Menyikapi Bencana Alam Secara Bijak

Menurut shulthanul auliya, pemimpin para wali Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, beliau mengungkapkan bahwa bencana tidak datang sebagai azab bagi orang mukmin. Namun sebagai bentuk cobaan.

Tsaqafah.id – Beberapa hari terakhir ini kita semakin ramai menanyakan tanda-tanda hari akhir pada para alim. Bencana yang datang silih berganti kembali menguji bangsa ini. Setelah Gunung Merapi kembali erupsi pertama pada Minggu (21/6/2020), tercatat selama 2020 sudah 10 kali terjadi erupsi. Sebelum letusan Merapi informasi banjir di Banyumas, Jawa Tengah pada Mei 2020 lalu juga meramaikan kanal-kanal pemberitaan kita. 

Setelah dari Jawa Tengah, kita mendengar kabar dari Kalimantan Selatan yang baru saja diterjang banjir bandang pada pertengahan Januari lalu. Selain Kalimantan, Sulawesi Utara juga dilanda banjir pada waktu yang hampir bersamaan. Lalu kita bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini bencana alam melanda bangsa kita di waktu yang hampir bersamaan, apakah ini memang sudah memasuki akhir zaman?

Sudah terbiasa kita menyebut semua peristiwa di atas sebagai bencana alam karena mengganggu kestabilan yang dirasakan manusia. Dalam Islam kita meyakini bahwa semua yang ada di Bumi dan seluruh alam semesta terjadi karena kehendak Allah Swt, Dialah Maha Berkehendak atas segala sesuatu (Iradah).

Akan tetapi disisi lain Allah Swt telah menghendaki tugas manusia sebagai pemimpin di bumi (khalifah fil ardh). Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah:30, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Baca Juga: Mengapa Kita Bershalawat? 

Menurut shulthanul auliya, pemimpin para wali Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, beliau mengungkapkan bahwa bencana tidak datang sebagai azab bagi orang mukmin. Namun sebagai bentuk cobaan. Bencana tersebut dimaksudkan untuk menguji orang mukmin, apakah dengan ujian tersebut keimanannya akan tetap terjaga, bertambah, atau justru menghilang.

Hal itu karena ketika ditimpa ujian manusia sering mengalami keputusasaan, frustasi dan tidak percaya akan nikmat Tuhan. Sebagai seorang muslim situasi di atas tidak pantas terjadi. Selayaknya kita dapat berintropeksi diri dari kejadian-kejadian yang menimpa. Mencari titik kesalahan dan memperbaiki. Karena bisa jadi musibah disebabkan oleh keteledoran manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan, menebang hutan sembarangan, kerusakan sumber daya alam baik yang di darat, laut, atau yang menimpa pada flora dan fauna.

Dalam dunia penelitian telah banyak diungkap bahwa bencana alam tidak datang secara serta merta, tetapi juga ada faktor-faktor yang menyebabkannya. Seperti penebangan dan pembakaran hutan yang dilakukan secara serampangan, alih fungsi lahan yang kurang memperhatikan lingkungan, serta penambangan yang dilakukan secara besar-besaran dan mengabaikan kelangsungan alam.

Baca Juga: Sikap Wajar atas Menstruasi yang Diajarkan Rasulullah SAW

Setelah mengetahui dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bahwa  bencana alam yang menimpa umat mukmin dimaksudkan sebagai cobaan, kita menjadi tahu. Bahwa sebagai pemimpin di bumi, manusia harus selalu berintropeksi dan sama-sama menyadari serta peduli akan kesehatan lingkungan. Bagaimanapun kerusakan lingkungan yang diperbuat oleh manusia akan berdampak pada ekologi lingkungan sekitar.

Sebagai umat muslim hendaknya kita selalu bermuhasabah, berintropeksi dan mencari tahu kemaksiatan diri dimana seringkali kita abai dan  tidak peduli pada lingkungan alam sekitar, dari yang terdekat dengan kita misalnya. Sehingga bencana datang tidak hanya sebagai musibah namun juga sebagai cobaan. Jika cobaan itu dapat dilewati dengan baik yaitu dengan memperbaiki perilaku pada alam, menjaga kelestarian alam, tidak bermaksiat pada lingkungan, kita berdoa semoga Allah Swt menjaga bumi kita sehingga tetap lestari untuk generasi mendatang. Aamiin.

Reference:

Renungan Sufi Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, edisi terjemahan dari Al-Fath ar-Rabbani wa al-Faydl ar-Rahmani. Pustaka Al-Furqan. Yogyakarta: 2007. 

Total
0
Shares
Previous Article

Sikap Wajar atas Menstruasi yang Diajarkan Rasulullah SAW

Next Article

Tercabutnya Ilmu Melalui Wafatnya Para Ulama

Related Posts