak-anak yang jalan-jalan selepas salat Subuh berjamaah. Namun, di babak ini barangkali para lakon dan latar panggung telah berubah.

Di luar hiruk pikuk dunia manusia, Ramadan dan bulan-bulan lain tetaplah sama saja sejak zaman dahulu kala. Ia tetap menawarkan aneka pahala dan kebaikan. Ia tetap menghadirkan getar di hati yang sulit dikisahkan. Hanya saja, barangkali, kita sebagai lakon perlu lebih banyak upaya untuk bisa merasakan dan menemukannya.

Baca juga Tarak: Menjadikan Ramadhan yang Bukan Sekedar Puasa

Kita dulu menemui Ramadan tanpa kesempatan berbuka di resto-resto kekinian bersama aneka ragam lingkar perkawanan. Hari ini, kita bersua Ramadan bersama belasan janji buka bersama. Entah mau memilih buka bersama bersama kawan atau tetap berbuka di rumah bersama keluarga lalu tarawih dan merendahkan diri di depan Sang Maha Pencipta sembari berharap sedikit pahala untuk tambahan tabungan kita.

Ramadan sebagai Fase Perjalanan Zaman

Kelak, menjelang akhir Ramadan, saya yakin akan banyak konten yang mengatakan ‘selamat tinggal Ramadan, semoga kita bertemu di tahun depan.’ Siapakah yang meninggalkan? Kita, atau Ramadan?

Barangkali, Ramadan adalah momentum untuk merumuskan ulang posisi manusia dalam perjalanan zaman. Apakah kita pusat semesta yang serba didatangi atau sekadar lakon kecil di atas panggung maha megah. Lakon yang memainkan peran dari fase ke fase. Jika merujuk pada filosofi Jawa dari fase mijil hingga fase pucung.

Lalu, Ramadan adalah salah satu dari fase itu. Kita akan terus menemuinya sepanjang Sang Sutradara masih memainkan kita di panggungnya, entah dengan peran dan kostum seperti apa.

Baca juga Lebaran dan Panggung Teater

Profil Penulis
Syaeful Cahyadi
Syaeful Cahyadi
Penulis Tsaqafah.id
Penulis dan Pengelola taman baca Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan. Menggemari ziarah serta sejarah secara otodidak. Saat ini menjadi anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman.

6 Artikel

SELENGKAPNYA