Sukses Dengan Istiqamah

Sukses Dengan Istiqamah

29 Agustus 2021
232 dilihat
3 menits, 54 detik

Tsaqafah.id Kaum Muslimin tentu sepakat dan meyakini bahwa Nabi Muhammad Saw sebagai figur panutan. Karena di dalam sosok dan perangai yang ditunjukkan membenarkan akan hal tersebut. Bahkan tidak semata diakui orang islam, berbagai kalangan termasuk non-Muslim juga membuktikannya.

Apa yang menjadikan beliau adalah pribadi yang layak diteladani? Salah satunya yaitu konsisten atau istiqamah, ajeg serta rutin. Sifat ini yang oleh sebagian kalangan disebutkan sebagai nilai yang layak dicontoh agar sukses dalam menjalani hidup.

Terkait hal ini, ada rumus dasar dalam psikologi atau kejiwaan bahwa mereka yang selalu berupaya istiqamah akan meraih keberhasilan. Bahwa siapa yang dalam kesehariannya menjaga sifat konsisten, maka dapat diyakini bahwa yang bersangkutan akan lebih fokus dalam menjalani profesi yang digeluti.

Dalam praktiknya, mereka yang konsisten tidak akan mudah bosan dengan yang ditekuni lantaran fokus. Karena apalah artinya mereka yang memiliki kepandaian tinggi namun dalam kesehariannya ternyata tidak fokus. Yang terjadi bisa sebaliknya, merampungkan tugas dengan aneka catatan.

Dalam sebuah kesempatan, saya dicurhati oleh seseorang yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Padahal yang bersangkutan telah dikaruniai anak dan tentu saja butuh pemasukan yang cukup untuk membiayai kehidupan harian.

Secara khusus, dia meminta saya agar berkenan mendoakan sekaligus bisa mengusahakan pekerjaan supaya dapat bertahan hidup. Karena kondisinya memang demikian, saya menghubungi salah seorang santri dari Korea agar bisa menerima tamu ini sebagai karyawan. Singkat cerita, akhirnya diterimalah sebagai pekerja di perusahaan sahabat saya ini, yang tugasnya adalah memisahkan kuningan perunggu dan besi.

Dalam perjalanannya, kesempatan mendapat pekerjaan tersebut ternyata tidak bisa dimanfaatkan secara baik. Sang tamu dalam sebuah pertemuan mengeluh bahwa pekerjaan yang diberikan sangatlah berat. Dia mengeluh tangannya melepuh lantaran pekerjaan memilah barang yang diperintahkan sang bos.

Mendapatkan curhatan tersebut, akhirnya saya bertanya kepada yang bersangkutan. Yakni memastikan jam berapa melaksanakan shalat Subuh, dan apa yang terjadi? Ternyata dia jarang bahkan kerap tidak shalat Shubuh, apalagi berjamaah.

Akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa orang ini tidak istiqamah. Hal tersebut sekaligus memantapkan keyakinan bahwa siapa saja yang tidak konsisten, maka sangat berat bisa melaksanakan pekerjaan dengan amanah.

Baca juga: Sampai Di Tahap Mana Kita Meneladani Akhlak Nabi Muhammad Saw?

Padahal Rasulullah Saw selalu menjalankan perintah Allah Swt dengan konsisten, sehingga ini menjadi salah satu akhlak mulia yang dimiliki. Karenanya sifat ini sudah seharusnya dimiliki oleh setiap Muslim agar tidak mudah digoyahkan oleh tantangan dan rintangan dalam menjalankan ajaran Islam.

Bahwa hidup memang tidak akan sepi dari cobaan, tantangan, rintangan, bahkan ancaman. Justru sebagian kalangan menjadikan itu semua sebagai sarana untuk kian memperbaiki diri, mengukuhkan jiwa agar kian tegar dengan aneka tempaan. Dengan demikian, siapa saja pasti akan melewati perjalanan hidup dengan beragam hal yang sangat bergantung bagaimana menyikapinya.

Mereka yang telah membiasakan diri dengan hidup konsisten pasti tidak akan mudah mengeluh. Apa yang dipercayakan kepadanya yang ditambah kebulatan tekad menghadapi tantangan dengan kepala tegak, maka ujungnya akan menjadi jawara. Tidak akan didengar keluhan dan curhat, apalagi di media sosial terkait problematika yang dihadapi. Yang dilakukan justru mencari solusi agar seluruh permasalahan yang dihadapi dapat terurai dengan baik.

Memang apa yang disampaikan ini sangat mudah diucapkan, namun akan sulit dipraktekkan. Tetapi ada hal yang ingin saya ingatkan di kesempatan istimewa ini bahwa untuk menjadi insan tangguh, tidak bisa diraih secara instan. Bahwa ada banyak proses yang harus dilewati dengan tetap memastikan diri menjalankan perintah agama, sekaligus mencari makna dibalik itu semua.

Kalangan cerdik pandai kerap menjelaskan bahwa tidak ada perintah agama yang sia-sia, seluruh manfaatnya akan kembali kepada hamba yang tulus dalam menjalankan. Shalat misalnya, juga memberikan pesan bahwa selama lima kali sehari umat islam dirangsang untuk konsisten atau istiqamah. Menjadikan perintah bukan sebagai beban, malah berupaya menemukan pesan yang ada untuk dijadikan sarana merangsang kebaikan diri. Dan hal tersebut turut berlaku dari perintah agama lain.

Betapa banyak kita melakukan anjuran dalam beribadah dengan tidak mencoba menemukan makna yang tersirat. Ibadah hanya rutinitas tanpa makna, apalagi memiliki efek positif bagi kebaikan diri. Puasa, zakat, haji, dan sejenisnya terus dilaksanakan namun sepi dari ‘atsar atau pengaruh. Sehingga yang dirasakan semua sebagai beban dan semata seremonial.

Tidak salah, bahkan tepat kiranya kalimat hikmah yang disampaikan sejumlah kalangan yang mengemukakan bahwa kemuliaan atau karamah yang paling besar dan tinggi adalah menetapi akhlak istiqomah. Secara khusus, ada pula pesan yang disampaikan bahwa konsisten sebagai buah dari kekeramatan.

Perhatikan surat Hud ayat 112;

 فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ – ١١٢

Artinya: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Hal-hal seperti inilah yang kerap dilupakan sejumlah kalangan, termasuk umat islam dalam menjalani hidup. Apalagi mereka yang termasuk dalam kategori sebagai generasi muda yang tidak suka dengan proses, namun berharap hasil. Salah seorang pemikir islam pernah menjelaskan bahwa atthariqatu ahammu minal maadah, bahwa proses itu lebih penting dibandingkan hasil. Namun demikian, tidak ada hasil yang baik tanpa melewati proses yang berliku dan sarat ujian. Justru dengan tempaan itulah, yang diimbangi dengan ketabahan dan istiqamah akan menjanjikan akhir yang baik sesuai harapan.

Karena itu di ujung keterangan ini saya kembali mengingatkan sosok baginda Nabi Muhammad Saw  mampu menjadi pribadi yang digandrungi dan menginspirasi, tidak lain lantaran konsisten dalam menjalani segala perintah. Yakinlah bahwa kesuksesan dalam hidup bisa diraih kalau melandasinya dengan istiqomah. Karena itu, berusahalah untuk terus konsisten agar mendapat yang diharapkan.

*) KH. Agoes Ali Masyhuri, (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, Pengasuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo). Diterbitkan pertama di Majalah Aulia pada September 2020. Diterbitkan kembali dengan tujuan pendidikan.

Baca juga: Hikmah Membaca Sholawat Nabi dan Keutamaan Sholawat Jibril

Profil Penulis
tsaqafriend
tsaqafriend
Penulis Tsaqafah.id

21 Artikel

SELENGKAPNYA