Menunda Pembayaran Hutang, Begini Aturannya dalam Hadis

Tsaqafah.id – Hutang merupakan fenomena sosial yang selalu ada di setiap lapisan masyarakat. Hutang dan piutang ini, sedikit banyak mempengaruhi harmonisasi antara pihak yang menghutangi (kreditor) dan pihak yang berhutang (debitor).

Apabila anda sering menonton sinetron-sinetron di televisi, terkadang ditemukan narasi seseorang terlilit hutang dan menumpuk. Narasi yang lalu berlanjut pada; sikap saling bermusuhan, tersitanya barang-barang rumah hingga rumah disegel, putri daripada debitor harus menikah dengan kreditor atau harus boleh digauli (hubungan intim), bahkan bisa berujung kepada pembunuhan.

Contoh-contoh tersebut merupakan dampak buruknya dalam persoalan hutang-piutang, yang bisa saja si debitor tidak mampu membayar hutang atau sengaja tidak membayar hutang yang sudah jatuh tempo kepada kreditor.

Tapi dalam hal ini bukan berarti hutang-piutang tidak diperbolehkan dalam konteks agama dan juga budaya. Karena di dalamnya juga tersimpan sisi positifnya, yaitu menjalin kasih sesama manusia yang saling membutuhkan dan saling membantu dalam hal kebaikan.

Sebagaimana Q.S. al-Maidah [5]: 2 yang memiliki substansi saling membantu (ta’awun) untuk orang-orang yang membutuhkan, terutama dalam masalah kebaikan (al-birr) antar sesama manusia sangatlah dianjurkan.

Hamka dalam tafsirnya, Al-Azhar (Vol.3, 1989: 1599 & 1601), menjelaskan maksud daripada ayat di atas dengan menegaskan bahwa Allah memberi peringatan dan anjuran untuk hidup saling tolong menolong dalam hal kebajikan. Seperti halnya mengeluarkan harta untuk pekerjaan yang mulia, memelihara anak yatim, dan menolong fakir miskin.

Baca Juga: Menyikapi Mode Jilbab Anak dan Nafas Islam yang Segar

Diperintahkan untuk hidup saling menolong dalam membina al-birru, yaitu segala hal yang baik dan berfaedah dengan sandaran taqwa, yaitu mempererat hubungan dengan Tuhan. Serta melarang adanya bentuk kerjasama dalam hal berbuat dosa, menimbulkan permusuhan, dan menyakiti perasaan manusia.

Mengharmonisasikan hubungan antar sesama manusia, memiliki banyak cara, salah satunya menolong orang yang tidak mampu melalui pinjaman dengan syarat-syarat sah-terimanya antara muqridh (kreditor) dan muqtaridh (debitor). Hanya saja, perlu kehati-hatian untuk melakukan . . . . . . sistem muamalah terkait masalah hutang-piutang.

Amin Suma mencatat (2001: 4-6), bahwa surat dan ayat dalam Alquran yang terpanjang ditempati oleh QS al-Baqarah [2]: 8. Ayat ini mendapat julukan sebagai ayat al-mudayanah atau al-dayn yang sarat dengan berbagai aturan terutama tentang perintah penulisan pada transaksi ekonomi secara kredit (hutang-piutang).

Hadis Tentang Menunda Pembayaran Hutang

Sahih Bukhari:

حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مطل الغني ظلم فإذا أتبع أحدكم على ملي فليتبع [ ص: 542 ]

Kami telah diceritakan oleh Abdullah bin Yusuf, diberi kabar oleh Malik, dari Abi al-Zinad, dari al-A’raj, dari Abi Hurairah r.a: sesungguhnya Rasulullah saw berkata: penundaan pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang yang kaya/mampu adalah kezaliman. Apabila seseorang diantara kalian (utangnya) dipindahkan kepada orang yang kaya, maka hendaknya dia mengikuti

Baca Juga: Pandangan Gus Baha terkait Seruan Jihad dalam Azan

Sahih Muslim:

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى ، قَالَ : قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنِ الْأَعْرَجِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ ، وَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيءٍ فَلْيَتْبَعْ

Terdapat dua poin mengenai penundaan pembayaran hutang:

Yang pertama, seseorang yang sengaja menunda pembayaran hutangnya sedangkan ia mampu membayarnya, maka ia termasuk orang yang zalim. Hal ini dilarang oleh agama Islam.

Yang kedua, seseorang yang sengaja menunda pembayaran hutangnya sedangkan ia memang tidak mampu membayarnya, maka terdapat dua opsi: 1) apabila yang menghutangi tidak mempermasalahkannya dan ikhlas menerimanya, maka sah-sah saja selagi yang dihutangi masih hidup. 2) apabila yang menghutangi memang membutuhkan uang daripada seseorang yang sudah dihutangi, maka wajib bagi yang dihutangi mencari pengganti pembayaran hutangnya (hiwalah). Hal ini juga berlaku bagi mereka yang meninggal dalam keadaan masih mempunyai hutang.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Pandangan Gus Baha terkait Seruan Jihad dalam Azan

Next Article

Membaca Redaksi Azan “Hayya alal Jihad” Melalui Kacamata Fikih

Related Posts