Hikmah Membaca Sholawat Nabi dan Keutamaan Sholawat Jibril

Setiap Senin jari jemari Abu Lahab memancar air yang bening, Abu Lahab dapat meminum sekenyangnya. Pada malam Selasa airnya berhenti dan disiksa lagi, seterusnya seperti itu.

Tsaqafah.id – Membaca sholawat merupakan bentuk kecintaan kita kepada Nabi Muhammad saw yang merupakan nabi akhir zaman dan panutan umat Muslim. Selain itu, sholawat dapat menjadikan obat saat kita sedang sakit ataupun saat merasa memiliki beban hidup yang dirasa berat.

Gus Yusuf Chudlori sebagai pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang memberikan ceramah berjudul hikmah di balik membaca sholawat Nabi, asal mula adanya Sholawat Jibril, dan tentunya keutamaan membaca Sholawat Jibril.

Bagaimana penjelasannya? Mari kita simak ceramah Gus Yusuf Chudlori.

Gus Yusuf Chudlori menceritakan Abu Lahab saat sesudah meninggal. Selang beberapa waktu kemudian keluarga Abu Lahab ada yang bermimpi kelihatannya Abu Lahab itu menangis di pojok kuburan dengan sekujur tubuhnya penuh luka.

Keluarganya itu bertanya, “Ada apa bapak?”.

Abu Lahab menjawab, “Ini oleh-olehku dulu di dunia tidak percaya dengan Muhammad, oleh-olehku dulu di dunia memusuhi Nabi Muhammad, sekarang di dalam kubur yang saya terima hanya siksa dan siksa”.

Abu Lahab kemudian berkata, “Tapi aku masih lumayan, le”

Keluarganya itu bertanya kembali, “Lumayan gimana pak, disiksa kok lumayan?”

Abu Lahab menjawab, “Setiap Hari Senin saya mendapat keringanan bebas dari siksa kubur, mendapat minuman gratis”

Gus Yusuf menjelaskan karena setiap Senin jari jemari Abu Lahab memancar air yang bening, Abu Lahab dapat meminum sekenyangnya. Pada malam Selasa airnya berhenti dan disiksa lagi, seterusnya seperti itu.

Baca Juga: Sampai Di Tahap Mana Kita Meneladani Akhlak Nabi Muhammad Saw?

Keluarganya bertanya kembali, “Kok bisa seperti itu Bapak?”

Abu Lahab menjawab, “ Walaupun dulu saya enggak beriman, dulu memusuhi Nabi Muhammad, tetapi saya masih ingat waktu kelahirannya Nabi Muhammad saw., Hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal, Tahun Gajah, saya dulu ikut senang dan bahagia atas kelahirannya Nabi Muhammad. Bahkan saya juga ikut sedekah.”

Kemudian dalam ceramahnya Gus Yusuf juga menceritakan,  jutaan tahun yang lalu saat Nabi Adam a.s. dan Ibu Hawa masih berdiam di Surga, Nabi Adam ketika berjalan di sudut-sudut surga, di setiap tiang-tiang surga selalu melihat tulisan Allah di . . . . . . sebelah kanan dan Muhammad Rasulullah di sebelah kiri. Lantas saat itu timbul pertanyaan di dalam diri Nabi Adam, siapakah Muhammad itu? Sungguh sangat mulia derajatnya karena namanya bias bersanding dengan Allah. Kisah ini jauh sebelum Nabi Muhammad lahir, tetapi Nur (cahaya) Nabi Muhammad sudah memancar di Surga.

Saking penasarannya, akhirnya Nabi Adam bertanya kepada Allah, “Allah, Muhammad itu Siapa? Kok mulia sekali?”

Allah menjawab, “Adam, kamu tidak boleh cemburu, Muhammad itu kekasihku, Muhammad adalah calon nabi akhiruzzaman”.

Kemudian Ibu Hawa mendengar dawuh (perkataan) Allah yang mengatakan Muhammad itu kekasihku, maka ketika Nabi Adam melamar Ibu Hawa, Ibu Hawa meminta syarat dengan mengatakan, “Saya mau dinikahi asal ada mahar”.

Nabi Adam menjawab, “Maharnya apa? Mau minta berlian, mas permata?”.

Ibu Hawa menjawab dengan tegas, “Tidak, saya cukup beri mahar dengan bacaan sholawat untuk kekasih Allah”.

Baca Juga: Mengapa Kita Bershalawat?

Lantas Nabi Adam berpikir, sholawat itu seperti apa? Bagaimana bunyinya?, mau bertanya saat itu tidak ada manusia lain, bertanya kepada Allah tidak berani. Akhirnya Nabi Adam bertanya kepada Malaikat Jibril. “Ya Jibril, ajarilah aku untuk membaca sholawat kepada kekasih Allah” dan Jibril berkata “Adam bacalah Sholallahu ala Muhammad”.

Gus Yusuf Chudlori menjelaskan bahwa Sholawat Jibril adalah sholawat tertua, induk dari segala sholawat. Sholawat ini yang pertama kali dibaca oleh Malaikat Jibril, kemudian Nabi Adam dibaca di surganya Allah. Gus Yusuf pun mengatakan “Maka barangsiapa istiqamah membaca Sholallahu ala Muhammad, syukur bisa 1000 kali dalam sehari maka akan mendapatkan berkah, dimudahkan segala urusannya, dimudahkan rezekinya, dan yang sedang belajar juga dimudahkan dengan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.”

Gus Yusuf Chudlori juga memaparkan dawuh (perkataan) Nabi Muhammad saw.,  yaitu Seumpama ada orang dihari kiamat itu membawa amal baik saat di dunia, seperti saya itu ahli dalam berjama’ah, saya ahli dalam bershodaqoh, saya itu ahli dalam berbuat kebaikan-kebaikan. Walaupun amal ibadahnya selama di dunia baik semua, tetapi tidak mau membaca sholawat, maka akan ditolak dan tidak diterima oleh Allah swt.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Santri, Literasi, dan Spirit Iqra Nabi

Next Article

Penutupan #NyantriKilat: Bulan Ramadhan itu Madrasah dan Kurikulumnya Adalah Al-Qur’an

Related Posts