Menjumpai Seorang Mualaf yang Sedekah Mushaf al-Qur’an

Menjumpai Seorang Mualaf yang Sedekah Mushaf al-Qur’an

24 Januari 2022
128 dilihat
1 menit, 59 detik

Tsaqafah.id – Pada sebuah sore, saat saya hendak mengantri setoran di pesantren, seorang teman memberitahu kalau ada seorang mualaf yang ingin mewakafkan al-Qur’an. Jumlahnya tidak sedikit, mushaf al-Qur’an itu ditaruh dalam sekardus besar.

Usai menerima kabar itu, saya menilik kardus tersebut dan mendapati tiga puluh al-Qur’an cetakan Menara Kudus dengan tiga jenis cetakan; al-Qur’an berukuran kecil, al-Qur’an besar dan al-Qur’an Wanita.

Setelah menerima kardus berisi al-Qur’an itu, terbesit pikiran kecil; jumlah mushaf al-Qur’an di pesantren bisa dibilang tak kurang, apalagi di pesantren al-Qur’an. Banyak al-Qur’an dengan beragam bentuk tertata rapih dalam bilik-bilik pesantren.

Pikiran itu hanya sekelebat melintas sebelum saya tersadar jika sekardus al-Qur’an ini merupakan sebuah amanah dari seorang yang baru saja menyatakan diri sebagai seorang muslim. Lantas, sekardus al-Qur’an tersebut saya bagikan bersama teman-teman ke komplek-komplek di pesantren.

Peristiwa ini mengajarkan tiga hal, pertama, betapa masih banyak muslim baik dan banyaknya jalan mencari ridho Allah swt, seperti melalui wakaf al-Qur’an di lingkungan yang dikenal dekat dengan al-Qur’an. Keyakinan kita mengatakan jika nilai dari amal shalih tersebut adalah amal jariyah.

Kedua, pemilihan tiga jenis cetakan al-Qur’an yang berbeda-beda, saya kira merupakan bagian dari inisiatif muwakif agar al-Qur’an tersebut bisa diterima oleh santri dengan senang hati sesuai dengan selera mereka dalam memegang jenis, bentuk dan ukuran tertentu dari cetakan al-Qur’an.

Baca Juga: Mukjizat dalam Al-Qur’an (4): Umar bin Khattab Memeluk Islam

Ketiga, modern ini, satu penerbit tidak hanya memproduksi satu jenis mushaf belaka, seperti yang terjadi di medio tahun 1980-2000-an. Kini satu penerbit bisa memproduksi tiga bahkan lebih model Mushaf al-Qur’an. Bahkan, tempo hari, penerbitan al-Qur’an sudah banyak diproduksi secara “indie”. Penerbitan mushaf indie ini penulis temui beredar di banyak lembaga pendidikan, baik yang berafiliasi dengan pesantren maupun Sekolah Islam. Jenis mushaf yang mereka pakai biasanya Mushaf Rasm ‘Usmani atau Qur’an Pojok tapi tidak dalam bentuk Qur’an utuh, melainkan per-satu juz-an.

Fenomena ini memperlihatkan betapa bentuk fisik mushaf al-Qur’an masih menjadi bentuk favorit dari kebanyakan komunitas Islam. Dengan kata lain, membaca al-Qur’an dari cetakan fisiknya (mushaf) memberikan kekuatan dan rasa keterikatan tersendiri yang tidak bisa diberikan oleh al-Qur’an digital.

Mushaf (jama’ masahif) secara bahasa berarti kitab atau buku (Kamus Al Munawwir). Secara istilah, dalam percakapan sehari-hari, kata mushaf lazimnya dimengerti sebagai kitab suci al-Qur’an, sehingga sering disebut sebagai al-mushaf al-syarif yang berarti al-Qur’an yang mulia.

Zaman digital memang sempat mengubah lanskap dalam melihat bentuk fisik buku, koran, majalah dan lebih-lebih al-Qur’an. Media cetak misalnya memperbarui platform mereka menjadi media online. Sama halnya dengan al-Qur’an, di medio 2010-an muncul beragam jenis al-Qur’an digital, seperti Qur’an Android, Mushaf Madinah Digital (MMD), Audio al-Qur’an, al-Qur’an in-microsoft.

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
Kolumnis, Alumni Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga dan Santri PP Al Munawwir Krapyak.

29 Artikel

SELENGKAPNYA