Menelusuri Dawuh Kiai Sahal Yang Terkoneksi Dengan Ulama Pendahulunya

Menelusuri Dawuh Kiai Sahal Yang Terkoneksi Dengan Ulama Pendahulunya

11 Maret 2022
76 dilihat
3 menits, 54 detik

Tsaqafah.id – Kiai Sahal Mahfudh Allah yarham merupakan ulama asal Kajen Pati Jawa Tengah. Mbah Sahal, begitu dahulu kami memanggilnya, merupakan sosok Kiai yang faqih-ushuli. Sepanjang hidupnya disegani oleh semua kalangan. Banyak pendapat-pendapat beliau—baik yang disampaikan kepada publik secara langsung maupun yang tertuang dalam tulisan dan karya-karya—amat tendensius dan relevan. Relevan dalam arti ucapan beliau sesuai dengan keterjadian di masyarakat. Apa yang beliau sampaikan mendasar, menjurus dan sesuai target, tidak asal-asalan.

Sebenarnya, Kiai Sahal sendiri merupakan tipe ulama yang pendiam (baca: tidak banyak bicara). Beliau berkata seperlunya, tidak seperti ulama jadi-jadian yang “diorder” untuk menyikapi segala sesuatu dengan mengeluarkan fatwa-fatwa. Ada kritik yang mendalam bagi kita semua, bahwa apabila tidak mengetahui sesuatu maka belajarlah, membuka kitab-kitab klasik serta mengkajinya melalui guru dan ustaz yang mutafannin dalam bidangnya. Jangan belajar agama hanya melalui para da’i-da’i di sosial media, karena itu saja belum cukup menjadi bekal pengetahuan ilmu-ilmu agama.

Pernah dalam suatu forum ilmiah berbahasa Arab yang diselenggarakan oleh para santri mutakharrijin (santri kelas akhir), Kiai Sahal ditanya oleh seorang santri tentang siapakah sebenarnya definisi seorang kiai dan apa saja ciri-ciri khusus yang melekat di dalamnya.

“من هو المعتبر بالكياهي؟ (Man huwa al-mu’tabar bi al-kiyai?)”, tanya santri.

(Siapakah yang pantas menyandang gelar kiai?)

Kiai Sahal menjawab,

..في زمان الأول، الكياهي لقب لشخص عالم علّامة. له أخلاق وله (علم) شريعة. لا يسمى الكياهي إلا من له علم كثير وله (علم) شريعة وهو صوفي متعامل بجميع علومه الكثيرة. هذا كياهي في الأول، الآن لا. هو لقب عام لكل يريد. إذا أردت أن تلقب بالكياهي تفضّلْ وسوف تدعوك الكياهي. الآن ليس له معنى في الحقيقة.

“Di zaman dahulu, Kiai merupakan julukan bagi seseorang yang sangat alim, berakhlak mulia, memahami ilmu syariat. Tidak dapat disebut seorang kiai kecuali bagi orang yang memiliki banyak ilmu, mendalami ilmu syariat,  berperilaku tasawuf (sufi), dan mampu mengamalkan semua ilmu-ilmunya. Itu adalah kiai di masa lalu, tapi sekarang tidak demikian. Kiai adalah julukan umum bagi semua orang yang menginginkannya. Bahkan jika kamu ingin dijuluki kiai, silakan, dan seketika itu kamu akan dijuluki kiai. Zaman sekarang sudah tidak ada (sulit ditemukan) kiai yang seperti itu yang sesuai dengan makna dan definisi aslinya.”

Baca Juga: Sukses Dengan Istiqamah

Kealiman Kiai Sahal berangkat dari perjalanan studinya mulai dari pendidikan bersama keluarga, khususnya kepada KH Abdullah Zein Salam yang juga paman beliau. Mengenyam ilmu di Madrasah Perguruan Islam Mathaliul Falah Kajen, Pesantren Sarang Rembang, Pesantren Bendo Kediri hingga ke Mekkah. Di usia muda inilah Kiai Sahal menulis banyak catatan hingga menjadi sebuah karya, seperti kitab Thariqatul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul (ushul fikih) dan Anwarul Bashair ‘ala Ta’liqat Asybah wan Nadhair (kaidah fikih).

Kiprah berorganisasi beliau di Nahdlatul Ulama mulai dari struktural bawah hingga menapaki pucuk kepemimpinan sebagai Rais Aam. Saat itulah banyak statement beliau yang dimunculkan dan bertebaran di ruang publik. Berikut di antara dawuh-dawuh mutiara yang pernah diutarakan oleh Kiai Sahal berangkat dari aqwal ulama terkemuka yang hidup pada era sebelumnya.

  1. Kebanyakan manusia paham betul akan kekurangan orang lain. Namun sebaliknya, ia tak tahu, bahkan abai pada keadaan dirinya sendiri.

Kalimat ini sebagai warning bagi siapapun yang suka mengungkit kesalahan orang lain, tetapi tidak menyadari kesalahan diri sendiri. Dalam khazanah turats, ada perkataan seorang sufi besar kenamaan bernama Syekh Haris Al-Muhasibi kelahiran Bashrah (wafat 243 H.) dalam karyanya “Adabunnufus” bab Introspeksi diri (muraja’ah an-nafs) yang berbunyi:

فَقَالَ إِن الانسان عِنْد معرفَة عيب نَفسه أبله وَعند معرفَة عيب غَيره جهبيذفيحتقر عيب اهل كل صناعَة وَأهل كل عمل من اعمال الدُّنْيَا والاخرة ويحتقر عيب من هُوَ فِي مثل مرتبته ويستعظم ذَلِك من كل من رَآهُ مِنْهُ فَإِذا اتى على عيب نَفسه جازه الى عيوبهم كَأَنَّهُ أعمى عَنهُ لم يره

“Sesungguhnya manusia dalam mengetahui aib dirinya sendiri sangat dungu, sedangkan untuk mengetahui aib orang lain amatlah jeli. Merasa sinis terhadap apapun yang dihasilkan oleh orang lain, semua pekerjaan duniawi dan ukhrawi pun ia jadikan sasaran kritik. Ia juga suka meremehkan pendapat orang lain yang kedudukannya selevel dengannya. Namun apabila kritikan tersebut datang kepada dirinya, ia berlagak seolah-olah pura-pura dan tidak terjadi apa-apa.”

Baca Juga: Ulama Mengajak Kita untuk Tertawa dengan Serius

2. Semua perkara semakin banyak semakin murah. Kecuali akhlakulkarimah. Semakin banyak semakin mahal harganya.

وقال نصر بن سيار كل شيء يبدو صغيرا ثم يكبر, إلا المصيبة فإنها تبدو كبيرة ثم تصغر. وكل شيء إذا كثر رخص, إلا الأدب فإنه إذا كثر غلا

Dalam karyanya, Abu Fadhl Ja’far bin Syams Al-Khilafa yang dijuluki Majid Malik (w. 622 H.) seorang penyair asal Mesir mengutip Nashr bin Sayyar yang berkata, “Semua perkara terlihat kecil kemudian membesar, kecuali musibah, semakin besar kemudian ia mengecil. Semua perkara yang banyak bisa menjadi murah, kecuali adab, ketika banyak maka menjadi sangat mahal.” (Al-Adab An-Nafi’ah bil Alfadh Al-Mukhtarah Al-Jamiah/1/hlm. 3)

3. Santri jangan sampai lupa dengan guru-gurunya, setiap selesai salat hendaknya mendoakan gurunya, minimal membacakan fatihah untuk beliau-beliau.

(والخامس) أن يعرف له حقه ولا ينسى له فضله وأن يدعو له مدة حياته وبعد مماته. ويراعي ذريته وأقاربه وأودائه. ويتعاهد زيارة قبره والإستغفار له والصدقة عنه. ويسلك في السمت والهدى مسلكه ويراعي في الدين والعلم عادته ويتأدب بأدابه ولا يدع الإقتداء به.

“Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya mengingatkan bahwa wajib bagi seorang santri untuk hormat kepada gurunya, mengingat seluruh jasa-jasanya serta berdoa kepada Allah untuk kebaikan mereka yang masih hidup dan yang sudah wafat. Menjaga nama baik keturunan, kerabat dan semua yang dikasihi guru-gurunya. Menziarahi kubur dan memintakan ampunan kepada beliau-beliau dan bersedekah. Berperilaku baik di pesantren, menjaga ajaran agama dan ilmu, berperilaku santun serta meneladani semua yang telah dicontohkan guru.” (Adabul Alim wal Muta’allim/hlm. 30-31)

Baca Juga: Cara Gus Mus Menghormati Perempuan

4. Menjadi baik itu mudah, dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi bermanfaat, karena itu butuh perjuangan.

وقال عليه السلام أفضل الناس المؤمن العالم الذي إن احتيج إليه نفع وإن استغنى عنه أغنى نفسه

Nabi saw bersabda, “Keutamaan seorang mukmin yang alim ialah saat ia dibutuhkan maka ia berguna. Ketika ia tidak dibutuhkan maka ia tetap dapat memberi manfaat kepada dirinya sendiri.” (HR. Baihaqi, Syu’abul Iman/3/hlm. 235)

Syekh Murtadla Az-Zabidi dalam kitabnya menuturkan bahwa hadis ini merupakan hadis mauquf yang disandarkan kepada perkataan (atsar) sahabat Abu Darda’ dengan status hadis yang lemah. (Ittihafussadah Al-Muttaqin bi Syarh Ihya’ ulumiddin/1/hlm. 109)

Kiai Sahal mengajari kita bahwa seseorang harus berjuang dan kerja keras saat ia memutuskan untuk menjadi orang yang bermanfaat, tidak hanya diam saja atau bicara tanpa bertindak. Namun demikian, untuk menjadi manusia yang selamat dan aman dari segala fitnah maka cukup dengan berdiam diri, tidak usah turut melakukan hal-hal yang tidak berfaidah. Wallahu a’lam.

Profil Penulis
Muhammad Ilham Fikron
Muhammad Ilham Fikron
Penulis Tsaqafah.id
Alumnus Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) dan Alumnus Ma'had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Kajen Pati. Sahalian (Santri Mbah Sahal)

1 Artikel

SELENGKAPNYA