Menghidupkan Kembali Tsaqafah Islam untuk Generasi Muda

Menghidupkan Kembali Tsaqafah Islam untuk Generasi Muda

10 Agustus 2025
225 dilihat
2 menits, 48 detik

Di tengah arus informasi yang tak terkendali, kita melihat tidak sedikit pemuda Muslim yang mulai kehilangan arah dan jati diri. Mereka dengan mudah menyebutkan tren terkini, tetapi gelagapan saat ditanya jati diri. Mudah takjub pada budaya luar yang non-Islami, tetapi asing terhadap sejarah sendiri. Krisis identitas pemuda bukan semata krisis ilmu saja, melainkan juga krisis tsaqafah Islam, yakni keilmuan Islam yang seharusnya menjadi fondasi utama cara pandang dan respons kehidupan bagi pemuda.

Saat ini, istilah tsaqafah terdengar asing di telinga sebagian pemuda. Padahal, di dalam peradaban Islam, tsaqafah bukan berarti hanya “pengetahuan” atau “budaya”, tetapi juga mencakup seluruh konstruksi bangunan pemikiran Islam. Mulai dari akidah, syariah, hingga cara Islam memandang manusia, alam semesta, dan kehidupan. Tsaqafah Islam membentuk kita untuk dapat menilai baik dan buruk, benar dan salah, bukan lagi berdasarkan pada hawa nafsu atau hanya sekadar mengikuti arus mayoritas, tetapi semuanya didasarkan pada wahyu Allah dan teladan Nabi Muhammad.

Ketika tsaqafah Islam tak lagi menjadi panduan utama hidup para pemuda, akan menyebabkan kehidupan para pemuda kosong akan makna. Pemuda menjadi lebih mudah tergiring oleh opini publik, pencitraan di dunia maya, dan gaya hidup yang serba cepat. Mereka merasa harus menjadi “populer” atau sekadar “viral” sebagai validasi agar diterima. Inilah wajah krisis identitas yang sedikit demi sedikit ternyata tanpa terasa menggerus harga diri generasi muda Muslim.

Penyebabnya tentu tidak tunggal. Sistem pendidikan formal saat ini cenderung sekuler dan tidak menanamkan tsaqafah Islam secara mendalam. Kurikulum lebih menekankan keterampilan kerja daripada pembentukan karakter Islam. Selain itu, media sosial dipenuhi oleh suguhan konten yang meninabobokan para pemuda. Hiburan yang kosong makna, selebriti yang minim kontribusi, dan diskusi tanpa kejelasan nilai maupun arti.

Baca juga: Membangun Ulang Peradaban: Tantangan dan Peran Pemuda Islam

Di tengah kondisi seperti ini, menghidupkan kembali tsaqafah Islam bukan hanya opsional, tetapi menjadi kebutuhan yang mendesak. Generasi muda harus dihubungkan kembali dengan akar keilmuannya. Kita harus kembali memperkenalkan pemuda kepada kekayaan khazanah Islam, bukan hanya dari sisi hukum atau ritual saja, tetapi juga sejarah peradaban, kontribusi ilmu sains dan teknologi, dan pandangan hidup yang menyeluruh.

Literasi merupakan langkah awal. Berbagai referensi tsaqafah Islam harus kembali kita jadikan makanan harian, bukan hanya sekadar quotes yang bertebaran Instagram. Membaca biografi tokoh-tokoh seperti Salahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih, akan membuka mata pemuda bahwa mereka lahir dari tradisi keilmuan yang besar dan berakar keimanan.

Namun membaca saja tentu tidaklah cukup. Tsaqafah perlu dihidupkan melalui interaksi langsung dalam majelis ilmu, halaqah, atau komunitas dakwah yang konsisten menyebarkan tsaqafah Islam dengan pendekatan yang relevan. Di sini, pemuda dapat kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, bahkan memberikan kritik, tentu dalam bingkai adab dan pencarian makna sejati, bukan debat kusir.

Tak kalah penting, tsaqafah juga perlu memanfaatkan sarana-sarana yang tersedia di zaman ini. Media sosial tidak harus ditinggalkan, tapi justru dapat digunakan sebagai sarana untuk berdakwah. Pemuda bisa membuat podcast bertema tsaqafah Islam, konten video pendek penuh hikmah, atau menulis thread yang menjelaskan konsep Islam secara ringan dan tajam. Saat tsaqafah Islam dibuat tampil menarik dan menyentuh realitas, tentu akan mudah merasuk ke hati generasi hari ini.

Namun, semua itu bukanlah sebuah proses yang instan. Menghidupkan tsaqafah Islam bukanlah pekerjaan kilat satu hari bahkan satu malam. Namun, kita harus memulainya segera, karena tanpa tsaqafah, pemuda kehilangan cahayanya, dan tanpa pemuda, umat kehilangan masa depannya.

Ingat, Islam turun bukan hanya untuk orang Arab abad ke-7 saja, tetapi untuk seluruh umat manusia di seluruh penjuru dunia. Islam juga menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin). Rahmat itu tidak akan menyebar jika generasi muda tidak punya bekal ilmunya, tidak memahami Islam dengan benar sebagai panduan hidupnya, dan tidak bangga dengan jati dirinya.

Oleh karena itu, mari menjadi bagian dari kebangkitan itu. Kita hidup di era yang penuh dengan kebisingan, tetapi suara tsaqafah Islam harus tetap penuh dengan kejernihan. Kita hidup di masa krisis multi dimensi, tapi tsaqafah Islam selalu menawarkan solusi. Jadilah pemuda yang bukan sekadar mengikuti zaman, tetapi membentuk zaman, dengan cahaya tsaqafah Islam. Wallahu a’lam bishawab.

Profil Penulis
Andrian Permana
Andrian Permana
Penulis Tsaqafah.id
Andrian Permana, lahir di Bogor. Saat ini sedang menempuh studi PhD Mechanical Engineering di King Fahd University of Petroleum & Minerals (KFUPM), Saudi Arabia. Minat/kajian di bidang Pendidikan, Sains, Teknologi, Pemuda, Kisah Inspiratif, dan Peradaban Islam.

2 Artikel

SELENGKAPNYA