Nawaning Nusantara Dorong Gerakan Anti Kekerasan Seksual di Pesantren

Nawaning Nusantara Dorong Gerakan Anti Kekerasan Seksual di Pesantren

14 Juli 2025
197 dilihat
1 menit, 27 detik

Sebagai upaya memberantas kekerasan seksual (KS) di lingkungan pesantren, Nawaning Nusantara mengadakan sebuah workshop dengan tema Penggerak Pesantren Bebas Kekerasan Seksual. Kegiatan ini menghadirkan dua fasilitator dan narasumber ahli, yaitu Hj. Alissa Qotrunnada Wahid, M.Sc. Psikologi, dan Dr. Maya Dina Rohmi Musfiroh, S.H.I., M.A., yang membekali ilmu kepada peserta selama dua hari penuh pada 9-10 Juli 2025 di Yogyakarta.

“Acara ini dihadiri oleh 41 nawaning dari Sumatera, Jawa, Madura, dan Lombok. Workshop ini diadakan untuk merespon situasi agar kita sebagai pengampu pesantren berbenah karena maraknya kasus kekerasan seksual di pesantren,” ungkap Nabilah Munsyarihah selaku ketua panitia.

Workshop ini dibuka dengan peneguhan komitmen untuk belajar bersama, mendorong peserta agar membuka diri dan siap membangun perubahan. Para peserta yang merupakan pemimpin perempuan muda pesantren kemudian diajak mengkaji sketsa pengalaman dan cerita seputar kasus kekerasan seksual, mengingat pesantren tercatat sebagai lokasi kedua terbanyak terjadinya kasus tersebut.

Para peserta diarahkan untuk membangun perspektif baru sebagai penggerak perubahan di lingkungan pesantren, dengan berfokus pada pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, peserta melakukan scenario thinking dengan mempertimbangkan apa yang mungkin terjadi dalam 5 hingga 10 tahun ke depan jika gerakan anti kekerasan seksual ini dijalankan maupun diabaikan.

Baca juga Menuju Halaqah Nasional II, Nawaning Jateng-DIY perkuat Silaturahim

“Karena kalau kita ingin mengubah situasi tidak bisa hanya dengan pengetahuan dan tidak cukup hanya dengan bekerja keras, tetapi juga harus bekerja cerdas,” Alissa Wahid menekankan.

Hj. Alissa Qotrunnada Wahid menyampaikan materi kepada Nawaning Nusantara

Selanjutnya, peserta melakukan analisis sosial mendalam terhadap pola dan tren kekerasan seksual di pesantren, termasuk pola amplifikasi yang memperparah situasi. Analisis ini juga menggali berbagai faktor penyebab tingginya kasus, seperti minimnya kebijakan yang memadai, budaya yang belum mendukung keterbukaan, serta ketiadaan kurikulum khusus tentang edukasi kekerasan seksual.

Dalam workshop ini, nawaning juga mendiskusikan pentingnya menciptakan ruang psikososial yang aman bagi santri untuk bercerita dan mendapatkan dukungan.

Workshop Nawaning Nusantara ini diharapkan menjadi titik awal gerakan perubahan nyata untuk menciptakan pesantren yang bebas dari kekerasan seksual, demi lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang para santri.

Profil Penulis
S. Afadha Izzah
S. Afadha Izzah
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA