Mengapa Kita Bershalawat?

Banyak orang yang tidak hafal Qur’an tapi di dalam kuburnya kok masih pada utuh (jasadnya)? Ternyata itu orang-orang ahli shalawat kepada Nabi Muhammad.

Tsaqafah.id – Seperti yang kita tahu ada banyak fadhilah shalawat jika kita membacanya. Sebegitu pentingnya peran shalawat dalam hidup kita. Shalat kita menjadi tidak sah tanpanya. Harapan di dalam doa-doa kita hampir tiada artinya tanpa shalawat. Di antara sarana supaya hajat kita kesampaian yaitu dengan memperbanyak shalawat. Sebelum berdoa kita biasanya juga membaca shalawat, hal ini dimaksudkan melalui wasilah Rasulullah doa kita akan mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

Shalawat ini termasuk ibadah yang amat sangat mudah bagi kita untuk melakukannya. Kita tidak perlu bersuci dahulu sebelumnya, kita tidak terpaku pada gerakan dan ucapan tertentu seperti saat shalat. Kita tidak perlu banyak harta seperti saat kita mau berzakat. Kita juga tidak perlu menahan diri dari makan dan minum seperti saat berpuasa dan kita pun tidak perlu menggunakan pakaian khusus seperti saat ihram haji.

Dalam Kitab Riyadussholihin, ada sebuah hadis, diterangkan bahwa dengan kita bershalawat kepada Rasulullah kita akan mendapat faedah yang, pertama Malaikat Jibril akan menggiring tangan kita untuk dimasukkan ke surga. Kedua, barangsiapa yang senang membaca shalawat Malaikat Mikail akan memberikan air dari telaga Al-Kautsar.

Ketiga, barangsiapa yang senang membaca shalawat, maka dia akan mendapatkan ampunan dari Allah dengan memohonkan ampun adalah Malaikat Isrofil yang mana Malaikat Isrofil akan sujud dan tidak akan bangun sebelum umat Nabi Muhammad yang membaca shalawat diampuni dosanya oleh Allah SWT. Keempat, barangsiapa yang senang membaca shalawat, maka Malaikat Izroil akan mencabut nyawanya dengan cabutan yang sehalus-halusnya.

Guru kita, Habib Luthfi bin Yahya, pernah dawuh “Mboten apal Qur’an niku katah, ning neng njeru kubur e kok iseh podo utuh? Ternyata nopo? Niku tiyang min ahli shalat ‘ala nabiyyu shollallahu ‘alaihi wa salam”.

Baca Juga: Sampai Di Tahap Mana Kita Meneladani Akhlak Nabi Muhammad Saw?

Banyak orang yang tidak hafal Qur’an tapi di dalam kuburnya kok masih pada utuh (jasadnya)? Ternyata itu orang-orang ahli shalawat kepada . . . . . . Nabi Muhammad.

Dawuh e Kanjeng Nabi ngoten,

“ Sopo wong e moco shalawat marang ingsun sepisan, Allah Ta’ala maringi (rahmat) sepuluh.

Sopo wong e moco shalawat marang ingsun sepuluh, Allah Ta’ala maringi seratus.

Sopo wong e moco shalawat marang ingsun seratus, Allah Ta’ala maringi (rahmat) sewu.

Sopo wong e sing moco shalawat marang ingsun sewu, haram jasad e mlebu neraka ”

“Alam kubur itu kan belum ada apa-apanya dibanding neraka. Kalau di dalam kuburnya masih pada utuh yaa tidak mustahil, itu orang ahli shalawat kepada Rasulullah” lanjut beliau.

Di samping fadhilah shalawat yang sangat luar biasa, sebetulnya terdapat filosofi teologis, filosofi akidah dari shalawat itu sendiri. Hal ini dijelaskan di syarah kitab Ihya Ulumuddin,  namanya kitab Ithaf Sadah Al-Muttaqin karya Sayyid Murtadha Az Zabidi.

Baca Juga: Peringatan Maulid Nabi, Sarana Berukhuwah dengan CInta

Dalam Kitab Ithaf dijelaskan bahwa barokahnya shalawat akan menjaga umat ini sampai hari kiamat dan tidak akan salah memperlakukan Nabi. Bukti kalau kita mahabbah (cinta) Nabi adalah kita membaca shalawat. Membaca shalawat juga jelas kita bukan melecehkan Rasulullah.

Kemudian posisi Tuhan jelas, mana Tuhan mana Muhammad, Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad. Allahumma adalah pemberi, dan Muhammad apapun hebatnya adalah penerima.

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad

“Saya mohon Ya Allah, Engkau pemberi, berilah shalawat Engkau kepada Muhammad”

Jadi jelas siapa Tuhan siapa Nabi. Artinya kita, sebagai umatnya Nabi, tidak mungkin menuhankan Muhammad karena barokahnya shalawat. Kita membaca shalawat itu bukti ta’dzim kepada Rasulullah. Begitu berhaknya Rasulullah mendapat shalawat dari Allah.

Membaca shalawat juga bukti tauhid secara proporsional. Nabi Muhammad apapun hebatnya beliau tidak akan menjadi Tuhan, karena kita mengatakan “Ya Allah beri shalawat kepada Nabi Muhammad”, yang berarti Allah pemberi (Tuhan), Rasulullah apapun hebatnya menjadi objek yang diberi (shalawat oleh Allah Ta’alaa).

Sehingga tauhid kita insyaAllah akan selalu terjaga, semoga kelak kita mendapat syafaat dari Rasulullah dan diakui sebagai umatnya. Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad~

Total
0
Shares
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Perempuan Dalam Balutan Negeri Padang Pasir

Next Article

Syed Hossein Nasr, Orang Tersingkir dan Arus Balik Filsafat Islam

Related Posts